Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 136 | Aunty Galak


__ADS_3

Ramona Company saat ini sedang sangat sibuk-sibuknya. Terutama bagi pemimpin itu sendiri yang memegang tanggung jawab terbesar. Kali ini, Alex dan Bean benar-benar di sibuk dibuatnya.


Kedua pria itu bahkan tidak sempat untuk sekedar memberi kabar pada orang terkasih mereka. Namun, hal seperti ini sudah biasa bagi keduanya. Tapi sepertinya mereka lupa jika keduanya tidak lagi sendiri, melainkan memiliki seseorang yang seharusnya diperhatikan.


Bella sendiri ikut sibuk mengurusi masalah keluarganya yang menghilang itu. Wanita itu ingin membangun kembali perusahaan Victor yang sudah hampir jatuh ditangan tidak bertanggungjawab itu.


Masalah Sela hanya tinggal selangkah lagi sampai tujuannya tercapai, sekarang adalah masalah Selo untuk meneruskan bisnis keluarga. Banyak yang tidak setuju dengan keputusannya, terutama para antek-anteknya yang sedikit pendendam.


Menurutnya Bella terlalu baik, kenapa wanita itu lebih banyak memberi kesempatan daripada pelajaran. Bukankah yang terjadi pada keluarga Victor sudah seperti pelajaran? Pelajaran dari Tuhan atas perbuatan mereka dulu.


Setiap orang berhak diberi kesempatan. Tidak peduli sejahat apa orang itu, Tuhan maha penerima tobat.


Namun, sekali Bella bicara, pada saat itu tidak ada yang berani membantah. Satu kalimat yang keluar dari mulutnya sudah cukup membungkam mulut mereka.


Bella berdiri di belakang Ken yang sedang duduk di depan komputernya seraya menimang-nimang ponsel pintarnya. Sambil mendengar penjelasan Bean, pikiran Bella ikut terbagi. Makan siang sudah lewat, tapi Alex belum juga memberinya kabar.


"Vi," tegur Bella.


"Iya, Nona?"


"Apa Bean menghubungimu?"


Vivi menggeleng. "Dia tidak menghubungi saya sejak pagi tadi." Bella mengangguk.


Berarti keduanya memang sedang sibuk. Bukan hanya suaminya, Bean pun juga sama. Tentu saja, Asisten itu kan selalu sibuk meski Alex tidak sibuk!


"Kau urus saja, Ken. Aku masuk dulu."


"Baik, Nona."


"Oh! Siapa yang menjemput anak-anak?" Bella menghentikan langkahnya.


Vivi sudah akan menjawab, tapi terpotong oleh suara heboh yang semakin mendekat. Bella meringis saat membayangkan suara-suara itu ada di sepanjang perjalanan menuju kemari. Ya, siapa lagi jika bukan anak-anak yang datang bersama Grace.


Ken sudah menggorek telinganya gatal, tempat ini sudah seperti taman bermain saja. Anak-anak selalu ceria hingga sering membuat keributan, kecuali satu orang yang dianggapnya tidak normal. Jourell.


Lihat saja sekarang, tingkahnya sudah mirip orang dewasa. Berjalan santai di bagian paling belakang dengan gaya cool, keduanya tangan masuk dalam kantung celana serta tas yang hanya dikaitkan di salah satu pundak.


Tak terbayang seperti apa ketika bocah itu benar-benar sudah dewasa. Saat kecil saja sudah sangat keren, apalagi ketika sudah menampakkan ketampanannya. Anak itu sama dinginnya dengan ayahnya, jarang tersenyum, kecuali di pelototi ibunya.

__ADS_1


"Jangan berisik!"


"Jangan berlari, Eric!"


"Ray ... Chloe ... pelan-pelan!"


Entah berapa kali Grace memperingati anak-anak itu, nyatanya hanya seperti angin lalu. Grace hanya berusaha sabar mengingat mereka hanyalah bocah kecil.


"Aunty, Uncle, kami datang." Suara khas anak kecil milik Chloe terdengar lucu.


"Iya, selamat datang pengganggu kecil," jawab Ken jengah.


"No no no ... kami bukan pengganggu, tapi penghibur."


"Terserah!"


"Aunty Bells, tahu tidak? Tadi Kakak tampan membuat teman Chloe menangis, tapi ibu guru tidak berani memarahi." Suasana langsung hening.


Ucapan polos Chloe membuat Eric dan Ray menepuk keningnya. Kedua bocah itu langsung menatap hati-hati pada bocah lainnya yang sudah menatap tajam gadis kecil itu.


Chloe, kau membuat Joy marah. batin keduanya.


Bella sudah memasang wajah pura-pura marahnya sambil berkacak pinggang. Chloe langsung berlari, bersembunyi di balik kursi yang di duduki Vivi setelah menyadari ucapan bodohnya.


"Joy ..." panggil Bella rendah, tangannya memerintah untuk mendekat.


"Yes, Mommy." Joy menunduk takut sembari mendekat pelan.


"Masuk!" perintah Bella. Joy kembali mengikuti.


Ken langsung penasaran setelah melihat dua orang itu menghilang. Pria itu langsung mengangkat Chloe kepangkuannya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Ish, Uncle ... Chloe tidak mau bicara." Chloe merapatkan bibirnya seraya menggeleng.


"Seharusnya kau bersikap begitu tadi. Ck!" cibir Ken, mencubit hidung kecil Chloe.


"Joy pasti semakin tidak menyukaimu," celetuk Erico di kursinya.

__ADS_1


"Eric ..." tegur Grace pusing.


"Kau mengadukannya pada aunty Bella. Tentu saja Joy marah padamu," sambung Raymond.


"Raymond!


Ya Tuhan, darimana sifat anak-anak ini datang? Setahu Grace, dia tidak memiliki kepribadian seperti ini, apalagi suaminya!


"Really? Aku, kan tidak ... tahu ..." jawab Chloe mulai menangis.


"Huaaa ..." Pecah juga akhirnya.


Tiga orang dewasa itu menjadi panik sendiri. Chloe merupakan salah satu makhluk yang jika sudah menangis akan sangat sulit di diamkan! Tidak heran jika Kris selalu menuruti anak itu, pria itu sendiri kesulitan menenangkan putrinya.


Ken sudah berdiri, menggendong serta membujuk, namun tidak berhasil. Tangisan gadis itu justru semakin kencang. Vivi dan Grace juga tidak berdaya, padahal keduanya sudah memegang sebuah boneka beserta permen yang entah darimana di dapat.


Dua bocah penyebab masalah itu sendiri tidak peduli, mereka sibuk memakan makanan kecil milik Vivi di atas mejanya. Untungnya, ruangan Bella di lengkapi dengan kedap suara, sehingga tidak mendengar keributan di luar.


Namun, berbeda dengan penghuni sebelah. Salah satu zona paling berbahaya bagi karyawan yang bertugas. Ya, Monica. Wanita dewasa tiga puluh tahun yang masih setia menyendiri itu sudah memijat pelipisnya pusing.


Sudah bisa ditebak apa yang terjadi di luar, sejak para bocah itu tumbuh, tempat ini jadi sangat ramai. Monica terkadang bertanya, apa benar ini kantor? Kenapa malah seperti taman kanak-kanak?


Bangkit dari kursinya, Monica berjalan keluar. Semakin pusing saja ketika melihat orang-orang itu sudah menjadi seperti babysitter yang menenangkan anak asuhannya. Mungkin dia harus memohon pada Bella untuk memindahkan Anna kesini juga, berjaga-jaga jika anak wanita itu menangis seperti sekarang.


Langsung saja Monica mendekat, tanpa pikir panjang, diraihnya bocah lima tahun itu dari gendongan Ken.


"Astaga, kaget aku." Vivi mengelus dadanya. Penghuni ruang sebelah ternyata sudah keluar.


Chloe sendiri langsung berhenti menangis, bocah itu menciut, apalagi sekarang berada dalam gendongan Monica. Aunty galak sudah turun tangan, dia jadi menyesal karena menangis.


"Kau denganku saja, makan dan tidur dengan nyaman sampai ibumu datang," ucap Monica tanpa basa-basi, Chloe mengangguk cepat, lalu menunduk.


"Kalian berdua juga! Jangan nakal atau kumakan sampai kenyang." Monica memberi peringatan pada dua bocah laki-laki yang sudah bersembunyi di balik tubuh Grace.


"Baik, Aunty galak," ucap keduanya bersamaan.


"Apa!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2