Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 106 | Seperti dulu


__ADS_3

"Kalian akan pergi lagi?" Clarissa tidak tahan untuk tidak bertanya ketika melihat anak dan menantinya sudah bersiap akan pergi.


"Yes, Mom. Kami akan menginap di Mansion Englerth. Aku merindukan keluargaku. Tak apa ya, Mom." Bella memelas.


"Bukankah kemarin kalian sudah menginap?" Alfred mengerjit heran. Mereka memang belum mengetahui apapun tentang keluarga Kim atau Villegas yang merupakan keluarga kandung Bella.


Bella dan Alex saling tatap. Mereka lupa menceritakan hal ini pada keluarganya. "Kemarin kami menginap di kediaman Kim," ungkap Alex.


"Kim? Aku tidak pernah mendengarnya." Sofia berpikir.


"Bagaimana dengan Villegas?" Bella ingin memastikan. Mungkin orang-orang tidak mengenal keluarga Kim melainkan Villegas yang merupakan marga ayahnya.


"Villegas ... dia rekan bisnis Dad. Kita pernah bekerja sama dengan perusahaan mereka, Al. Kau lupa?" tanya Alfred. Alex sedikit berpikir.


"Dia pemilik perusahaan mobil terbesar di Inggris. Beberapa tahun yang lalu, dia memindahkan kantor pusat ke New York dan mulai membuka cabang lain. Kita salah satu investornya," jelas Alfred.


"Dunia memang sempit. Ada banyak orang disekitar yang sebenarnya adalah orang terdekat," gumam Bella tersenyum.


"Kenapa, Sayang?"


"James dan Hyuran Villegas sebenarnya orang tua kandungku." Semuanya tidak bisa tidak terkejut. Sofia dan Elora langsung bangkit dari tidurnya dan menatap Bella tidak percaya. Begitupun Clarissa dan Alfred yang terdiam.


"Astaga ... sebenarnya ada berapa banyak permasalahan hidup Kakak. Jujur aku tidak akan sanggup jika menjadi dirimu." Sofia menggaruk kepalanya pusing.


Bella terkekeh. "Ceritanya panjang. Intinya kami menginap disana waktu itu. Hari ini kami akan menginap di tempat Eomma."

__ADS_1


"Ya, baiklah. Hati-hati. Jangan kesehatan dan titip salam kami untuk Eillen dan Steph." Clarissa mengecup kening Bella dan Alex, lalu mencium pipi Jourell yang tertidur di gendongan Bella.


...--- o0o ---...


"Kakak!" Kyle memekik saat melihat siapa yang menjadi tamu malam ini. Tidak ada yang mendengar suara Bell selain dirinya yang kebetulan lewat.


Tapi dia jelas kaget jika kedua kakak nya lah yang menjadi tamunya. Dia pikir Bella tak akan lagi kemari atau sekedar menghubungi karena kebenaran yang terungkap.


"kebiasaan! Bukannya meminta masuk lebih dulu tapi malah memekik. Minggir! Baby Jo bisa bangun nanti." Bella menggerutu pelan sambil berjalan masuk. Tidak peduli dengan wajah Kyle yang sudah berubah kesal. Alex hanya menghela nafas dan mengikuti istrinya.


"Dimana semua orang?" Sepi sekali tempat ini.


"Halaman belakang," ucap Kyle melewati keduanya. Mereka mengikuti.


Ketika sampai, Bella dan Alex melihat Steph, Eillen dan Sam sedang sibuk dengar alat-alat yang biasanya digunakan untuk membakar. Rupanya mereka sedang melakukan BBQ bersama tanpa mengajaknya. Untung dia datang hari ini!


"Tak apa, Bebe. Kita bisa mengundang orang teman-teman kita untuk berpesta juga." Alex mengelus kepala Bella. Mendukung drama istrinya.


Bella berdecak karena ada reaksi apapun dari mereka. Apa ini ... kenapa mereka menjadi canggung. Apa karena Bella bukan anak mereka. Lihat ibunya yang sudah menunduk sedih. Oh, astaga ....


"Jadi kami benar-benar tidak diterima? Oke ... aku akan pergi." Bella berbalik dengan mengulum senyum. Berpura-pura sedih seperti anak terbuang tak apalah sesekali.


Eillen segera mendekat untuk menahannya. Bella masih berpura-pura, dia menunduk ketika Eillen sudah membaliknya dan berdiri menghadapnya.


"Tidak usah berpura-pura. Wajah iblis mu tidak mempan padaku." Wajah Bella seketika langsung berubah menjadi datar dan menatap kesal wanita di depannya.

__ADS_1


Semua orang langsung tertawa, tak terkecuali Alex sendiri. Semua orang juga tahu jika Bella hanya berpura-pura. Wajah sedih sangat tidak cocok padanya.


"Kemari, Al. Biar para wanita itu yang membakar." Steph selalu bersikap santai. Alex mengangguk dan mengambil Baby Jo untuk duduk bersamanya.


Bella mengikuti Eillen yang kini bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi. Bella dibuat bingung dengan reaksi mereka. Apa ada yang terlupakan?


"Tadi pagi ... aku dan Hyuran bertemu." Hyurin berbicara sambil memanggang potongan daging. Bella melakukan hal yang sama namun telinganya masih mendengarkan.


"Dia ingin mengabulkan permintaan pertama dari putrinya sebagai ibu yang mencintai anaknya. Dia ingin berdamai, memaafkan masa lalu dan membentuk kembali keluarga kecil kami tanpa adanya dendam." Eillen tersenyum getir.


Bagaimana mungkin Hyuran yang datang dan berbicara seperti itu, padahal dialah yang seharusnya melakukannya. Hyuran sejak awal hanya korban tapi masih berusaha untuk berdamai dengan masa lalu yang membuatnya terpisah dari buah hatinya sendiri.


Wanita itu sama seperti Bella. Meski memiliki kemarahan yang tinggi, namun tidak membuat mereka menyimpan dendam ataupun benci. Hanya sekedar marah dan kecewa. Eillen merasa malu saat itu, dia adalah kakak tapi Hyuran justru lebih dewasa dari dirinya. Sekarang itu semua diturunkan pada wanita cantik disampingnya.


"Maaf," lirihnya. Bella tersenyum, lalu merangkul lengan ibunya. Dia menyenderkan kepalanya manja di bahu Eillen.


"Aku ingin udang yang paling besar." Bella menunjuk udang yang sedang dipanggang oleh Sam.


Sam langsung melotot tidak terima. "Ini milikku ... kakak ambil yang lain saja!" Kyle ikut mengangguk. Pasalnya itu juga miliknya.


"Eomma ... lihat mereka. Sangat pelit," rengek Bella.


"Sam ... Kylee ... kalian ambil yang lain," perintah Eillen. Bella meleletkan lidahnya mengejek.


"KAKAKK ...."

__ADS_1


Steph, Alex dan para pelayan disana hanya bisa tertawa. Bella memang selalu punya cara untuk mengubah suasana. Entah itu menjadi hangat atau menakutkan. Steph merasa lega dihatinya ketika melihat Eillen kembali tersenyum dan tertawa. Jangan lupakan sikap mengaturnya, itu juga sudah kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2