
Seorang wanita berlari tergesa-gesa di sepanjang koridor. Mengabaikan sapaan karyawan, Bella terus berlari tanpa peduli tatapan aneh mereka.
Brakk
Membuka kasar pintu besar yang terlihat mewah itu, Bella melihat Alex ditemani seorang dokter dan juga Bean sedang terduduk lemas di atas sofa. Wajahnya sangat pucat, membuat Bella sangat khawatir.
Wanita itu langsung meninggalkan rapat pentingnya ketika mendapat telepon dari Bean jika suaminya sedang tidak baik. Pria itu berulang kali masuk ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.
Alex tersenyum senang melihat istri tercintanya sudah datang. Alex langsung menariknya agar duduk disebelahnya dan merengkuh pinggang rampingnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Bella panik, menatap dokter itu langsung.
"Tuan Marcel baik-baik saja, Mrs."
"Baik apanya! Wajahnya saja sepucat ini." Bella tanpa sadar meninggikan suaranya. Dokter itu sedikit bergetar.
"Nona, sebenarnya andalah yang harus diperiksa." Bean bantu menjawab.
"Apa!"
Alex tersenyum senang, istrinya pasti terkejut. "Bebe, dia bilang kau mungkin sedang hamil. Dan aku sedang mengalami morning sickness, Bebe."
"Apa!" Semakin terkejut Bella dibuatnya. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih agak datar, namun sedikit menonjol. Ada sedikit kebahagiaan dalam dirinya, namun tidak ingin terlalu berharap.
"Benar, Mrs ... Tuan sedang mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Sindrom ini ada karena adanya rasa simpati atau peduli yang kuat kepada pasangan yang sedang mengandung."
"Rasa cemas kepada pasangan berubah menjadi simpati, lalu ikut mengalami gejala selayaknya yang dialami pasangan saat hamil, yakni mual, muntah, perubahan pola makan, kaki kram, nyeri punggung, hingga naik dan turunnya berat badan."
"Tidak hanya gejala fisik, gejala psikologis juga kerap dialami seperti rasa cemas, depresi, sulit tidur, gelisah, hingga perubahan keinginan melakukan hubungan **** atau libido yang naik turun."
Bella meringis mendengar bagian akhirnya. Saat dalam keadaan normal saja Alex udah sangat gila menggempurnya, bagaimana dalam keadaan sekarang?
Bella mulai mengingat kembali kapan terakhir kali tamu bulanannya datang. Dia terlalu sibuk hanya untuk memperhatikan datang bulannya, tapi Alex memang selalu mengambil jatah malamnya tanpa gangguan bercak merah.
Jika tidak salah ... sudah satu bulan ini dia tidak kedatangan tamu.
__ADS_1
"Kau dengar, Bebe. Sebaiknya kita periksa setelah aku selesai, aku akan cepat."
"Bagaimana jika tidak?"
"Semoga saja benar, Nona," ucap Bean lagi.
-
-
Dengan penuh keberanian, suami istri itu akhirnya pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bella untuk kedua kalinya dibuat gugup setengah mati hanya karena pasal bayi. Yang pertama ketika mengandung Jourell.
Bella sudah berbaring di atas ranjang pasien. Seorang dokter wanita sudah melapisi perutnya dengan gel. Ini bukan pertama kalinya, namun rasanya tetap saja gugup.
"Sudah terlihat." Dokter itu tersenyum menatap monitor.
"Mereka masih sebesar butiran beras." Menunjuk layar monitor.
"Jadi, istriku sungguh hamil?" tanya Alex senang seraya memperhatikan arah tunjuk dokter.
Thanks, God. batin suami istri itu.
"Terima kasih, Bebe. Aku mencintaimu, sangat." Menciumi seluruh wajah Bella, bahagia.
Mata Bella sedikit berkaca-kaca, bersyukur karena Tuhan masih memberinya kepercayaan. Dia berjanji akan selalu menghujani semua anak-anaknya kelak dengan banyak cinta tanpa syarat!
Namun, ada satu kata yang menurut Bella janggal. "Al, sudah cukup." Mendorong wajah Alex dari wajahnya.
"Apa maksud anda dengan 'mereka', dokter?" tanya Bella. Alex tidak menyadari karena terlalu gembira.
Dokter itu tersenyum lagi. "Selamat atas kehamilan bayi kembar, Mrs."
Sontak mata indah beriris coklat itu melebar. Kembar! Bagaimana bisa? Dia ingat betul jika dia tidak memiliki kerabat atau keluarga yang terlahir kembar, lalu darimana datangnya?
"Dua! Jadi aku akan punya dua?" Alex nampaknya tidak peduli, yang terpenting itu adalah anaknya, keturunannya bersama istri tercintanya.
__ADS_1
"Benar sekali, Tuan. Usia kandungan nyonya baru memasuki satu bulan, masih sangat muda. Harap berhati-hati lah setiap kali berhubungan dan jangan terlalu sering."
Bella seketika menahan tawa. Wajah ceria Alex langsung berubah tidak ramah, menatap dokter itu dengan sengit. Yang ditatap langsung bergetar takut. Tuan Marcel yang menyeramkan kembali lagi setelah membahas hal yang lebih intim.
Tak bisa dipungkiri jika Ibu satu anak itu sangat senang dengan kabar bahagia ini. Dan dua! Dia langsung diberikan dua. Wajar saja jika dia tidak menyadarinya, karena sekarang ... suaminya lah yang merasakan.
"Apa katamu ..." geram Alex sengit, menatap dokter yang ketakutan itu.
"Al, kau ingin melukai little baby?" Bella berusaha menenangkan wajah sengit itu.
"Mereka masih lemah, jadi harus dilakukan pelan-pelan dan tidak sering! Atau mereka akan kesakitan." Wajah Bella sedikit memerah ketika menjelaskan. Pria ini, hal seperti ini saja tidak mau mengalah!
Tatapan sengit Alex berubah memelas, beralih menatap istrinya. Menggeleng cepat, Alex menunduk memeluk perut Bella yang sudah dibersihkan dari gel.
"Aku mencintai mereka, Bebe. Tapi aku lebih mencintaimu," lirihnya.
Bella tersenyum sedih, mengusap kepalanya suaminya itu penuh sayang.
Thanks, Tuhan. Terima kasih karena memberikan kebahagiaan yang penuh cinta ini.
Dokter wanita itu menjauh dari dua manusia itu. Meski sempat terkejut dengan reaksi tiba-tiba Alex, namun nyonya muda Ramona itu bisa mengatasinya.
Dia menatap iri pasangan itu. Siapa sangka seorang Marcelio yang terkenal dingin dan kejam itu bisa begitu lembut pada wanitanya. Entah bagaimana caranya mereka bersama, pada kenyataannya Bella telah berhasil menaklukan pria berhati dingin itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Like
Komen
Rate
Vote kalo ada
Beri Hadiah
__ADS_1
Thanks karena selalu menantikan novel receh aku😍**