
"Panggil saja Baby Jo," koreksi Bella.
"Baby Jo." Bayi itu tersenyum lebar saat Quela menyebut namanya.
Quela senang bukan main, beginikah rasanya punya cicit? Tanpa pikir panjang, dia langsung meraih Baby Jo dari Selo dan menggendongnya. Bella dan Eillen hanya memperhatikan interaksi mereka tanpa suara. Setidaknya Quela sudah berubah, pikir mereka.
"Eomma, apa wartawan masih memburu kalian?" katanya pelan hampir berbisik.
"Yes! Rupanya mereka berpindah ke perusahaan. QA, Ramona, Englert tidak luput oleh mereka." Bella langsung terkekeh pelan.
Dia sedang membayangkan jika di tiga perusahaan itu sedang padat dengan puluhan wartawan didepan pintu masuk. Pasti merepotkan! Apalagi Alex adalah orang yang introvert, sudah jelas tidak akan suka hal ini. Begitulah wartawan, bagaimanapun itu adalah pekerjaan mereka. Mencari berita yang bisa menaikkan rating mereka.
"Nyalakan tv, Eomma." Bella mencari remote tv disekitarnya.
"Kau kan bisa menggunakan ponsel, kenapa seperti orang susah saja," gerutu Eillen sambil meraih remote di dalam laci nakas dan menekan tombol hingga terpampang jelas layar didepannya.
"Apa gunanya tv jika tidak digunakan!" cibir Bella.
"Oh my God ..." Bella memperhatikan layar tv yang menampilkan Alex dan Bean yang dihadang para wartawan yang berdesakan di pintu masuk.
Sangat jelas jika wajah Alex sangat dingin, menandakan jika dia sangat tidak nyaman. Untungnya ada banyak penjaga yang melindungi mereka. Bella beralih ke saluran lain, tidak jauh berbeda dengan kondisi perusahaan Ramona. Perusahaan QA tidak kalah banyak.
Bella hampir terbahak jika saja Eillen tidak menutup mulutnya. Bella bingung antara kasihan atau ingin tertawa. Pasalnya Monica yang memang emosional dan terlalu jujur itu membuat para wartawan terdiam. Terdiam karena tersinggung atau sadar diri, Bella tak tahu.
Sebenernya apa yang mereka inginkan? Mereka hanya berlari saat itu. Ya tuhan, jika hanya seperti itu, apa yang harus dikejar. Apa mereka ingin bertanya bagaimana caranya berlari berombongan? Yang benar saja.
"Ada apa, Kak?" Rupanya sejak tadi, interaksi keduanya diperhatikan oleh keluarga Victor.
Hans sendiri yang sudah curiga merasa sedikit yakin. Sejak awal dia mencoba menepis pemikiran jika Eillen adalah Hyurin. Tapi setelah melihat sifat Eillen yang sangat mirip juga cara berbicara dan mimik wajah, dia menjadi sangat yakin. Ditambah Bella yang begitu dekat dengannya.
__ADS_1
Apa mungkin jika wanita yang pernah atau lebih tepatnya masih dicintainya itu masih hidup dan ada didepannya sekarang?
Eillen sebenarnya menyadari tatapan itu, tatapan rindu sekaligus rasa bersalah bercampur di mata itu. Tapi sekarang semua sudah berubah, mereka punya kehidupan masing-masing.
"Nothing." Bella tersenyum. Dia melihat Baby Jo yang masih nyaman dipelukan Quela.
...--- o0o ---...
"Hans, ada denganmu? Sejak tadi kuperhatikan kau sangat aneh." Quela berbicara setelah Norin, Sela dan Selo masuk kekamar mereka.
Quela masuk ke kamarnya, diikuti Hans dibelakanganya. "Tidak apa." Singkatnya.
"Jangan berbohong!"
Hans menatap ibunya, tersirat kesedihan di mata pria paruh baya itu. Quela sedikit tertegun melihatnya.
"Mom, Kita berpikir jika Mrs. Englert hanya kebetulan mirip dengan Hyurin." Quela mengangguk.
"Bukan hanya itu, semua sifat dan tingkah lakunya sama persis sepertinya. Seakan-akan dia memang Hyurin. Aku sangat mengenalnya, aku tidak mungkin salah," lirih nya, suaranya bergetar.
"Hans, bagaimana mungkin?" Quela tidak berdaya, rasa bersalah membuncah dihatinya. Apalagi saat melihat putranya yang terlihat sakit ini.
Apa benar? Hyurin sudah meninggal, bagaimana mungkin hidup lagi?
"Bagaimana jika benar." Quela tidak bisa menjawab. Dia memang merasa tidak asing, seakan sudah pernah mengenalnya sebelumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
__ADS_1
.
.
Brakk
Alex membanting keras laporan yang berada ditanganinya. Seorang wanita dengan pakaian minim bergetar takut sambil menunduk. Bean disamping Alex hanya diam dan menatap datar wanita didepannya ini.
"Tidak berguna! Ulangi," sarkas nya.
"Ba ... baik, Tuan." Wanita itu langsung pergi setelah meraih laporan yang baru saja dibanting Alex.
Alex memijat pelipisnya pusing. Dia masih sangat kesal dengan kejadian tadi pagi dan sekarang? Karyawan wanita itu datang membawa laporan dengan niat lain seperti ingin menggodanya.
Berbicara dengan nada genit, bahkan sengaja menundukkan badan agar memperlihatkan gundukan besarnya. Dia pikir Alex akan termakan dengan trik murahan itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Menurutmu," ketus Alex kesal. Sudah tau dia sedang kesal, masih bertanya juga!
Bean langsung diam, tidak berniat untuk bertanya. Sekarang Tuannya sedang dalam zona bahaya, jadi lebih baik menjadi anak penurut.
Drrt ....
Alex melirik malas ponselnya yang bergetar, Begitupun Bean yang ikut melihat. Alex yang tadinya kesal langsung tersenyum ketika melihat nama istrinya tertera di layar ponsel. Alex langsung mengangkatnya yang ternyata adalah Video Call.
Memang hanya anda yang mampu menjinakkan tuan, Nona.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...LIKE NYA GUYSS.......