
Setelah puas memaki Bean, Bella berjalan mendekati Alex yang tidur membelakanginya. Bella tahu pria ini tidak tidur, hanya menghindarinya! Dia memutari ranjang dan duduk disisi ranjang samping Alex. Pria itu masih menutup matanya dengan selimut sebatas leher, tidak memperdulikan sang istri yang menepuk-nepuk bahunya diatas selimut.
“Kau sudah tidur?” Bella mencium pipi Alex berkali kali mencoba membujuk pria itu.
“Daddyy ... apa tidak rindu Mommy?” ucapnya memeluk Alex yang masih diam.
Alex yang memang tidak tidur berusaha menahan senyumnya melihat tingkah Bella yang menurutnya sangat menggemaskan. Rasanya dia sangat ingin bangun dan memeluk wanita ini sampai pagi. Tak lama Alex merasa ada yang menyusup kebawah selimut dan memeluknya. Mengendus dada bidangnya. Alex membuka matanya sedikit, dia lupa jika wanita ini memang sangat menyukai bau tubuhnya.
Sejak hamil, wanita ini takkan bisa tidur jika Alex tidak ada. Pernah sekali Alex pulang sangat larut karena pekerjaan sangat menumpuk. Dia pikir Bella sudah tidur, tapi nyatanya wanita itu sedang menangis sambil memeluk pakaiannya. Sejak saat itu Alex selalu pulang lebih awal meski pekerjaan menumpuk sekalipun. Hatinya sakit jika harus melihat istrinya ini menangis karena dirinya.
Alex kembali menutup matanya saat Bella mendongak melihatnya. Tiba tiba, benda kenyal menempel di bibirnya. Rupanya Bella belum menyerah membujuk dirinya.
“Sayang, jangan marah,” cicitnya pelan dengan bibir bergetar. Alex langsung membuka matanya, melihat Bella yang mulai menangis. Alex menghembuskan nafas pelan, mau tidak mau dia harus mengalah lagi pada wanita hamil ini.
“Aku tidak marah” Alex mencium kening Bella lama. Wanita itu langsung kembali memeluknya.
“Maaf,” ucapnya.
“Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan pria. Kau tahu aku, kan? Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu.” Mengelus pipi Bella lembut. Bella mengangguk mengiyakan.
“Maaf,” ucapnya lagi.
“Sudah hentikan. Jangan melakukannya lagi, mengerti.” Bella mengangguk lagi. Alex tersenyum dan mengecup bibir Bella singkat. Wanita itu tersenyum senang.
“Siapa dia?”
“Siapa?” Bella mengerjit bingung.
“Pria itu! Berani sekali dia memelukmu dan kau malah membalasnya.” Alex teringat kembali.
Bella mengerjap polos. Memangnya kenapa?
“Katakan!”
“Kim Joo – Hyun.” Alex berdecak kesal, bukan itu yang ingin dia dengar.
“Aku tidak peduli dengan namanya! Apa hubunganmu dengannya?”
“Dia dokter yang merawat depresiku saat di Korea dulu.” Wajah Alex mendingin, itu artinya mereka sangat dekat, kan?
Bella yang menyadari Alex mulai kesal lagi segera menyela. “Dan juga pamanku!”
“Bebe!”
“Sungguh! Tanya saja pada Mom.”
“Berapa usianya?”
“Mungkin 30 tahun.”
Tentu Alex sangat sulit mempercayainya, usia mereka hanya terpaut 3 tahun. Dan juga pria itu tidak pantas dipanggil paman!
“Dia adiknya Eomma, memang masih muda. Sama sepertimu, orang lain tidak percaya jika kami hanya paman dan keponakan.”
__ADS_1
“Sungguh?” Alex menyelidik. Setahunya, Eillen tidak punya saudara atau kerabat lagi. Lalu bagaimana tiba tiba orang itu muncul sebagai paman?
“Masalah di keluarga Eomma cukup sulit. Eomma bukan tidak punya keluarga atau kerabat, tapi dia sendiri yang memilih menjauh agar tidak terlibat konflik. Entahlah, aku tidak tahu apapun dan tidak ingin tahu.”
Bella tahu itu karena pamannya sendiri yang menceritakannya. Dia awalnya tidak percaya, tapi setelah pamannya memperlihatkan silsilah keluarga, barulah Bella percaya. Intinya, apapun itu Bella tidak ingin ikut campur. Bahkan ibunya sendiri memilih pergi daripada terlibat, jadi untuk apa dia sibuk memikirkannya?
Tidak hanya paman, dia juga ternyata masih punya nenek dan kakek dari pihak ibu. Tapi kembali ke awal, Bella tidak tahu apa yang terjadi dan tak mau tahu. Selama itu tidak mengganggunya ataupun ibunya.
“Sudah menikah?” Bella menggeleng.
“Belum! Padahal paman sangat tampan, tapi malah aku yang menikah lebih dulu.” Tanpa sadar menggerutu.
Wajah Alex berubah datar dan menatap Bella tajam. Tangan kekar itu meremas pinggang Bella hingga membuat sang empunya meringis. Bella tertegun saat menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya yang tanpa sadar mengundang kemarahan baru. Menatap Alex yang sudah memasang wajah suram, Bella menyengir tanda bersalah.
“Kau lebih tampan!”
Damn! Inilah mengapa aku lebih suka diam daripada banyak bicara.
.
.
.
.
Alex bangun dan merenggengkan otot otot tubuhnya. Duduk bersender di kepala ranjang, dia memperhatikan Bella yang masih tertidur pulas di bawah selimut dengan tubuh polosnya. Semalam setelah membuatnya kesal, Alex meminta pertanggungjawaban pada wanita itu. Bella hanya bisa pasrah dan mengiyakan dengan lapang dada. Lagipula itu adalah kewajiban!
“Pagi anak Daddy.” Mensejajarkan kepalanya dengan perut Bella sambil mengelus – ngelus dari balik selimut.
“Ssshhh ....”
“Bebe ... apa yang sakit?” Alex langsung panik saat Bella tiba – tiba meringis sambil memegang perutnya. Dia khawatir jika Bella seperti ini karena kegiatan mereka semalam. Bella terkekeh geli.
“Bebe ...” Alex sedikit kesal, dia sedang khawatir tapi wanita didepanya ini malah tertawa!
“Aku baik – baik saja. Aku hanya terkejut.” Bella tersenyum, meraih tangan Alex agar menyentuh perutnya lagi.
Mata Alex membola saat merasakan sesuatu bergerak di dalam perut istrinya itu. Hal itu justru membuat Alex semakin panik. Entah apa yang dipikirkan.
“Kita panggil dokter sekarang!” Bella melotot tidak percaya.
Whatt ... Dokter!
“Untuk apa? Jangan gila!”
“Apanya yang gila! Ada yang tidak beres dengan perutmu. Dia pasti mengganggu anakku ... tidak bisa dibiarkan!”
What the ... apa yang pria ini pikirkan. Memangnya di perutku ada parasit!
“Al ....”
“Tidurlah lagi. Aku akan memanggil Bean.” Bella hanya bisa tercengang dibuatnya. Cukup satu saja yang gila, jangan memanggil Bean yang akan membuatnya bertambah gila!
__ADS_1
“AL ... DENGARKAN AKU!” Bella refleks berteriak saat Alex sudah berlari menuju pintu setelah memakai celananya. Pria itu langsung berhenti.
“Kemari.” Menepuk sampingnya, Alex masih belum bergerak. Dia ragu antara mendekati Bella atau memanggil Bean.
“Kemari, Al ...” Bella memasang wajah garangnya.
Kenapa Suami tercintaku ini menjadi bodoh seperti ini? Hal normal saja dia anggap penyakit. Aku curiga dialah yang sakit.
“Bebe ...” ucapnya dengan nada cemas setelah duduk di samping Bella.
“Oke, dengarkan aku baik baik.” Menatap Alex seperti murid yang baru masuk sekolah.
“Kau merasa ada yang bergerak, bukan?” Alex mengangguk
“Ibu yang sedang hamil biasanya mengalami tendangan pada perut atau yang dikenal dengan quickening dan ini menjadi tanda bahwa bayi sedang tumbuh dan berkembang. Dan itu normal!”
“Kau menyapanya dan dia merespon. Seperti, selamat pagi juga Daddy. Dia sudah mengenal ayahnya yang tampan ini.” Menangkup wajah Alex gemas dan mengecup bibirnya.
Alex langsung tersenyum sumrigah sembari mengecup semua wajah Bella senang. Anaknya sudah mengenalnya bahkan sebelum dia lahir. Bahkan meresponnya! Betapa bahagianya dia sekarang.
Alex menundukkan badannya agar mencapai perut Bella. Mengelus dan menciumnya berkali – kali. Bella mengulas senyum bahagia sembari mengusap kepala Alex diperutnya.
“Jadi kau menyapa Daddy tadi? Maaf karena aku salah mengira.” Alex menunggu sebenar, berharap akan mendapat tendangan lagi. Alex terkekeh saat kembali merasakannya.
“Apa? Kau merindukan Daddy?” Menendang lagi. Alex tersenyum jahil.
“Dengar, Bebe. Dia merindukanku, aku harus menjenguknya sekarang.” Bella mendengus sebal.
“Itu sih maumu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Gimana Episode kali ini?...
...Silahkan Tinggalkan saran dan kritik kalian jika ada kesalahan dalam penulisan atau typo yah😉...
...Terima kasih karena sudah mendukung Author untuk terus...
...semangat😊...
...Jangan lupa tinggalkan...
...LIKE...
...COMMENT...
...VOTE...
...RATE...
...《Silahkan mampir ke Karya Author yang lain》...
...Gamsahabnida❤...
__ADS_1