Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 128 | Seperti Orang Asing


__ADS_3

Bella tersentak kaget begitu pintu tertutup, Alex sudah menghimpitnya di pintu dan menguncinya. Pria itu marah, sangat jelas tercetak di wajahnya. Bella ingin menyingkir, namun tanpa dia duga, Alex langsung menciumnya kasar, menghisap lidah hingga bibirnya.


Bella memekik tertahan ketika merasakan sakit di bagian dadanya, tangan pria itu rupanya sudah masuk dan mer*masnya. Sakit, dia tidak suka sikap kasar Alex terhadap dirinya.


Alex sendiri diliputi kecemburuan, semua orang menatap istrinya dengan berbinar. Dia tidak rela miliknya yang tersembunyi sekalipun juga terlihat. Wanita ini sangat berani!


Bella tak tahan lagi, dia membalas sebentar sebelum akhirnya menggigit daging tak bertulang itu. Alex langsung berhenti dan menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah, lalu menatap tajam istrinya.


"What?" Bella mengangkat sebelah alisnya tidak peduli.


Wanita itu berjalan melewatinya dan duduk dengan santai di kursi kebesaran Alex. Bella menyilangkan kakinya sombong sambil menatap suaminya datar, menunjukkan bahwa dia ratunya disini.


"Bebee ..." geram Alex, kesal melihat tingkah istrinya yang memperlakukannya bagai saingan bisnis.


Alex berdecak kesal mendengar ketukan pintu, dimana Bean! Apa tidak berjaga. Dia masih punya urusan dengan istrinya yang sudah menjelma menjadi gadis nakal. Dia mengabaikan, tapi Bella malah menekan repote kontrol hingga kunci pintu terbuka otomatis.


Damn!


Alex segera mengambil kemeja yang sudah dia siapkan sejak tadi dan memasangkannya pada Bella dengan cepat. Bella tidak menolak, namun tidak juga merespon. Biarkan suaminya kelimpungan sendiri.


"Masuk!" seru Bella tidak peduli, dia menyandarkan diri di kursi.


Dua wanita berjalan masuk dengan ragu, mereka menundukkan kepala takut. Aura di ruangan terasa sangat mencekam, terlebih lagi Bella yang duduk disana dengan Alex yang berdiri disampingnya. Apa tidak terbalik?


"Ma— maaf, Tuan, Nyonya. Soal model yang diganti—"


"QA akan mencari penggantinya, tunggu saja dan kerjakan," ucap Bella langsung.


"Ba—"


"Kalian tidak dengar! Tunggu saja dan kerjakan. Sekarang keluar," dingin Alex.


"Baik, kami permisi." Tidak ingin mendapat masalah, keduanya langsung keluar. Bisa dilihat betapa posesif nya bos mereka sampai menutupi tubuh seksi istrinya dengan kemeja.


Alex kembali menatap istrinya yang masih bersikap tidak peduli.


__ADS_1


"Bebe—"


"Aku tidak ingin punya anak lagi, jadi jangan menyentuhku." potong Bella.


Alex membola, wanita ini ingin mengacaukan jatah wajibnya? "Apa! Bebe, kau berlebihan."


"Siapa?" Bella seperti mencari seseorang.


"Kau, Bebe. Memangnya siapa lagi disini?" Alex memutar kursi Bella menghadapnya.


"Kurasa aku tidak sendiri," Bella sok berpikir.


"Ok, fine. Aku bisa gunakan pengaman."


"Aku tidak suka benda itu," kilahnya lagi.


"Buang diluar."


"No, mengotori kasurku." Bella masih bersikap tenang tanpa dosa, berbeda dengan Alex yang sudah gelisah.


"Bebee ..." rengeknya. Dia menyerah, Alex mengaku kalah. Wanita memang menyebalkan jika sudah melibatkan ritual malam.


"Kau tidak kasihan dengan Joy? Dia pasti senang memiliki adik." Alex beralasan.


"Satu saja sudah meresahkan, bagaimana jika dua," jawab Bella mengedikkan bahu.


"Kau menyebalkan."


"Heh .... memangnya siapa yang memulai. Jangan menantangku ya!" Bella mulai tidak santai.


Alex tersenyum tipis, pria itu menyandarkan bok*ngnya di atas meja, lalu menarik istrinya hingga berdiri dan memeluknya. "Aku tidak mau lagi, aku tidak berani." Peluknya manja.


Cih! Pria aneh.


"Don't touch me! Tubuhmu bau." Bella memencet hidungnya.


Benar, ada bau parfum Stefanie di tubuhnya. Alex takkan membiarkan bau wanita lain mengganggunya bersama Bella. Pria itu langsung berlari masuk ke kamarnya dan mandi.

__ADS_1


Melihat Alex telah menghilang, Bella segera meraih tasnya. Memastikan pintu terkunci, wanita itu membuka pakaiannya, lalu menggantinya dengan jins dan sweter. Dia biasa saja sebenarnya, pakaian seperti itu masih tergolong biasa, bahkan ada yang lebih terbuka lagi. Jangan lupa ini adalah negara bebas.


Bella memilih berbaring di sofa sambil bermain ponsel, memastikan Joy tidak menangis karena ditinggal. Sofia bilang dia masih tertidur, Bella bernafas lega. Dia memang sempat menidurkan bayi itu dulu sebelum pergi, agar rencananya berjalan lancar.


Tak lama, suara pintu terbuka, Alex sudah segar dengan pakaian barunya. Dia tersenyum melihat istrinya sudah berganti pakaian, namun wanita itu masih saja cuek dan mengabaikannya.


"Bebe, maafkan aku." Alex bersimpuh memeluk perut istrinya.


"Aku tidak marah," singkatnya.


Alex tidak percaya, wanita selalu begitu. Berkata baik tapi sebenarnya tidak. Berkata iya sebenarnya tidak. Sama seperti Bella yang berkata tidak tapi sebenarnya iya!


"Awas, aku mau pulang. Kasihan Joy sendirian, aku harus sering bersamanya karena dia takkan punya adik lagi." Bella hendak bangun.


"Bebee ..." rengek Alex lagi, dia menyembunyikan wajahnya di perut Bella.


Bella menahan tawa, rasakan! Berani lagi? Namun dia masih ingin memberi pelajaran. "Apasih, Al. Joy sudah menangis." Bella melepas pelukan Alex.


"Aku ikut!"


"Terserah." Bella keluar meninggalkan ruangan tanpa menoleh. Alex langsung mengikuti dan merebut kunci mobil Bella.


"Aku akan pulang, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan membantah!" katanya pada Bean yang sudah datang.


.


.


.


Wanita terkadang selalu bersikap lain dari hatinya, tidak suka berterus terang dan cenderung memberi kode jika menyangkut perasaan. Seperti kata Alex, Bella yang berkata tidak sebenarnya adalah iya!


Wanita itu memang tidak menunjukkan jika dia marah, tapi sikapnya sudah cukup menjelaskan. Alex dibuat pusing dengan Bella yang seperti mengabaikannya, meski masih menyiapkan keperluannya kecuali jatah malamnya yang satu minggu ini telah hilang.


Bella selalu tidur lebih awal atau akan tidur bersama Jourell. Alex lebih suka jika Bella memarahinya tanpa henti, daripada harus mengabaikannya seperti ini. Tapi itu hanya prasangka Alex, pria itu tidak tahu jika Bella sebenarnya masih memperhatikannya sambil tertawa jahat.


Pria itu takut menyinggungnya semakin jauh, jadi tidak berani meminta haknya selama satu minggu ini. Padahal Bella akan memberikannya jika suaminya itu meminta. Tapi tak apalah sesekali, biarkan dia istirahat dari sakit pinggang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2