
Ting
Bunyi lift terbuka, Natalie keluar dengan seorang pria dan beberapa karyawan lain yang bertujuan sama. Natalie jadi penasaran semenakutkan apa orang-orang ini, pasalnya sejak tadi mereka hanya sibuk menarik nafas dan membuangnya.
Ketika di tanya kenapa? Untuk cadangan nyawa jika habis sebelum waktunya, hanya itu yang dia dengar. Kecuali, satu pria tampan yang tampak santai tanpa rasa takut, malah dia terus tersenyum.
Orang-orang aneh, pikirnya.
Mike adalah orang itu, berkas di tangannya hanya alasan bertemu sang pujaan. Dia tidak peduli dengan para staff yang sudah ketakutan.
Bersiul sambil menyisir rambut nya dengan jari tangan, Natalie semakin memandang aneh pria itu. Semua orang ketakutan disini, tapi dia terlihat sangat bahagia.
"Itu sekretaris Vivi dan Sekretaris Liza," bisik salah satu *s*taff yang ikut.
"Kau lebih dulu." Menodong teman nya disebelah.
"Kau saja." Mendorong teman sebelah nya lagi.
"Tidak mau!"
"Aiss ... kalian ingin dua singa itu mengamuk ya? Biar aku saja." Mike berjalan lebih dulu.
Natalie hanya mengikuti di belakang mereka, namun dia sedikit tertegun saat melihat rupa dua sekretaris yang bisa dibilang memiliki paras yang sangat cantik dan elegan layaknya kasta atas.
Sebenarnya hampir semua staf atau karyawan yang di jumpainya disini memiliki penampilan yang berkelas. Mungkin jika bukan kantor, tempat ini bisa menjadi tempatnya ajang pencarian model. Tidak heran jika QA dikenal sebagai perusahaan nya para sosialita.
"Ekhem. " Mike berdehem keras untuk membuat sang empu menyadari mereka.
"Kau sakit?" Vivi bertanya tanpa menoleh, Mike mengerjit. "Biasa nya kau menganggap kami hantu dan melewati begitu saja," sambungnya datar.
Mike geram, wanita ini! Selalu membuatnya kesal!
Brak!
Semua orang langsung tersentak kaget saat Vivi menutup kasar dokumen nya dan meletakkan nya kasar pula, kemudian berdiri tiba-tiba, bahkan Liza juga ikut tersentak dibuatnya.
__ADS_1
Oh tuhan! Apa dia marah, lindungi kami tuhan, batin tiga staff itu.
"Kau segera pergi temui asisten Sandra dan kembali secepatnya!" Tunjuknya pada Mike yang seketika berbinar.
"Kalian bertiga masuk ke ruang Direktur Mon." Tanpa pikir panjang, ketiganya langsung pergi.
"Dan Nona Natalie ...."
Natalie terkejut karena Vivi sudah mengenali nya lebih awal, dan juga ... tatapan tajam ketidaksukaan?
"Jadi kau teman ular itu, sungguh tidak beruntung," sinisnya. Natalie benar-benar seperti tersihir, orang-orang ini sebenarnya berlidah tajam. Entah kenapa dia sedikit takut.
Liza hanya melirik tanpa berniat membantu, dia lebih suka pada pekerjaan nya sekarang.
"Aku tidak tahu masalah apa yang di lakukan Roselea hingga menyinggung kalian, tapi apa pun itu, aku tidak terlibat." Natalie berusaha tenang, tidak heran orang-orang cukup takut pada mereka. Belum masuk saja, sudah ditodong tatapan permusuhan.
"Mungkin maksudmu hampir?" sinisnya lagi. Jika ini industri perfilman, Vivi mungkin bisa masuk sebagai pemeran antagonis.
"Vi, lebih baik bawa dia masuk sekarang. Aku tak ingin melihatnya lama-lama." Liza Jengah.
Sungguh, mulut mereka bisa membuat orang sakit hati! Untungnya Natalie mencoba tetap sabar mengingat hanya ini yang bisa membantunya.
"Partner mu sudah datang." Vivi bersedekap.
Grace menoleh dan mencibir. *P*artner? Ck!
"Duduklah." Wanita itu menurut.
Natalie ingat betul tulisan di depan pintu menyatakan jika ini ruangan CEO, apa wanita yang bernama Grace ini pemimpinnya? Wanita yang selama ini di cari oleh seluruh dunia sebagai ratu bisnis?
"Bukan aku," dinginnya, seakan tahu pikirannya.
Bukan?
Ceklek, pintu yang diyakini sebagai kamar pribadi itu terbuka. Grace langsung berdiri, kecuali Natalie yang langsung membeku melihat sosok cantik bak dewi yang sangat dikenalnya itu.
__ADS_1
Apa hubungan mereka? kenapa Qiara bisa ada disini?
Bella belum menyadari keberadaan seseorang yang mungkin tidak dia ingat wajahnya. Memang kapan ibu satu anak ini mengingat orang lain dengan mudah? Bahkan dia tidak mengingat Clarissa dan Sofia di hari pertemuan mereka di Mall saat itu.
"Berhentilah mengganggu ku, Al. Bean bilang kau ada rapat lima menit lagi!" Ya, wanita itu sibuk dengan ponsel yang menampilkan wajah bayi besar miliknya.
Sudah satu jam sejak Alex menghubungi nya dengan video call, entah kenapa ini terlihat seperti hubungan jarak jauh! Satu jam hanya untuk mendengar gombalan Alex, cukup membuat Bean harus kelimpungan sendiri menghadapi tuannya.
Dasar budak cinta! Anda bisa memeluk nona setelah ini, Tuan! Dengan senang hati aku akan mengantarmu daripada mendengar ocehan anda yang membuatku ingin muntah! teriak Bean dalam hati.
Jourell sendiri sudah tertidur di ranjang akibat mengantuk mendengar ocehan ayahnya yang sudah seperti dongeng untuknya.
"Kau tidak suka bersama ku ya! Setelah rapat aku akan menculikmu dan menitip Baby Jo pada Mom."
"Ya, titip saja terus. Lama-lama dia akan mengenali Mom sebagai ibunya dan aku hanya pengasuhnya!" ketus Bella.
"Lagipula jika ingin menculik tidak perlu bilang! Kau ingin menculik atau mengajak liburan!"
"Tuan, kita akan terlambat." Suara frustasi Bean diujung sana.
"Apa kau tidak bisa diam! Kau tidak lihat aku berbicara dengan istriku!" marahnya.
Bella menghembuskan nafas kasar. Ya Tuhan, pria ini sepertinya kekurangan kasih sayang.
"Al, pergilah. Aku akan kesana bersama Baby Jo nanti. Kau akan melihat wajah cantik ku begitu masuk ruangan." Sabar Bella disertai gemas.
Alex menatap tajam. "Awas jika aku kembali kau belum ada, aku akan memotong gaji Bean jika kau ingkar."
Hei Tuan! Apa hubungan nya denganku?
"Apa peduliku." Bella acuh, Bean ingin menangis mendapati dua majikan yang sama menyebalkannya itu.
Liat saja, Nona. Saya akan meneror anda agar cepat kemari sebelum Tuan selesai! Bean kesal.
Meninggalkan keterkejutan Natalie, kita lanjutkan di episode selanjutnya ....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Blee😝😝...