
QA International Group
Alex yang sudah sampai langsung menuju ruangan Bella tanpa memperdulikan tatapan para karyawan. Semua dunia sudah tahu tentang hubungan Alex dan Bella. Hanya saja identitas Bella masih dirahasiakan.
Meskipun banyak media yang berusaha mencari tahu lewat sosial media Bella, tapi tidak ada informasi mengenai status Bella. Hanya ada foto-foto Bella yang berlibur di macam-macam negara.
Melihat dari gaya bahasa dan karisma Bella. Semua orang menyimpulkan jika dia mungkin seorang Nona Muda. Meski begitu, bukan berarti tidak ada sindiran atau komentar pedas dari para netizen! Malam pengakuan keluarga Ramona telah menjadi hari patah hati intenasional.
“Selamat siang, Tuan muda,” ucap Vivi. Alex hanya mengangguk
“Dimana Sofia?”
“Nona Sofia bersama Direktir Mon di ruangannya, Tuan.”
“Hm ... apa Bella didalam?”
“Yes, Tuan. Nona ada didalam bersama Manajer Mike.” Alex memasang wajah kecut saat mendengar Bella bersama laki-laki lain diruangan tertutup. Langsung saja Alex berjalan masuk setelah membuka pintu.
“Mungkin soal pekerjaan, Tuan.” Bean mengerti wajah tidak suka yang ditunjukkan Alex. Jadi mencoba menenangkannya.
Tapi saat akan masuk, mereka dikejutkan dengan penyiksaan batin yang dialami Mike didalam sana. Dimana sang penyiksa hanya duduk tertawa seperti malaikat tanpa dosa. Bella yang memang telah kembali menjadi tidak normal tidak membiarkan Mike begitu saja. Entah kenapa dia sangat ingin mengerjai pria ini.
Jadi memberinya makan Strawberry masam miliknya dengan perasan buah lemon. Tentu saja dengan ancaman yang membuat Mike tidak bisa menolak.
“Uhuk ... uhuk ... kau ingin membunuhku ya!”
“Baiklah sudah cukup. Pergi minum sana!” Bella sudah tidak kuat lagi tertawa.
“Aww ...” Bella memegang perutnya yang terasa keram. Alex yang melihat itu langsung menghampiri Bella yang membuat sang empu terkejut.
“Bebe ... ada apa? Biar ku lihat!” Alex yang panik tanpa sadar ingin membuka pakaian Bella untuk melihat perutnya. Tapi segera dipukul oleh Bella. Yang benar saja!
“Kau gila! Liat ada siapa disini.” Alex tersadar jika masih ada Bean dan Mike yang menatap bodoh kearahnya dan Bella.
“Apa yang kalian lakukan. Cepat pergi!” Mike berdecak kesal. Dasar suami dan istri sama saja! Setelah menyiksanya, dia dibuang begitu saja. Sungguh kejam!
“Iya iya ... tanpa kau minta sekalipun, aku juga akan pergi!”
“Ayo Bean. Kita tinggalkan pasangan gila ini!” Mike merangkul Bean keluar masih dengan wajah masam.
“Sekretaris Vi ... bisa ambilkan aku air.” Vivi menatap Mike datar. Hell ...! Memangnya dia siapa.
“Kau pikir aku pembantu. Ambil sendiri sana!”
“Kenapa kalian semua sangat kejam padaku.” Mike memasang wajah sedih dan langsung ditonyor oleh Ken yang kebetulan baru datang dari rapat.
“Menjijikan, Jerk!”
“Damn!” Mike mengusap kepalanya sambil menatap Ken sengit.
“Kau sangat menyedihkan,” ucap Bean prihatin. Membuat Mike bertambah kesal. Dia seperti anak tiri yang dibully oleh para saudaranya.
“Akh ... kalian membuatku kesal saja.” Mike segera beranjak pergi tanpa menghiraukan Ken dan Bean yang tertawa menatap kesialannya.
-
-
“Sudah! Biar ku lihat.” Alex kembali ingin menyibak pakaian Bella yang memang hanya memakai rok dan kaos putih.
__ADS_1
“Itusih keinginanmu!” Bella pikir dia tidak tahu jika pria ini sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Alex terkekeh sambil memeluk perut Bella dan membenamkan wajahnya disana.
“Apa sakit?” Alex mengelus pelan perut Bella dari balik kaosnya. Bella menggeleng pelan, dia merasa sangat nyaman seperti ini.
“Aku harap dia cepat hadir disini.” Mengelus perut Bella.
“Apa kau sangat ingin?”
“Selama kau yang menjadi ibunya.” Bella tersenyum sambil mengelus kepala Alex dipangkuannya.
Alex baru menyadari jika ada satu pot Strawberry diatas meja. Dia menatap Bella bertanya. “Oh ... aku sangat ingin memakannya, jadi meminta Mike membelinya.”
“Tapi itu sangat masam, Bebe. Bagaimana jika perutmu sakit.”
“Tidak. Justru itu sangat nyaman diperutku. Aku berniat membelinya lagi.”
“Biar Paman Smith yang membelinya. Aku tidak suka kau terus merepotkan dirimu!” Bella mengangguk patuh, jika Alex sudah bilang tidak, maka turuti saja jika tidak ingin berkepanjangan.
“Ruangan apa itu?” Alex melihat sebuah pintu didalam ruangan Bella. Ini memang baru kedua kalinya dia datang, jadi wajar jika masih banyak hal yang tidak dia ketahui. Berbeda dengan Bella yang memang selalu dia bawa ke kantornya dengan alasan tidak ingin berpisah.
“Kamar pribadiku. Dulu aku sangat malas pulang, jadi sering menginap disini,” ucap Bella acuh. Dia tidak menyadari jika ada senyum smirk yang mengarah kepadanya. Bukankah bagus jika Bella juga memiliki kamar sendiri di kantornya. Dengan begitu dia bisa lebih leluasa lagi.
“Aku ingin melihatnya.” Alex bangun dan menarik pelan tangan Bella agar berdiri dan membawanya ke pintu kamar. Bella tidak menolak karena Alex hanya ingin melihat, tidak ada salahnya, pikirnya.
“Password nya?” Ya, kamar pribadinya memang menggunakan Password karena tidak perlu lagi menggunakan kunci yang menurut Bella akan merepotkan jika kuncinya tertinggal atau hilang.
“HyunaKim26.”
“Hyuna?” Alex tampak asing dengan nama itu.
“Itu nama pertamaku sebelum keluarga Victor mengadopsiku. Setelah itu ayahku menggantinya dengan Qiara.” Alex merasa menyesal telah bertanya. Ternyata masih banyak hal yang harus dia pelajari lagi tentang wanitanya ini.
“Maaf,” ucapnya menyesal.
“Mengingatkanmu kembali.” Alex membawa Bella kepelukannya setelah membawanya masuk kedalam kamar.
“Kau menyesal atau sedang bahagia?” Alex mengerjit bingung dengan perkataan Bella.
“Hati dan tubuhmu berbicara lain!” Bella menarik tangan Alex yang sudah menjalar kemana-mana. Pria ini selalu mencari kesempatan dimana-mana. Alex kembali terkekeh gemas kemudian menatap Bella dengan pandangan mesum.
“Kita harus mencobanya, Bebe. Bukankah sayang jika ranjang ini dibiarkan tanpa disentuh?” Alex menyeringai. Bella melotot tidak percaya. Apa pria ini gila!
“Ini kantor, Al!”
“Memangnya kenapa? Kita juga melakukannya di kantorku,” ucap Alex santai membuat Bella merona malu.
“Kau menyebalkan!” desis Bella sambil memukul dada Alex kuat. Alex tertawa geli menahan pukulan Bella yang menurutnya cukup kuat untuk ukuran wanita. Dia curiga jika Bella punya kemampuan bela diri.
“Why? Kau juga menikmatinya, Bebe.” Alex kembali menyeringai jahil. Dia memang sangat suka menggoda Bella yang notabennya memang cukup polos untuk masalah percintaan.
“Kau ...” Alex membungkam bibir Bella dengan ciumannya sebelum dia kehilangan kesempatan. Alex mengangkat Bella dan menindihnya di ranjang.
Siang ini menjadi saksi bisu antara dua cinta yang sedang memadu kasih. Hanya suara ambigu yang terdengar namun tidak sampai keluar karena ruangan Bella sendiri dilengkapi dengan kedap suara.
...--- o0o ---...
Ramona Mansion, 05:00 p.m
“Kalian sudah pulang. Kemari!” pekik Clarissa saat melihat Alex, Bella dan Sofia.
__ADS_1
“Ada apa, Mom?”
“Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Dan Mommy yang akan mengurus semuanya, jadi apapun yang Mom lakukan. Tidak ada penolakan. Mengerti!”
Alex hanya tersenyum tipis, memang ini yang dia inginkan. Mengikat Bella menjadi miliknya seumur hidup. Dia tidak peduli pernikahan seperti apa yang akan dilakukan ibunya. Yang terpenting adalah memiliki Bella, tidak peduli seperti apa cara mendapatkannya.
“Apa bisa jika pernikahan ini dilakukan dengan sederhana?” Bella sangat tahu jika Clarissa adalah wanita sosialita kelas atas yang begitu terhormat. Jadi bayangkan saja seperti apa konsep yang akan dia buat.
“Ada apa, Sayang?” Alfred dibuat bingung dengan permintaan Bella.
“Tidak. Hanya saja menurutku ini berlebihan.”
“Tidak ada yang belebihan, sayang. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidu. Jadi pastikan itu akan menjadi hari paling berkesan selama hidupmu,” ucap Clarissa lembut. Dia benar-benar bangga dengan Bella yang tidak pernah berfoya - foya seperti wanita kebanyakan.
Disaat wanita lain dengan senang hati menerima tumpukan berlian, Bella malah dengan senang hati menolaknya. Bukankah perbedaannya sangat jauh?
“Sudahlah, Bebe. Biarkan saja Mom melakukan apa yang dia inginkan. Pada intinya kita akan menikah kan? Kita fokus saja membuat cucu untuk mereka.” Alex menyeringai jahil dan dibalas pelototan oleh Bella. Bahkan disituasi seperti ini, pria itu masih bisa berpikiran mesum!
Tak tahu malu!
Sofia yang sejak tadi hanya memperhatikan kini tersipu mendengar ucapan vulgar Alex. Ayolah! Dia masih polos, tapi harus dihadapkan dengan adegan orang dewasa.
“Kau ini! Liat adikmu, Son.” Alfred menggelengkan kepala tidak habis pikir. Darimana sifat putranya itu berasal. Sepertinya Alfred tidak sadar jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Sofia sudah besar, Dad. Nanti juga akan merasakannya,” ucap Alex santai.
Bella mendengus kesal. “Bagiku dia masih kecil, awas saja jika ada yang mendekatinya sembarangan!”
“Kakak! Kenapa malah membahas diriku. Lagipula aku sudah besar.”
“Tidak usah macam-macam, Sof! Kau itu wanita, sekali masuk kandang singa. Maka akan sangat sulit untuk keluar.” Alex mendelik sebal. Apa Bella sedang menyindirnya! Clarissa, Alfred dan Sofia terbahak saat mengerti maksud Bella.
“Kau benar, Sayang ...”
“Kakak harus segera membuat segel pelindung ...”
“Apa perlu Dad memasang pintu anti banting di kamarmu ...” Mereka semua tertawa senang saat berhasil menyudutkan Alex.
Alex terus memasang wajah masam saat Bella juga ikut menertawakannya. “Kau menertawakanku ... heh!” ucap Alex rendah namun tersirat emosi. Bella mengatup bibirnya rapat. Mereka bertiga seketika juga berhenti tertawa.
“Kenapa berheti? Ayo tertawa lagi.” Bella ikut menciut. Perasaannya terasa terancam.
“Aku ada urusan. Dad pergi dulu.”
“Mom juga harus mengurus pernikahan.”
“Aku juga ada tugas kantor.” Mereka bertiga akhirnya pergi sebelum menatap Bella dengan pandangan iba.
“A ... a ... ku juga ....”
“Ingin pergi juga?” ucap Alex dingin.
“Tidak, Sayang.” Bella mengelus dada tegap itu dengan senyum manis menggoda. Shit...! dia sudah seperti bit*h yang akan melayani tamunya!
“Lalu?” Alex meremas paha Bella sedikit kuat. Bella meringis pelan.
Baiklah Bella! Kau tidak bisa menghadapinya dengan fisik tapi dengan cinta!
“I want you ...” Bella langsung ******* bibir Alex kasar. Alex menyeringai puas dalam hati. Akhirnya setelah sekian lama, wanita ini mengambil inisiatif untuk memulai lebih dulu. Dia meraih Bella seperti koala dan membawanya ke lantai atas menuju kamarnya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu,” bisik Alex pelan disela-sela langkahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...