
Setelah kabar mengejutkan itu terjadi, Bella langsung meminta Seinth untuk terbang ke Moskow menemani Grace disana. Tentu ini adalah kabar gembira sekaligus anugerah dari Tuhan. Setelah sekian lama, akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.
Seinth langsung pergi ke bandara setelah membawa beberapa perlengkapan. Menggunakan pesawat pribadi sang nona, Seinth berangkat hari ini juga. Dari penjelasan Vivi, usia kandungan Grace masih cukup muda sehingga tidal cukup baik untuk kembali sekarang, jadi Seinth lah yang menyusul.
Posisi duduk sudah berganti. Mereka duduk di kursi depan karena Alex harus membawa mobil mereka. Pria itu sempat terkejut meski dengan gaya cool nya, jika pria yang selama ini menjadi pengawal sekaligus sopir nya sudah menikah. Pasalnya Seinth sangat santai tanpa beban seperti seseorang yang masih lajang.
.
.
.
.
Di salah satu gedung besar, seorang pria tampan berwajah datar serta dingin sedang duduk memimpin rapat. Tidak ada senyuman di wajahnya, hanya ada wajah tegas dan wibawa layaknya pemimpin. Tapi jika diperhatikan, ada beberapa kemiripan dengan seseorang yang namanya kini muncul di layar ponselnya.
James mengumpat kesal karena merasa terganggu dan segera meminta Roy untuk mematikannya. Semua orang hanya bisa menunduk takut melihat sosok pria yang nyaris sempurna meski sudah berkepala empat.
Roy langsung mengecek siapa yang mengganggu tuannya ini. Rupanya wanita yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan pria ini. Jika begini siapa yang berani menekan tanpa merah pada ponsel itu.
"KENAPA TIDAK ..."
"Ini nona muda, Tuan." Roy segera menyebut merk dengan memotong ucapan tuannya.
Semua orang tahu siapa yang ditakuti James. Tentu saja istrinya yang bahkan lebih menakutkan daripada James sendiri. Tapi sekarang sudah ada Bella yang merupakan gabungan keduanya, bukankah sama menakutkannya. Memangnya dari mana sifat keras Bella berasal?
"Berikan!" James mengambil kasar ponselnya dari tangan Roy.
"Halo, Sayang," ucap James lembut. Mereka hanya bisa tercengang menatap perubahan drastis yang saat ini mereka saksikan.
"Papa ..." pekik Bella.
__ADS_1
" Iya, Sayang. Butuh sesuatu?"
"No. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mencintaimu," katanya tulus. James langsung membeku. Apa dia tidak salah dengar? Oh ... percayalah. Hatinya sekarang dipenuhi bunga-bunga.
"Papa ...."
"Ah ... Papa juga mencintaimu, Sayang. Sangat," jawab nya tersenyum. Jika dia wanita, mungkin sudah menangis karena terharu. Padahal mereka baru bertemu satu kali dan Bella sudah mengatakan mencintainya.
"Thank you, sudah menjagaku selama ini. Mungkin aku sudah mati jika Papa tidak menolongku hari itu."
"Bells ...."
"Aku tahu semuanya. Mama dan Daddy juga mengatakannya. I love you, Papa. Forever."
"Bells ...."
"Silahkan lanjutkan kegiatan Papa, maaf mengganggu. Jangan menakuti mereka dengan wajahmu ya. I love you, again."
"Dia mencintaiku, Roy! Dia mengatakannya berkali-kali," pekik James gembira.
Anda seperti pria yang tidak pernah mendapat cinta, Tuan. batin Roy.
-
-
Bella terkekeh geli setelah mematikan telpon. Dia bahkan bisa membayangkan wajah bodoh ayahnya yang super datar dan kaku itu.
Alex sudah berwajah masam sejak tadi. Bella mengatakan cinta berkali-kali di depannya dengan wajah tersenyum bahagia. Meski itu James, Alex masih tidak menerima jika itu memang ayah mertuanya yang bahkan cocok menjadi saudaranya.
Kenapa juga James harus punya anak di usia muda!
__ADS_1
"Ck! Aku bahkan jarang mendengarmu mengatakan cinta padaku," masam nya. Bella menoleh.
Kau cemburu lagi, Tuan muda?
"Aku lebih mencintaimu." Akhirnya. Tidak ingin berdebat untuk hal yang tidak masuk akal. Alex melirik sebentar, wajahnya kembali masam.
Kenapa lagi dengan wajahmu, heh?
"Makanlah." Bella sudah memasukkan makanannya ke mulut. Alex belum bergerak, wajahnya semakin kecut.
Oke. Baiklah. Urus dulu bayi besarmu, Bells.
"Buka mulut." Wanita itu menyodorkan sendoknya ke mulut Alex. Pria itu diam menatap sendok.
"Al ..." tegur Bella sedikit kesal. Alex mendengus, namun akhirnya mau membuka mulut dan makan. Begitu seterusnya, bergantian hingga semuanya kandas.
"Ah ... nikmatnya," seru Bella sambil melirik suaminya yang masih kesal.
Mengalah saja lah, Bells. Wajahnya itu sangat tidak enak dipandang. batin Bella lagi.
"Kau bisu ya?" Akh ... bukan begitu cara membujuk, Nona! Lihat wajahnya sekarang! (Author)
"Just kidding. Tapi kalian mirip sih, jadi aku refleks mengatakannya." Lebih baik anda diam sekarang, mulut anda memang tidak tahu kondisi.
Wanita itu terkekeh. Oh come on ... dia seperti menertawakan anak kecil yang sedang merajuk. Bukan waktunya tertawa, Nona! Tidak masalah bersikap santai dan tenang, tapi lihat dulu siapa orangnya ... tidak bisa diajak bercanda untuk saat ini.
Cup cup cup ... bibir manis itu mendarat gemas di wajah pria yang sedang berwajah masam itu. Dia memang tidak pandai membujuk karena Alex memang tidak bisa dibujuk dengan kata-kata. Wajar jika pengetahuannya sedikit!
Lihat! Dia tersenyum, kan. Masih ingin protes? Tahu apa kau. Tidak punya pasangan jangan sok tahu!
Terserah ....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...