Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 93 | Menikahlah Denganku


__ADS_3

Roselea sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP yang diminta Bella. Wanita itu masih belum sadar karena pengaruh obat yang sempat di suntikkan padanya. Selang infus berisi vitamin juga sudah terpasang di tangannya.


Wanita itu tadinya sempat bangun dan histeris ketika mengetahui dirinya hamil. Seperti dugaan awal Bella, wanita itu tidak terima dan ingin menusuk perut nya menggunakan pisau buah yang ada di nakas.


Untung nya Bella cepat kembali setelah membeli sarapan di kantin rumah sakit. Terlambat sedikit saja, mungkin hilang sudah takdir sang bayi.


Bella duduk di samping ranjang Roselea. Dia menatap sendu ke arah perut wanita yang sedang berbaring itu. Anak itu tidak bersalah, mengapa harus di lenyapkan?


Tangannya terulur dan mengusap lembut perut Roselea dari balik pakaian. Tidak bisa membayangkan jika ibu dari janin itu tetap kekeh ingin menghilangkan nya. Begitu tega kah pada anak sendiri?


"Jangan khawatir, Baby. Mommy mu akan menyayangi dan mencintai mu sebagai harta paling berharga di dunia," lirih nya.


Bella meraih tangan Roselea dan mengelus nya lembut. Wanita ini mungkin merasa depresi dan tertekan. Semua orang pasti sudah mengenal dirinya sebagai wanita tak tahu malu dan memalukan.


Karena hal itu, dia menjadi sedikit kehilangan akal. Dia ingat saat menemukan Vivi dulu, wanita itu juga tampak menyedihkan. Nyaris bunuh diri jika saja Bella tidak melihatnya dan pada akhirnya menjanjikan kehidupan yang lebih baik jika mau kembali bangkit.


"Anak-anak adalah anugerah Tuhan. Diutus hari demi hari untuk bercerita tentang cinta, harapan dan perdamaian," ucap nya pada Roselea meski wanita itu tidak mendengar.


"Dia akan menjadi pelengkap untuk mengisi setiap kekosonganmu. Memberimu kebahagiaan dan menjadikan mu Ibu ratu di setiap cela hati kecilnya. Dia hanya bayi mungil yang membutuhkan seorang ibu untuk mengajarkan nya arti kehidupan dan menjadi sahabat terbaiknya."


"Dia pasti tidak sabar bertemu dengan mu. Melihat sosok malaikat tak bersayap yang akan menemaninya berjalan ke depan. Apa kau tega jika senyum bahagia nya hilang bersama harapan kecilnya? Hilang begitu saja hanya karena wanita yang dia anggap malaikat ternyata ingin dia menghilang dari dunia?"


"Aku harap kau sadar selama matamu tertutup."


Bella merasa berat, matanya sedikit sayu. Tak lama dia terlelap masih dengan posisi sama dengan kepala terbaring di sisi ranjang. Tangannya masih menggenggam tangan Roselea.


Setelah dengkuran halus terdengar, menandakan sang empu telah tertidur dengan lelap. Pemilik mata lain terbuka, menatap seorang wanita yang sudah tertidur.


"Heiden bilang kau berbeda dan istimewa," gumamnya pelan, hampir seperti berbisik.


"Namun, aku tak pernah melihat ada yang istimewa darimu. Kupikir dia berkata begitu karena menyukaimu dan itu membuatku membenci mu!" desisnya.


"Tapi hari ini aku melihatnya, hatimu lah yang berbudi luhur. Bahkan aku jatuh cinta melihatnya. Mereka sangat beruntung memilikimu. Tuan Marcel tidak salah memilih."


"Aku sudah menjahatimu. Tapi, kau justru duduk disini menemaniku. Bahkan Ravenna dan Natalie meninggalkan ku. Aku tahu ini memang kesalahan ku, tapi kenapa harus kau yang memegang tanganku!" Air matanya terurai.


"Kau benar. Aku hanya punya bayi ini untuk bersamaku. Dia tidak akan meninggalkanku seperti Mommy yang sekarang entah kemana. Aku benar-benar sendiri sekarang tanpa kau, Maafkan Mommy." Roselea menangis sambil menyentuh perutnya lembut.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kekayaan dan kemewahan tidak menjamin kau bahagia. Lebih baik hidup susah tapi mulia, daripada kaya tapi terhina.


...--- o0o ---...

__ADS_1


Alex sedikit tidak tenang di meja nya. Tadinya dia sudah menghubungi istrinya itu tapi tak ada balasan. Ketika menelepon kediaman Kim, Hye berkata jika Bella sudah pergi menggunakan mobil James.


Pria ini sempat marah pada Seinth karena tidak menjemput Bella dan malah membiarkan nya pergi sendiri. Tapi Seinth berkata, jika Bella tidak ingin dijemput dan memintanya diam di rumah menunggu Grace datang.


Jadi Bean menyimpulkan, jika nona nya ini pasti pergi ke perusahaan. Menghubungi Ken, rupanya mereka semua telah membuat Bella marah dan berakhir dengan hukuman.


Tapi setelah itu Bella pergi lagi dan tidak mengatakan akan kemana. Itu membuat Alex menjadi semakin khawatir dan ikut marah pada antek-antek Bella.


Sanking khawatirnya, pria ini tidak sadar jika dia sudah memasang GPS pada sang istri.


Ting


'Maaf, Sayang. Aku lupa mengabarimu. Aku baik-baik saja dan masih ada urusan yang harus ku selesaikan. Aku akan pulang sebelum malam. Baby Jo bersama Mama.'


Bean menghembuskan nafas lega lalu memberikan ponsel itu pada Alex. Pria itu ikut lega dan akhirnya bisa tenang dikursinya.


"Kau bilang mereka dihukum kan?" Menatap Bean yang sedikit tidak enak dipandang.


"Benar, Tuan Muda," lesunya.


Sejak hari dimana Vivi mengatakan dirinya seorang j*ala*g dan menolaknya secara halus. Bean tidak pernah lagi menghubungi wanita itu. Jangan salah paham, dia bukan tidak mau menerima, dia hanya syok saja waktu itu.


Sekarang wanita itu di hukum selama dua bulan untuk berada di Moskow dan tidak boleh kembali sebelum waktunya habis. Itu artinya kesempatannya bertemu akan lebih sedikit!


"Pergilah! Ini hari terakhir mu. Jika perlu kau lamar saja dia."


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Wanita itu sudah mati rasa sejak lama, kau pikir dia mau bermain?" ketus Alex.


"Kalau begitu saya akan pergi. Permisi, Tuan." Bean langsung berjalan cepat tanpa menoleh. Anggap saja ini kesempatan terakhir!


...--- o0o ---...


"Semua sudah siap?"


"Sudah."


Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu Apartement milik Seinth dan Grace. Mereka pulang lebih awal atas perintah Bella agar bisa bersiap-siap sebelum berangkat besok.


Mereka sudah merebahkan diri di sandaran sofa sambil sedikit mengingat kejadian dimana Bella marah.

__ADS_1


"Kalian memang sedikit keterlaluan saat ini," ucap Seinth. Membuat banyak tatapan tajam melayang padanya.


"Aku tidak menyesal melakukannya," jawab Grace dan di setujui oleh mereka.


"Jika nona tahu, mungkin hukuman kalian akan bertambah."


"Kami tidak peduli." Sandra bersuara.


"Aku lebih rela nona menghukumku daripada membiarkan j*al*ng itu lepas. Setelah menghina nona sesuka hati, dia pikir bisa selamat dari kami."


"Benar." Monica Setuju.


"Aku mengerti," jawab Seinth


"Kita memang menangis, tapi bukan berarti menyesal. Namun karena nona marah pada kita dan hati ku sakit." Vivi.


Mereka terdiam, tak lama suara Bell terdengar. Mereka saling menatap satu sama lain. Siapa yang begitu berani datang ke tempat mereka?


Nona bos? Tidak mungkin.


Vivi berinisiatif dan bangun untuk membuka pintu. Jarak pintu dan ruang tamu tidak lah jauh karena masih berada di satu tempat. Jadi, mereka bisa melihat siapa yang datang dari arah sofa.


Ceklek, pintu terbuka. Menampilkan sosok tinggi dan gagah. Pria itu tersenyum ketika melihat siapa yang membuka pintu. Berbeda dengan para antek-antek Bella yang penasaran dengan kedatangan pria itu.


"Masuklah, Bean." Seinth mempersilahkan.


"Thanks." Melirik Vivi yang sedikit sinis melihatnya.


Bean terlihat salah tingkah. Dia mengusap tengkuk nya canggung ketika semua tatapan yang berbeda-beda tertuju padanya.


"Kau tidak ingin duduk?" ucap Ken.


"Seperti ini saja." Berdiri di depan mereka semua, semakin membuat mereka menatap aneh.


"Baik!" lantang nya. Mereka tersentak kaget. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja berbicara keras.


"Vivi, menikahlah denganku!" ucap nya percaya diri.


"APA!" teriak mereka semua kaget seraya berdiri dari tempatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...😌😌😌...


__ADS_2