Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 138 | Sedikit Percikan Rumah Tangga


__ADS_3

Seorang wanita berwajah cemas langsung berlari keluar saat mendengar dentuman mobil memasuki halaman mansion. Wajah cemas itu seketika berubah datar ketika melihat Bean yang sedang memapah seorang pria mabuk yang sejak tadi di khawatirkannya.


Bean ingin bicara, tapi suara Bella lebih dulu menyela. "Bawa ke kamar," datarnya, berlalu pergi meninggalkan dua orang itu.


Bean bisa merasakan perubahan emosi yang dialami Bella. Nona bosnya berbicara datar, tapi sebenarnya menusuk keberaniannya hingga menciut.


Hanya seperti itu saja sudah bisa membuat orang menciut. batin Bean bergidik.


Alex sendiri sudah tak sadarkan diri, bau alkohol yang menyengat menguar dari tubuh atletisnya. Saat masuk, Bella sedang duduk di sisi ranjang sambil bermain ponsel. Bean menidurkan tuannya di ranjang sambil melirik Bella yang seperti tidak peduli.


Habislah kau, Tuan. Nona nampak biasa saja.


"Pagi-pagi sekali, datang dan bawakan obat pereda mabuk untuk pria ini ...."


".... Istirahatlah di kamar tamu, jangan jadi hantu yang berkeliaran di tengah malam." Bean meringis.


Saya bukan hantu!


Bruk. Bella sekali lagi melempar kasar ponselnya ke atas nakas. Bean menelan salivanya kasar.


"Saya harus mengantar para tuan muda ke rumah masing-masing dulu, Nona."


"Bawa saja ke hotel, kecuali Kris. Antar dia pulang." Bella berjalan keluar.


"Sudah menikah dan punya anak, masih saja lupa diri," gumam Bella pelan.


"Bagaimana dengan Tuan, Nona?" Bean bingung, pasalnya Bella pergi begitu saja tanpa mengurus Alex yang berantakan.


"Biarkan saja dia agar tahu kesalahannya besok!" jawab Bella dari luar.


Bean semakin pusing dibuatnya. Tidak ingin terkena masalah, pria itu hanya membantu membuka sepatu, kaus kaki beserta jasnya, lalu menutupinya dengan selimut agar tidak kedinginan. Bos nya ini benar-benar sudah di telantarkan oleh sang nona.


Bella memilih tidur bersama putranya. Dia kesal karena Alex tidak memberinya kabar, lalu pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Tidak tahukah pria itu jika dia sudah khawatir sejak tadi?


-

__ADS_1


-


Alex terbangun dari tidurnya saat sinar matahari menyorot masuk ke sela-sela jendela. Menduduki dirinya, Alex merasa kepalanya pusing. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, Alex tidak mendapati istrinya disana.


Ceklek. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar. Wanita itu terkejut mendapati sang tuan sudah bangun dengan sedikit linglung.


"Maaf, Tuan. Saya tak bermaksud mengganggu." Meletakkan nampan berisi sup panas dan segelas air.


Alex tak peduli, matanya sibuk menjelajahi isi kamar. Wanita itu menyadari, kemudian berkata, "Mrs sudah berangkat ke kantor, sekalian mengantar tuan kecil ke sekolah, Tuan," jelasnya.


Alex mengerjit. "Sejak kapan?" Tidak seperti biasanya Bella meninggalkannya sendiri.


"Sejak tadi, Tuan. Nona berpesan agar tuan memakan sarapan hingga habis ketika bangun nanti."


Bibi Moli ingin mengatakan tentang suasana hati sang Nyonya yang sedikit berbeda, namun diurungkan. Dia tak ingin ikut campur, tapi akan menjawab jika tuannya bertanya.


Dia sudah bekerja selama seminggu di mansion ini setelah bertemu Bella. Sejak kejatuhan keluarga Victor, Moli tidak lagi bekerja sebagai kepala pelayan. Namun sekarang, dia kembali lagi meski di tempat berbeda, yaitu mansion milik nona mudanya sendiri yang telah berkeluarga.


"Tuan, bagaimana keadaan anda?" Bean masuk dengan setelan kerjanya, Moli pamit keluar.


Bean mengangguk paham. "Semua baik-baik saja, kecuali Nona."


"Apa maksudmu!" Suara Alex meninggi. Dia sedang pusing sekarang, ditambah Bean yang berbelit-belit.


"Tuan, anda lupa apa yang terjadi semalam?"


"Semalam?" Bean mengangguk. Alex memutar kembali ingatannya, memangnya apa yang terjadi?


Tak lama, mata itu membola, menandakan jika sang empu sudah menyadari dan mengingat. Sial!


"Dia marah?" tanya Alex takut.


Pertanyaan macam apa itu? Bukankah sudah bisa ditebak?


"Saya bahkan tidak bisa membedakan antara marah atau tidak. Wajah nona selalu datar, seperti biasa saja, tapi entah kenapa saya ketakutan," jujur Bean.

__ADS_1


"Aku akan menyusulnya, siapkan pakaianku!" Alex bergerak turun.


Bean langsung menahan. "Makan dulu sup dan pereda mabuk anda, Tuan. Anda mau nona semakin marah karena tidak di dengar?"


"Kalau begitu cepat berikan."


...--- o0o ---...


"Tiga puluh persen saham sudah dapatkan, Nona. Empat puluh persen saham lainnya milik suami anda dan sisanya milik pemegang saham yang lain ...."


".... Jika tuan Marcel bersedia melepas, maka tuan Selo akan menjadi pemegang saham terbesar dan bisa mengambil alih kembali perusahaan Victor," jelas Vivi.


"Aku bisa langsung membeli semuanya, untuk apa susah-susah berpikir?" Bella langsung memutar bola matanya jengah.


Dasar arogan!


"Apa jadwalku selanjutnya, Vi?" Memilih sibuk dengan berkasnya seraya bertanya.


Alex tahu jika istrinya ini ingin menghindar, pria ini sudah sangat mengenal seperti apa sosok wanita di depannya ini. Tapi tetap saja dia tidak suka di abaikan, terlebih lagi itu Bella. Dia benci jika Bella memperlakukannya layaknya orang asing ataupun angin.


"Rapat dengan divisi—"


"Batalkan!" potong Alex dingin, Bella menatap tajam.


Bean tahu kondisi sekarang sedang tidak baik. Dua orang bertemperamen dingin dan menakutkan ini bertemu di satu arena? Bean lantas menarik Vivi keluar dari Zona merah tersebut. Jangan sampai mereka terkena imbas dari pecahan yang mungkin akan segera melayang.


"Ada hal penting yang ingin anda diskusikan dengan saya, Tuan Marcel?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aku Next Up kalo Komen N Like nya udah banyak😌...


...Ayo dong yang gk pernah timbul. Tunjukan kalau kalian bukan hantu, Ada tapi Tak terlihat....


...Sesekali lah muncul, biar next nya juga cepet😝...

__ADS_1


__ADS_2