Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 102 | Hal yang paling dibenci Bella!


__ADS_3

Begitu pintu terbuka, Bella langsung masuk. Semua karyawan yang disana juga ikut mendekat untuk melihat apa yang terjadi.


Bella membuka satu-persatu pintu toilet yang ada di dalam. Ruang toilet ini cukup besar sebenarnya hanya untuk ukuran toilet biasa. Pintu terakhir yang dia buka paksa karena terkunci ternyata sukses membuat jiwa kasar Bella bangkit.


Bullying! Yes. Di pintu terakhir ada tiga wanita berpakaian kantor dan satu wanita berkaca mata bulat menyedihkan yang menjadi korbannya.


Jangan mengatakan jika tiga wanita itu sedang membully wanita berkaca mata karena penampilan culunnya! Oh come on ... ini bukan adegan drama korea yang sering dia lihat bersama Sofia! Alasan klasik.


Sudah pernah dengar, kan jika bos besar ini sangat membenci yang namanya bullying. Masih ingat ketika Monica memperingati para calon anak magang beberapa bulan yang lalu? Monica mengatakan pada mereka jika masalah seperti ini, Bella lebih suka turun tangan langsung!


(Bisa dibaca kembali pada Episode 16 | Direktur Mon )


Jadilah itu benar adanya. Buktinya sekarang Bella sudah menjambak tiga rambut panjang milik wanita-wanita itu sekaligus dan menarik mereka keluar dari toilet. Begitu sampai diluar yang disaksikan oleh banyak mata. Bella melempar kasar mereka hingga terjerembab dilantai lorong.


Mereka kesakitan akibat cengkeraman tangan Bella yang seperti hendak mencabut habis rambut mereka. Belum lagi lemparan kasarnya yang membuat tubuh mereka menghantam keras lantai marmer itu.


Semua orang menyingkir dengan cepat. Ini pertama kalinya mereka melihat tindakan Bella yang menurut mereka sangat kasar dan mengerikan. Wanita kalem dan lembut diluar itu sebenarnya adalah sosok yang kejam seperti sang suami yang tidak pandang bulu.


Satu dari tiga wanita itu marah dan melepas kasar topi Bella yang menghalangi sedikit wajah cantiknya. Dia hampir memaki jika saja tidak mengenal siapa wanita yang dikiranya seorang gadis itu.


"M ... Mrs?" Mereka tercekat. Tubuh mereka bergetar hebat.


"Berikan aku gunting," ujar Bella dingin. Semua orang meneguk salivanya kasar. Mau apa dengan gunting?


Salah satu dari karyawan disana segera berlari mengambil apa yang diminta oleh Bella. Sebaiknya turuti saja sebelum kemarahan nya merambat kemana-mana. Dia langsung memberikan gunting yang dia ambil asal di meja depan kepada Bella.

__ADS_1


Ibu satu anak itu mendekati tiga wanita yang sudah terduduk lemas. Mereka menatap ngeri pada gunting yang dipegang Bella kearah mereka.


"M ... Mrs ... to ... tolong am ... ampuni kami," mohonnya.


"Ampun? Apa kalian juga mengampuni wanita itu." Bella melirik kearah wanita berkaca mata yang sudah dibantu oleh salah satu karyawan.


Tiga wanita itu tidak bisa menjawab. Aura Bella benar-benar terasa mengintimidasi. Nada dinginnya berhasil membuat orang tercekat.


Tak lama suara gunting terdengar. Bella sudah menggunting asal pakaian kerja yang tiga wanita itu. Membuat blazer dan kemeja yang mereka kenakan terdapat banyak sobekan kecil tak beraturan.


Tapi untungnya Bella masih tahu batasan untuk tidak menggunting bagian-bagian yang terbuka. Sekarang tiga wanita itu terlihat menyedihkan dengan pakaian sobek yang terlihat seperti pengemis.


"Jika kalian malu. Kalian bisa pulang sekarang. Tapi sebelum itu, silahkan ambil gaji terakhir kalian."


"Mau pulang?" datar Bella. Para wanita itu sontak menggeleng. "Kami masih mau bekerja, Mrs." Nadanya bergetar.


"Kalau begitu tetap seperti ini hingga jam kerja berakhir. Jangan mencoba menggantinya! Dan mulai besok, kalian bersihkan semua toilet karyawan yang ada di perusahaan hingga selesai."


"Liburkan para cleaning servis yang bertugas pada bagian toilet sampai mereka semua selesai dengan tugas mereka."


Benar-benar duplikat Tuan Marcel! Sama-sama mengerikan. Para wanita itu sangat tidak beruntung karena ditemukan Bella. Tapi akan lebih tidak beruntung jika Alex juga disana.


"Setuju?" Bella Menaikkan sebelah alisnya.


"Se ... setuju, Mrs."

__ADS_1


Mereka masih sayang dengan pekerjaan. Gaji disini tentu saja sangat besar daripada tempat lain. Dan juga, belum tentu mereka akan selamat meskipun sudah keluar dari sini.


Mereka bersyukur karena Bella masih memberi pilihan meski menyakitkan. Berbeda cerita jika Alex yang melihatnya. Jangankan memberi kesempatan, melirik saja dia tak sudi! Bean tidak perlu diberi perintah karena sudah mengerti tatapan Alex yang artinya singkirkan mereka! Jangan sampai merusak mataku.


Sangat beruntung, bukan?


"Good! Sekarang minta maaf padanya. Jika dia tidak memaafkan, maka hukuman kalian akan ditambah," Santai Bella. Membuat semua orang hanya bisa membeku.


Tiga wanita itu tidak peduli lagi dengan keadaan dan segera memohon pada wanita berkaca mata. Meski Bella tidak punya jabatan apapun di perusahan, tapi dia adalah istri dari tuan Marcelio Alexander Ramona yang terkenal kejam! Dan sialnya, CEO itu sangat mencintai istrinya dan pastinya akan melakukan apa saja selama wanitanya senang.


Jika kalian bertanya apa yang sebenarnya di lakukan tiga wanita itu pada wanita culun yang disebut Bella. Maka jawabannya sama persis seperti apa yang dilakukan Bella pada mereka.


"Sa ... saya memaafkan ... mereka, Mrs," takutnya juga.


"Okey. Sekarang dengarkan ...!" Berbalik menatap semua orang yang sudah bertambah banyak untuk menyaksikan peristiwa tersebut.


"Ini adalah pelajaran untuk kalian semua. Selanjutnya, jika ada hal seperti ini lagi, aku pastikan hukuman kalian akan lebih berat dari mereka bertiga!"


"So, jangan sampai terjadi lagi. Tapi jika masih ada yang berani, maka jangan ragu untuk melaporkannya pada Bean atau suamiku. Aku pastikan kalian dilindungi," tegasnya. Bella tampak sangat berwibawa dan berkarisma setiap kali berbicara layaknya sosok aslinya. Semuanya tidak bisa tidak takjub akan sosok wanita ini.


"Kami mengerti, Mrs."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Episode pertama hingga seterusnya sudah dilakukan Revisi. Ada beberapa penambahan narasi atau sedikit perubahan tapi tidak mempengaruhi alur cerita....

__ADS_1


__ADS_2