Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 52 | Kecemasan yang Terjawab


__ADS_3

Seorang wanita cantik duduk termenung di sebuah taman yang dipenuhi berbagai macam bunga. Tangannya terus mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Ditemani dengan dua wanita paruh baya yang sudah tidak muda lagi namun tetap menampakkan kecantikan mereka.


Sejak memasuki usia kehamilan delapan bulan, Bella lebih sering melamun. Tidak seceria dulu, tidak ada lagi tingkah atau permintaan yang membuat mereka geleng–geleng kepala. Hingga sekarang yang sudah memasuki bulan ke-sembilan dan itu membuat Alex termasuk keluarga yang lain menjadi cemas.


“Menurutmu dia laki–laki atau perempuan?” Clarissa mencoba berbicara, Bella menoleh pelan.


“Entahlah,” singkatnya datar, lalu kembali memperhatikan taman bunga.


“Sayang. Kau ingin sesuatu?”


“Tidak.”


Eillen dan Clarissa menghela nafas. Dimana Bella yang dulu, pikir mereka. Apa yang wanita ini sedang pikirkan?


Tak lama Alex datang sambil berlari kecil dengan setelan kerjanya. Sebenarnya Alex sudah tidak kekantor sejak bulan ke – delapan kehamilan Bella karena dia ingin selalu siaga mengingat istrinya sedang hamil tua.


Namun berhubung ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, jadilah dia terpaksa pergi setelah meminta ibunya untuk menemani Bella sampai dia datang. Begitu rapat selesai, Alex langsung pulang tanpa mampir keruangannya lebih dulu.


Alex mencium pipi gembul Bella dan perutnya bergantian. Bella hanya diam melihat apa yang dilakukan Alex. Melihat respon istrinya yang biasa saja, pria itu menoleh pada ibu dan mertuanya itu dan dibalas gelengan oleh mereka.


“Merindukanku?” Bella menoleh pada Alex yang sudah memeluknya dari samping, pria itu meletakkan dagunya di bahu Bella.


“Kau baru pergi tiga puluh menit yang lalu,” ucapnya pelan.


“Ck! Aku bahkan sudah merindukanmu begitu memasuki mobil tadi.” Alex cemberut.


Bella terkekeh, tangannya terangkat, membelai lembut kepala suaminya yang mulai bertingkah itu. Clarissa dan Eillen memilih pamit dan membiarkan mereka berdua.


“Jika begitu, mungkin akan sulit.” Alex mengerutkan kening, apanya yang sulit?

__ADS_1


“Apa yang sulit?”


“Tidak ada.” Bella kembali memalingkan wajahnya, menatap taman.


“Bebe ... sebenarnya kau kenapa?” tanya Alex sedih.


Dia lebih suka direpotkan dan dibuat susah seperti kemarin–kemarin daripada melihat Bella seperti ini. Walaupun awalnya dia ingin istrinya kembali normal, tapi bukan seperti ini yang dia inginkan.


“Aku baik–baik saja, Sayang.”


See ... inilah jawaban yang selalu dia dengar setiap kali dia bertanya pada istrinya ini. Padahal Alex tahu jika ada kecemasan dan ketakutan dimatanya, tapi wanita ini enggan memberi tahu dan memilih memendamnya sendiri.


“Bebe, sebenarnya aku siapamu?” Alex melepas pelukannya dan menatap serius.


“My husband, of course.” Bella menyerjit.


“Apa kau tidak percaya padaku?”


“Lalu, kenapa kau seperti ini? Kau bilang aku suamimu, tapi kenapa kau tidak mau terbuka padaku? Atau aku sudah tidak penting lagi bagimu.” Bella terdiam.


Benar apa yang pria itu katakan. Dia bukan tidak ingin terbuka, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang dia cemaskan. Hanya saja, ada rasa aneh yang membuatnya takut. Apa semua ibu hamil mengalami ini? Dia tidak tahu.


“Al ...” ucapnya lirih.


“Katakan saja, tak apa.” Merengkuh wajah wanita itu.


“Apa semua akan baik-baik saja setelah ini?” Alex semakin dibuat bingung.


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Jika aku tidak selamat saat melahirkan, apa kau akan menikah lagi?”


“BELLA!” Alex yang tidak suka mendengar ucapannya tanpa sadar membentak wanita itu. Bella langsung menunduk takut, meremas tangannya, air matanya mengalir begitu saja.


“Aku hanya cemas, Al.” Nadanya bergetar, semakin menunduk. Alex yang sadar apa yang dia lakukan langsung mengusap rambutnya kasar.


“Maaf, aku tidak bermaksud. Aku tidak suka kau mengatakan itu.” Alex memeluk istrinya yang sudah menangis itu.


“Kau tidak boleh mengatakannya lagi, Bebe. Semua akan baik–baik saja dan kita akan membesarkannya bersama. Kau dan aku. Mengerti?” Bella mengangguk dalam pelukannya, meski masih ada keraguan dalam hatinya.


“Sekarang katakan, kenapa kau bisa berpikir begitu?” Bella terdiam, apa perlu dia katakan?


“Bebe!”


“Aku melihatnya di drama yang kutonton. Wanita itu meninggal setelah melahirkan dan tak lama, suaminya menikah lagi karena anaknya butuh sosok ibu,” jawabnya menunduk.


“Drama!” ucap Alex tajam. Bella mengangguk sembari menunduk lagi, takut melihat tatapan dingin suaminya.


“BEAN!” Bella terkejut saat Alex tiba – tiba berteriak memanggil pria yang sejak tadi berdiri cukup jauh dari mereka.


“Iya, Tuan?”


“Musnahkan semua kaset atau video tentang drama-drama tidak jelas itu. Periksa kamar Sofia beserta laptopnya! Jangan sampai aku mendengar ada yang berbicara tentang drama lagi!” perintahnya dengan rahang mengeras.


Ini tidak bisa dibiarkan. Dulu dia bertengkar karena orang ketiga yang dilihat Bella di dalam drama. Sekarang? istrinya seperti ini karena drama juga!


Bella terkejut, tapi mana berani dia menyela saat Alex sudah berada di mode puncak.


Maafkan aku, Sofia.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...LIKE LIKE LIKE...


__ADS_2