Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 42 | Tidak Ada yang Sia-sia


__ADS_3

Semua orang tengah sarapan sebelum memulai aktivitasnya masing – masing. Alex tidak lagi malas kekantor sejak kejadian dua minggu yang lalu dimana kaki Bella mulai membengkak. Hal itu sukses membuat seorang Alex panik dan melarang Bella untuk beraktivitas.


“Ayo pergi Shopping hari ini. Mommy sudah lama tidak berbelanja. Pasti banyak barang – barang baru.” Clarissa antusias mengajak anak dan menantunya. Bella langsung berbinar, dia memang sangat ingin keluar dari kurungan ini.


Alex yang akan pergi bekerja langsung mengurungkan niatnya saat mendengar Ibunya. Dia saja sudah sangat susah membujuk Bella agar tidak keluar rumah. Tapi Ibunya itu malah mengajaknya.


“Tidak, Mom! Bagaimana jika Bella kelelahan. Mom lupa Bella hamil,” ucap Alex ketus. Bella langsung memberengut.


“Kau ini ... justru itu Mommy membawanya keluar agar tidak stress!”


Clarissa memang sengaja karena merasa kasihan pada menantu kesayangannya ini yang merasa terkurung di rumahnya sendiri.


“Kalo begitu ikut saja denganku. Sama saja kan?”


“Tidak mau! Aku ingin pergi dengan Mom.” Alex menatap Bella tajam.


Pasti aku hanya bisa duduk diam sambil mengamatimu bekerja. Apa bedanya dengan disini! batin Bella kesal.


“Bebe ....”


“Sudahlah, Kak. Kami akan menjaganya agar tidak kelelahan nanti.” Sofia ikut kesal karena Alex tidak pernah membiarkan Bella pergi kecuali ikut dengannya kekantor.


“Biarkan saja, Son. Bella pasti bosan, jadi biarkan dia pergi dengan Mommy mu dan Sofia.” Lagi – lagi Alex terpojok oleh keluarganya sendiri.


“Tidak bisa!”


Bella yang kesal langsung duduk di Sofa ruang tamu dengan wajah cemberut sambil mengamati perdebatan keluarganya dimana Alex tidak mau kalah dengan argumentnya.


Sabar, Nona. Tuan muda sudah jadi budak cinta anda. batin Bean menatap iba pada Bella. Bella yang melihat itu semakin masam lalu mempelototi Bean. Bean menyusap tengkuknya canggung.


“Ya sudah. Aku tidak akan pergi!” Bella beranjak naik kekamarnya. Dia benar – benar kesal pada Alex yang tidak mau melepasnya meski sebentar.


“Bebe ... pelan – pelan. Ada anakku ingat.” Alex mengikuti Bella yang menaiki tangga dengan cepat.


“Anakku ...!”


“Iya, anak kita!”


“Pergi, jangan mengikutiku ...” Alex menghela nafas kasar. Beginilah sulitnya membujuk wanita hamil didepannya jika sudah marah.

__ADS_1


“Oke, Fine! Jadi berhentilah berlari. Kau membuatku takut.” Bella langsung berhenti dan berbalik. Matanya berbinar senang membuat Alex gemas melihatnya.


Ekspresinya bahkan sangat cepat berubah.


“Really?”


“Yes ...” jawabnya pasrah.


“Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Sangat!” Bella memeluk Alex dan menciumnya berkali – kali.


“Ck! Jangan memaksakan diri. Jika merasa lelah sedikit saja, maka istirahatlah. Mengerti!”


“Baik!” Alex tersenyum.


“Aku juga mencintaimu. Lebih besar dari pada kau mencintaiku.” Memeluknya erat.


.


.


.


.


“Jam berapa kelas Sofia selesai?”


Alfred mengalihkan matanya pada majalah dan menatap Bella yang sedikit tidak sabar. Dia hanya menghela nafas pelan. Selama dua minggu ini, putranya memang tidak membiarkan istrinya itu pergi keluar bahkan melarangnya melakukan aktivitas kecil sekalipun.


Jadi Bella hanya bisa duduk, makan, tidur, menonton, bermain handphone. Itu karena Kepala pelayan senantiasa mengawasi Bella atas perintah Alex yang memintanya untuk melaporkan kegiatan Bella setiap jamnya. Jadi wajar saja jika menantunya ini sangat ingin keluar secepatnya.


“Mungkin sekitar satu jam lagi, Sayang.” Clarissa mengelus kepalanya sayang.


Ya. Sofia sudah menyelesaikan magangnya sejak sebulan yang lalu. QA sendiri memang hanya menetapkan magang selama tiga bulan untuk para pelajar dari Universitas.


“Kenapa tidak pergi sekarang sambil jalan – jalan disekitar kampus?” Alfred menyarankan.


Benar juga, lagipula aku ingin segera keluar.


“Mom ... ayo pergi sekarang saja.” Bella memeluk lengan Clarissa dengan wajah imutnya.

__ADS_1


Clarissa hanya mengangguk pasrah melihat tingkah menantunya. Wajah dan tubuhnya kini bisa dibilang cukup berisi karena faktor kehamilan tapi siapa sangka jika kondisi ini malah membuat Bella telihat lebih seksi karena bagian tertentu yang ikut menonjol.


Setelah siap, mereka berdua langsung pergi menuju kampus Sofia ditemani sopir pribadi Ramona. Bella menyenderkan kepalanya di bahu mertuanya, matanya fokus melihat jalan didepannya. Bella melihat gedung besar didepannya. Salah satu Universitas terbaik di New York yang memiliki peringkat sejajar dengan Universitas – universitas ternama dunia.



Karena kondisi kampus yang sangat ramai, Bella mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih menunggu di Cafe depan kampus. Lagipula tempat itu sangat besar, pasti hanya membuatnya kelelahan lebih dulu.


Clarissa hanya memesan Jus apel kesukaan Bella karena wanita itu menolak untuk makan. Dia juga sudah memberi tahu putrinya jika dia dan Bella menunggu di Cafe. Bella tersenyum tipis melihat ramainya para mahasiswa dan siswi yang sedang menikmati masa muda mereka. Bercanda, tertawa dan bermain.


Berbeda dengannya dulu, dia hanya fokus untuk lulus menjadi yang terbaik hingga lupa caranya bersenang – senang. Meskipun usianya masih menginjak 15 tahun sebagai pelajar tapi tidak bisa dipungkiri jika fisiknya saat itu sudah cocok menjadi mahasiswi.


Tidak masuk akal memang. Banyak yang tidak percaya jika dia masih di bawah umur tapi sudah menjadi seorang mahasiswi? Bahkan lulus S1 di usia tujuh belas tahun?


Jika bukan karena tuntutan hidup yang membuatnya harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dia mungkin masih menikmati bangku kuliah sebagai pelajar di usinya yang sekarang menginjak dua puluh satu tahun. Bukan menjadi wanita hamil yang sibuk dengan urusan rumah tangga.


Tapi dia tidak pernah menyesal. Bertemu dengan Alex telah menjadi salah satu takdir terindah dalam hidupnya. Dia yang dulu tidak percaya dengan cinta kini merasakannya sendiri. Cinta dari orang – orang terkasih yang mencintaimu dengan tulus.


“Bagaimana kuliahmu dulu?” Clarissa penasaran.


“Biasa saja. Tidak ada yang menyenangkan.” Bella menyeruput Jusnya.


“Why? Kau cantik dan pintar. Pasti banyak yang ingin berteman denganmu.”


“Dulu aku terlalu perfeksionis. Aku hanya sibuk belajar dan belajar tanpa memikirkan hiburan. Yang kupikirkan hanyalah lulus sebagai yang terbaik. Mom tahu kondisiku dulu tidak seberuntung orang lain.” Clarissa meraih tangan Bella dan mengusapnya lembut.


“Selalu ada perjuangan yang harus dilakukan selama kita hidup, Sayang. Tapi, teruslah percaya bahwa perjuangan tersebut akan membuahkan hasil yang memuaskan ...” Clarissa menjeda.


“Selama ini kau sudah berusaha keras untuk meraih kebahagiaan mu sendiri. Meski kondisimu yang berbeda dan menuntutmu untuk terus maju tapi tidak ada usaha yang sia – sia. Tuhan telah membayar semua masa tersulitmu dengan kebahagiaan tak ternilai ini.” Clarissa tersenyum sambil membelai perut buncit Bella.


“Benarkan, cucu Grandma?” ucap Clarissa diperut Bella.


“Benal, Glandma,” jawabnya. Clarissa dan Bella tertawa lucu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...VOTE...


...LIKE...

__ADS_1


...COMMENTS...


...RATE...


__ADS_2