Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 67 | Tanggung Jawab


__ADS_3

Bella berjalan membawa nampan menuju kamarnya. Di lorong Bella tak sengaja berpapasan dengan Sofia yang baru saja pulang dan juga menuju kamar.


Sofia menatap Bella dengan pandangan menelisik, membuat Bella heran dengan tingkahnya


"Kau baru pulang, Sof?"


"Iya, Kak. Kerja kelompok." Masih memperhatikan dia lekat.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Eh! Sofia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu, Kak ... leher kakak kenapa? Bahu kakak juga." Sofia mendekatkan wajahnya, Bella memerah malu.


Apa keluarganya tadi juga melihat? Ya tuhan!


Alex!


"Bukan apa-apa, masuklah." Bella mendorong Sofia pelan dengan kakinya karena tangannya penuh dengan nampan.


"Tapi, Kak ...."


"Sudah!" Bella dengan cepat pergi menuju kamarnya sendiri sebelum ada yang melihat lagi.


Sofia melihat kepergian kakak iparnya dengan menggeleng aneh. "Sofia!" teriak suara mendekat.


"Elora?"


"Kau keterlaluan! Aku sudah menunggumu sejak tadi, tapi kau hanya melewatiku!" Elora cemberut.


"Aku lelah, tidak usah banyak bicara dulu. Masuklah!"


"Kau menyukainya?" tanya Elora saat suruh didalam.


"Siapa?"


"Kakak iparmu."


"Tentu saja! Why?"

__ADS_1


"Tidak ada." Sofia memincing.


"Aneh saja, Kak Al tidak pernah tertarik dengan wanita termasuk wanita cantik sekalipun. Jadi, aku kupikir dia pasti menggoda Kak Al dengan wajah dewi nya."


Sofia yang sudah berada di kamar mandi kembali membuka pintu tidak terima. "Enak saja! dia itu berbeda."


"Siapa yang tahu."


"Aku tahu!" Sofia berteriak dan blamm ....


Sofia membanting keras pintu kamar mandi membuat Elora berjingkat kaget.


-


-


Saat Bella masuk, Alex sudah setengah berbaring di atas ranjang sambil memegang ponsel. Dia melirik sedikit ketika pintu terbuka dan menampakkan sosok cantik.


Bella mendekat dan menaruh nampan di atas nakas samping Alex, lalu meraih kopi dan memberikannya pada Alex.


"Gadis yang bernama Elora akan tinggal disini, kau tidak turun untuk menyambutnya?"


"Kenapa berdiri saja, suapi aku," keluhnya, saat melihat Bella hanya berdiri


Bella mendelik namun tetap menurut, mengambil piring dan menyuapi bayi besarnya yang lapar.


"Dasar manja," goda Bella menahan senyum.


"Biar saja!" Mengecup pipi istrinya dan memeluknya manja, Bella terkekeh. Baru akan menyuapi lagi, suara tangisan Jourell terdengar membuat Alex langsung memasang wajah masam.


"Bebe." Alex memelas, pasti dia akan diabaikan lagi. Bella tidak berdaya, hanya mengecup singkat pucuk kepala Alex dan pergi.


Alex terus memasang wajah kesal sampai istrinya itu hilang dibalik pintu kamar Jourell, enggan menyentuh makanannya lagi. Dia memilih berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Cukup lama Bella didalam yang ternyata Jourell kehausan. Ketika keluar, dia malah mendapati Alex yang kembali merajuk di balik selimut. Bahkan makanan dan air di nampan tidak tersentuh sama sekali.


Bella lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, untunglah Clarissa selalu memberinya petuah bagaimana menjadi ibu sekaligus istri yang selalu sabar.


Saat kelahiran Alex dulu, Alfred juga sama manjanya seperti Alex yang sekarang. Itu hanya sementara karena mereka tidak ingin diabaikan, tapi ada saatnya juga dia akan kesal nantinya karena sifat mereka.

__ADS_1


Alex pura-pura tidur saat Bella mendekat dan menarik selimutnya hingga terbuka.


"Sayang, makanlah dulu. Kau belum makan sejak tadi," bujuk Bella.


"Ya sudah, jangan salahkan aku jika Jourell bangun lagi nanti." Bella berpura-pura bangkit dan berniat pergi, namun Alex segera bangun dan memasang wajah seperti anak yang tidak diberi makan.


Akhirnya Bella tidak bisa tidak tertawa, dia merangkum wajah suaminya dan mencium semua wajahnya. "Astaga, dimana Tuan Marcelio yang dingin dan terhormat itu. Aku hanya melihat bayi besar disini," gemas Bella.


"Ck!" Decak Alex


"Well, sekarang makanlah. Buka mulut. Aaa ..." Bella menyodorkan sendok berisi makanan. Alex membuka mulutnya dan menerimanya dengan enggan.


Jujur saja Bella sedikit lelah, mengurus bayi rupanya cukup sulit baginya. Dia sendiri menolak adanya babysitter karena tidak ingin putranya kekurangan kasih sayang seperti dirinya dulu.


Hampir tiap tengah malam atau dini hari Jourell selau menangis, entah karena haus atau buang air. Dan mau tidak mau Bella harus selalu siaga dan membuatnya kurang tidur dan sedikit pusing.


Siangnya ketika Jourell tertidur, Bella akan memanfaatkannya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang dikirim Ken.


Alex tidak pernah menyadarinya karena Bella selalu pandai menyembunyikan masalahnya, dia juga tidak ingin menggangu suaminya yang pasti juga lelah karena bekerja.


Intinya dia tahu, inilah resiko menjadi seorang istri sekaligus wanita karir yang masih muda. Perlu banyak belajar dan jangan suka mengeluh karena inilah kewajiban yang harus dia pegang.


"Sudah." Bella tersenyum setelah Alex menghabiskan semua makanannya.


"Biar pelayan saja yang membawanya, kau disini saja." Menahan tangan Bella.


"Aku hanya akan mengantarkan keluar dan memberikannya pada pelayan diluar." Berjalan keluar.


Bella kembali menutup pintu setelah memberikan nampan bekas itu pada pelayan yang lewat. Alex langsung menariknya agar ikut berbaring disampingnya.


"Aku merindukanmu," keluh Alex memeluk istrinya, menyusupkan kepalanya di ceruk leher Bella.


"Miss me? Kita selalu bersama, Sayang." Bella terkekeh.


"Tapi tetap saja, aku selalu merindukanmu. Aku tidak suka berjauhan denganmu."


"I love you," bisiknya. Bella tersenyum.


"Love you too."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2