Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 118 | Maaf


__ADS_3

Seorang gadis muda berjalan kesana kemari untuk melayani pelanggan. Meski hanya toko kue kecil, tapi tak jarang banyak pengunjung yang mengantri. Gadis muda itu tidak mau menyerah dan melakukan yang terbaik selama dia mampu.


"Selamat datang di toko kami," sambutnya ramah. Gadis ini bersyukur karena tokonya selalu ramai. Meski hanya dari kalangan bawah atau menengah, setidaknya mereka memiliki pelanggan.


"Nat, berikan kue ini pada pelanggan disana," seru wanita paruh baya.


"Baik, Mom." Renata kembali mengantar pesanan yang sudah dibungkus itu.


Liburan kali ini, seperti biasa dia hanya akan membantu ibunya di toko. Namun dia bertekat akan menjadi gadis sukses setelah menyelesaikan kuliahnya. Dengan begitu, ibunya tidak perlu lelah untuk bekerja lagi dan cukup dirinya yang bekerja keras.


Keduanya menghela nafas setelah semua kue habis terjual, cukup melelahkan karena banyaknya pembeli. Renata membuka ponselnya yang sejak tadi ditinggalkan. Dia tersenyum melihat banyak pesan dari Sofia yang sangat antusias selama berada di Korea.


Ya. Kehidupannya memang tidak seberuntung Sofia. Gadis itu sudah terlahir dengan sendok emas, sedangkan dia hanya anak dari pedagang kecil. Meski begitu, dia bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati padanya. Memberi sahabat sebaik Sofia dan Elora, lalu diberi kepintaran sehingga bisa meraih beasiswa untuk kuliah.


"Siapa?"


"Oh ... Sofia, Mom." Renata menunjukkan foto-foto yang dikirimkan sahabatnya itu.


Janet menghela nafas, dia menatap putrinya yang juga terlihat senang itu. "Maafkan, Mom," ujarnya pelan.


Renata mendongak. "Kenapa meminta maaf?" tanyanya heran.


"Seharusnya kau tidak membantuku dan ikut dengan Sofia untuk bersenang-senang." Sebagai seorang ibu, apa yang tidak ingin dia lakukan untuk membahagiakan anaknya. Renata berhak untuk menikmati kehidupan masa mudanya, bukan bekerja membantunya seperti ini.


Renata tersenyum. "Ini bukan salahmu. Aku senang bisa membantu, Mom."


"Sudah sore, ayo pulang." Renata mengalihkan pembicaraan.


"Kau keluarlah lebih dulu. Aku ingin mengambil sesuatu didalam dulu." Renata mengangguk.

__ADS_1


Jalanan cukup sepi disekitar tempat mereka. Gadis itu berdiri di pinggir jalan sambil bermain ponselnya. Masih berkirim pesan dengan Sofia yang entah sudah pukul berapa disana. Renata mengalihkan perhatiannya ketika melihat hewan berbulu yang tampak lemah di tengah jalan, sepertinya kucing itu kelaparan. Dia memasukan ponselnya ke dalam tas, bermaksud membantu hewan kecil itu.


Setelah melihat keadaan yang sekiranya aman, dia langsung berjalan ke tengah jalan untuk mengambilnya. Dipeluknya kucing itu dan ingin pergi dari sana, namun sebuah mobil yang entah darimana datang dengan kecepatan tinggi.


Renata membeku, kakinya serasa mati rasa hanya untuk bergerak. Beginikah rasanya ketika kematian sudah berada di depan matamu.


Tanpa sadar, dia langsung berteriak dan terduduk kaget dengan memeluk kucing di pelukannya. Dan ....


Citt ....


"Damn!" Seorang pria mengumpat keras sambil memukul setir mobilnya. Hampir saja dia menabrak gadis bodoh yang berdiri di tengah jalan.


"Kau ingin mati!" bentaknya dari jendela mobil.


Gadis itu tidak menjawab, dia masih terduduk lemas dengan tubuh bergetar. Kali ini, Tuhan berbaik hati lagi untuk membiarkannya hidup.


"Arghh ..." Pria itu keluar dari mobil dan membantunya berdiri. Dia meminggirkan mobilnya ke tepi jalan setelah membawa gadis itu duduk di tempat aman.


"Minumlah dulu. Tubuhmu bergetar hebat." Pria itu menyodorkan sebotol air mineral yang diambil dari mobil.


Renata menatapnya ragu. "Tidak ada racun," ketusnya.


"Thanks." Merasa tidak enak.


"Ya tuhan, Natt. Ada apa?" Janet langsung berlari keluar ketika mendengar suara teriakan putrinya.


"Aku hampir menabraknya, Nyonya. Tapi untungnya tidak ada luka," jelasnya.


"Syukurlah." Janet bernafas lega. Dia meminta maaf pada pria itu setelah mendengar jika Renata berdiri di tengah jalan.

__ADS_1


Pria itu menggaruk tengkuknya canggung. Dia juga salah karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi, tapi kenapa ibunya yang meminta maaf. " Ini juga salahku. Maafkan, saya." Padahal dia juga sempat menyalahkan gadis ini.


Dia memang tipe pria yang sangat menghormati orang tua. Cara bicaranya saja langsung berubah ketika berhadapan dengan Janet. Sangat berbeda ketika berbuka dengan Renata.


"Saya akan bertanggung jawab. Jadi apa yang harus saya lakukan atau berikan."


"Tidak perlu, Tuan. Saya baik-baik saja. Maaf sudah merepotkan dan membuat masalah," ucap Renata menyesal.


"Kalian akan kemana?" Ketika melihat gadis itu akan pergi.


"Pulang."


"Kalau begitu, biar saya antar. Anggap saja sebagai permintaan maaf."


"Tidak perlu, Tuan. Ini hanya kecelakaan."


"Saya mohon, Nyonya. Saya tidak ingin berhutang pada siapapun." Renata dan ibunya saling menatap. Tak lama, Janet mengangguk.


Pria itu tersenyum senang. "Saya Leo."


...--- o0o ---...


"Pakai yang benar. Udara malam sanga dingin." Bella membantu kedua adik iparnya mengenakan mantel.


"Ya. Disini saja sudah dingin." Sofia meniup telapak tangannya.


Mereka sudah diluar rumah, udara memang sangat dingin, jadi Bella menunda jalan - jalan mereka ke Namsan tower karena takut jika Jourell yang masih kecil sakit. Bella hanya membawa mereka berjalan di sekitar rumah, pemandangan disini juga tidak kalah indah.


"Bebe ... besok saja perginya. Udara dingin sepertinya ini sangat cocok untuk saling menghangatkan di—" Alex menghentikan ucapannya ketika melihat istrinya itu sudah melotot kearahnya.

__ADS_1


"Bicara lagi, kau tidur di luar malam ini," ancamnya. Masih sempat saja memikirkan hal mesum seperti ini. Terkadang beralasan ingin memberi Jourell adik agar memiliki teman. Ck!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2