
Norin mengatur emosinya yang membuncah, melihat kedua anaknya pergi, rasa bersalah muncul di hatinya. Dia terduduk lemas di lantai, berpegangan pada sofa.
Bayangan Sela kecil yang memancarkan kebahagiaan ketika menceritakan Bella muncul di benaknya. Tapi sekarang, gadis itu memancarkan kebencian setiap mendengar namanya. Rasa bersalah semakin besar.
Quela masih terdiam syok, dia menyentuh dadanya yang sakit. Dia mengerti perasaan Norin karena dirinya dulu juga sama. Namun, berubah setelah kepergian Bella yang membuatnya merasa kehilangan.
Hans menatap kosong kearah depan, semua ini memang bermula darinya. Ini kesalahannya karena terus mencintai wanita yang bukan miliknya. Mungkin, jika dia mau menerima Norin, wanita itu juga bisa menerima Bella dengan ikhlas.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
"Aku—" Ucapannya terpotong ketika Kepala pelayan Moli datang tergesa-gesa seraya membungkukkan tubuh karena merasa tidak enak sudah mengganggu mereka.
"Maaf, Tuan, Nyonya."
"Ada apa?"
"Dua pasangan muda datang dan mengaku sebagai orang tua nona Qiara. Mereka meminta izin untuk bertemu, Tuan."
Hans langsung memperbaiki duduknya dan mengatakan pada Moli agar membiarkan masuk. "Aku akan menjelaskan semuanya nanti, sekarang perbaiki dirimu," katanya para Norin.
Wanita paruh baya itu tidak mengerti maksudnya. Orang tua Bella? Bukankah Hyurin sudah meninggal? Lalu siapa yang datang. Quela juga sudah memperbaiki posisinya, sudah bisa menebak siapa yang datang. Hans langsung berdiri begitu melihat dua orang yang dia ketahui adalah tuan James Villegas dan istrinya, Hyuran Vilegas seperti yang pernah diperlihatkan Bella.
"Maaf menggangu malam anda, Mr dan Mrs. Victor," ucap James lebih dulu.
"Tentu saja tidak. Sebuah kehormatan menerima anda disini, Mr. Vilegas. Silahkan duduk."
"Thank you."
__ADS_1
Pandangan mereka kini beralih pada Hyuran yang tidak bicara dan hanya mengikuti suaminya. Tiga tuan rumah itu menatap tidak percaya pada Hyuran, seakan wanita itu adalah kembaran Bella.
"Saya Hyuran, ibu kandung Bella," ungkapnya langsung.
"Maksud anda?" Norin tidak mengerti.
"Biar saya jelaskan." James angkat suara.
"Hyurin, kakak ipar saya bukan ibu kandung Bella, melainkan istri saya, Hyuran. Ada sesuatu yang membuat Bella diasuh olehnya dan tidak mungkin kami ceritakan."
"Kedatangan kami kemari untuk mengucapkan terima kasih karena sudah merawat dan membesarkan putri kami. Mungkin ada banyak kesalahpahaman dalam hubungan kalian karena kedatangan Bella, kami mohon maaf atas itu." James sempat mendengar teriakan Norin mengenai putrinya. Dia merasa bersalah dengan itu.
Norin syok. Pantas saja wajah wanita ini sangat mirip dengan Qiara, jauh lebih mirip daripada Hyurin. "La— lalu, dimana anak Hyurin?" tanyanya gugup. Hans dan Quela tersadar. Benar, jika Bella bukan anaknya, lalu dimana anak kandungnya.
Hyuran menghela nafas. "Tuhan lebih menyayanginya, dia meninggal setelah dilahirkan."
Tubuh Hans melemah, air matanya menetes mendengar kabarnya. "Se— seperti apa dia." Dia bahkan tidak ada disana ketika bayi itu harus menutup matanya menemui Tuhan.
"Ya Tuhan. Maafkan Daddy, Sayang. Aku tak bisa menemanimu." Hans mencengkeram pinggiran sofa seraya menangis, tidak peduli jika masih ada yang lain disana.
Quela ikut menangis melihat keadaan putranya, dia meraih dan mendekapnya. Mengelus punggungnya, Quela berkata, "Tenanglah, Hans. Dia sudah tenang disana, jangan membuatnya sedih." Punggung Hans semakin bergetar, pria berstatus ayah itu terlihat semakin rapuh.
Norin menekan dadanya yang terasa sakit, dia tidak bisa membiarkan egonya menguasainya lagi. Melihat kondisi suaminya, dia tidak bisa merasa senang karena bayi itu mati. Orang tua mana yang tidak sedih dan terpukul karena kehilangan anaknya, begitu juga dengan Hans.
"Maaf ... maafkan aku. Aku sudah bersikap buruk pada Qiara, aku bahkan membencinya. Kalian boleh meminta pertanggungjawabanku dan menghukumku." Norin tidak biasa menahan diri, air matanya luruh bersamaan dengan kebenciannya yang ikut menghilang.
Hati yang sudah lama tertutup kegelapan, kini sudah menemukan kembali cahayanya. Masalah haruslah diselesaikan secara baik-baik agar bisa menemukan solusi yang baik pula. Saling terbuka dan percaya adalah salah satu cara terbaik untuk mempererat hubungan.
__ADS_1
...--- o0o ---...
Alex mengusap gusar rambutnya, menjadikan pekerjaan untuk menunggu istrinya yang belum juga keluar dari kamar musuh kecilnya. Ya, siapa lagi jika bukan putra nakalnya yang sejak tadi mencuri miliknya. Sudah hampir tengah malam, Bella tak kunjung keluar. Dia sedang membutuhkan istrinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Kesal, pria itu beranjak dari kursinya, lalu menyusul istrinya disana.
Membuka pintu dengan pelan, Alex masuk tanpa suara. Pria itu menarik nafas sabar ketika melihat sang istri ternyata sudah tidur sambil mendekap Joy dengan dada terbuka di kasur alas. Wanita itu tak bisa menahan kantuk dan akhirnya ketiduran ketika menunggu putranya yang siang menyusu itu.
Joy sudah tertidur pulas saat Alex mendekat, bibir kecilnya masih menempel di ujung dada Bella. Pria dewasa itu berdecak melihat putranya hampir menguasai semua miliknya. Diangkatnya dengan hati-hati, lalu memindahkannya ke keranjang bayi.
Alex tersenyum, meski menyebalkan baginya, bayi ini masih putranya yang dia sayang. Meninggalkan beberapa kecupan, ayah satu anak itu beralih pada sang istri.
Senyuman mesum terbit di wajah itu, melihat piyama yang sudah terbuka di bagian atas, bahkan menampakkan isinya akibat Joy membuat Alex semakin bernafsu. Toh nafsu dengan istri sendiri, pikirnya.
"Bebe," bisik Alex membangunkan Bella.
Berulang kali Alex memanggilnya, namun sepertinya mimpi Bella jauh lebih indah. Tak kunjung bangun, diraihnya buah dada istrinya dan mer*masnya lembut, sesekali memainkan ujungnya dengan jahil.
Bella menggeliat. "Bebe ... kau tak ingin aku bermain disini, kan?" bisik Alex lagi.
Wanita itu membuka matanya berat, di dorongnya pelan tangan Alex yang bermain di miliknya itu. "Besok saja, Al. Aku mengantuk." Suaranya serak akibat kantuknya, namun bagi Alex terdengar sexy. Pria itu langsung kesal ketika melihat mata indah tertutup lagi.
"Keterlaluan. Aku sudah menunggu sejak kemarin, tapi tak kunjung diberikan, selalu besok dan besok. Pembohong!" Alex mulai masuk mode merajuk.
Mau tidak mau, Bella kembali membuka matanya yang berat. Dilihatnya suaminya yang duduk berlesehan dengan wajah kesal di sampingnya yang kasih berbaring. Menghela nafas pelan, Bella mengulurkan tangannya. Alex langsung tersenyum dan masuk dalam pelukan istrinya.
"Jangan disini." Mendorong kepala Alex yang sudah mencium lehernya.
"Anything for you, Bebe." Alex menggendong istrinya dan memindahkannya ke kamar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Traveling sendiri aja yah. Aku masih polos😌😆...