
Saat ini, keadaan sepertinya sudah cukup tenang. Ayah dan anak tanpa status darah itu sudah saling menerima kenyataan satu sama lain. Meski begitu, mereka akan tetap menjadi keluarga.
Selo tetap seperti awal. Mungkin dia sangat terkejut awalnya, tapi hanya sesaat. Bagaimanapun, Bella sudah menjadi bagian keluarga dan kakak untuknya. Tidak peduli sedarah atau tidak.
Bella hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Selo sudah kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Suasana lebih hangat setelah keduanya saling terbuka. Mereka membicarakan banyak hal, terutama keseharian Bella ketika pergi dari rumah.
Bella hanya mengatakan jika dia pergi kuliah di Inggris, lalu bertemu Kris dan Jung disana. Hans juga bertanya pasal orang tua kandung Bella. Wanita itu hanya menjelaskan seperti apa adanya. Dia juga memperlihatkan foto Papa dan Mama kepada Hans.
"Bukankah ini tuan James Villegas?" Hans memastikan. Pria paruh baya ini tidak mungkin melupakan orang yang telah menyelamatkan nyawa putrinya.
"Yeah. Dad mengenalnya?"
"Dia yang mendonorkan darah untukmu waktu itu." Bella membeku. Apa ini kebetulan?
"Apa dia mengatakan sesuatu pada Daddy?" Hans mengiyakan.
Dulu, saat dia mulai putus asa karena golongan darah Bella cukup langka, James tiba-tiba datang dan menawarkan diri. Hans tentu tidak mengenalnya, tapi darimana pria itu tahu jika dia butuh darah dengan golongan ini.
James tidak meminta bayaran apapun. Dia hanya ingin melihat Bella dan mencium keningnya sayang. Sebelum pergi, James bahkan meminta Hans untuk menjaga Bella dan menyayanginya. Usahakan jangan sampai gadis ini lecet atau terluka lagi. Hal itu sontak membuat keluarga Victor dibuat kebingungan.
Bella dibuat terharu. Apa Papa James selalu mengawasinya selama ini? Bagaimana dengan Mama Hyuran. Apa pertemuan mereka di rumah sakit juga bukan kebetulan. Tapi sebenarnya mereka selalu mengawasi dan melindunginya dari jauh.
"Dia orang tua yang bertanggungjawab." Hans merasa malu pada dirinya yang tidak bisa menjaga dirinya dari keluarga besarnya sendiri. Padahal James sudah memintanya untuk melindungi Bella.
"Dad. Kau juga ayahku yang hebat. Buktinya aku bisa sekuat sekarang." Bella tersenyum menyemangati.
__ADS_1
Hans terkekeh. "Lidah tajammu ternyata juga bisa berkata manis."
"Mungkin karena Dad memesan cake coklat ini. Manisnya menular." Bella menunjuk cake di atas meja. Tak lama, keduanya tertawa bersama-sama.
Seorang ayah memang memiliki cara tersendiri bagaimana dia akan mencintai anaknya. Cinta yang diberikan oleh seorang ayah memang berbeda dengan cinta dari seorang ibu.
Seperti James yang selalu berdiri dibelakang Bella tanpa sepengetahuan gadis itu. Bahkan dia rela menerima kesedihan karena kenyataannya Bella tidak pernah mengenal dirinya.
Begitu pula dengan Hans yang menjadi ayah pengganti untuknya. Meski tahu jika anak selama ini dia besarkan bukanlah darah dagingnya, tapi cinta dan kasih sayangnya tidak akan berkurang sedikitpun.
...--- o0o ---...
Bella dan Seinth langsung meluncur ke Ramona Company. Dia ingin mengajak suaminya agar menginap di kediaman Englert. Bella tak suka jika Hyurin terus mendiamkannya seolah mereka tidak saling mengenal. Jadi dia akan membuat Eomma nya tidak bisa berpaling darinya.
Masa bodoh lagi dengan pendapat orang lain. Dia tidak peduli jika dikatakan tidak bisa menjaga image dan penampilan layaknya seorang nyonya konglomerat.
Saat memasuki perusahaan, loby tidak seramai biasanya. Bahkan jika masih jam kerja, tidak mungkin sesunyi ini. Hanya ada resepsionis yang berjaga karena tidak bisa meninggalkan tempatnya begitu saja dan berkeliaran.
"Sepi sekali," ucap Bella santai dengan melihat keadaan.
"Mrs?" Resepsionis itu terkejut hingga tersentak. Apa benar ini Mrs. Ramona? Cantik sekali. Dia seperti tidak mempercayai jika wanita ini sebenarnya sudah punya anak. Perawakannya benar-benar tidak cocok dengan julukan ibu anak satu. She's really hot mother!
"Sebenernya mereka berkumpul di dekat toilet ujung lorong. Saya juga tidak tahu ada apa disana, Mrs," jelasnya.
"Okay. Thanks."
__ADS_1
Bella juga sedikit penasaran setelah melihat kerumunan yang saling berbisik. Untuk apa berkumpul di depan toilet? Tidak mungkin mereka mengantri, kan?
"Sedang apa disini?" Bella bersedekap. Melihat istri CEO itu disana, sontak mereka semua mundur dan menunduk. Takut akan dilaporkan karena berkumpul bukannya bekerja.
"Ma- af, Mrs. Kami mendengar sedikit keributan didalam." Salah satu dari mereka memberanikan diri.
Itu sungguh Mrs. Qiara, kan? batin mereka semua.
Bella sedikit curiga dan mendekat kearah pintu. Benar saja, ibu satu anak itu mendengar kerusuhan dari dalam. Lantas dia berbalik dan menatap semua karyawan yang berada di dekatnya.
"Kalian dengar?" Mereka mengangguk kaku.
"Lalu kenapa diam saja. Jika hal buruk bagaimana?" Bella menatap tajam.
"Pintunya terkunci dari dalam, Mrs. Kami juga tidak berani," takutnya.
Bella memutar handle pintu. Memastikan jika pintu memang terkunci dari dalam. Bella sebenarnya ragu mengurus ini. Bagaimana jika itu hanya orang bercinta? Dilakukan di toilet saat ada kesempatan tentu bukan hal langka!
Mereka semua termasuk Bella terdiam cukup lama. Tak lama, suara teriakan wanita terdengar sangat menyedihkan. Bella tanpa pikir panjang langsung mendendang keras pintu hingga terbuka kasar.
BRAKK ....
Semua orang menahan nafas dan membola. Pintu itu di desain dengan baik dan tidak mudah dibuka meski didobrak sekalipun. Tapi Bella yang seperti memiliki tubuh lemah itu hanya membuka dengan sekali tendangan!
Sekuat apa Mrs. Qiara! Dia benar wanita, kan?
__ADS_1