Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
S2 | Permintaan Maaf


__ADS_3

Milla tersenyum diam-diam memandangi wajah tampan yang sedang tertidur pulas di perpustakaan milik kampus. Tepatnya di pojok ruangan telah disediakan tempat berlesehan di antara rak buku. Meski begitu, tempat itu mungkin hanya di tempati oleh Jourell karena tidak ada yang berani mendekati laki-laki tampan itu untuk menghindari masalah tak di inginkan.


Tapi lagi-lagi itu tidak berlaku bagi Milla yang sudah duduk di sebelahnya. Gadis itu tidak bersuara sama sekali, hanya memandanginya. Tak lama ia ikut mengantuk. Tanpa ragu Milla menyandarkan kepalanya di bahu Jourell dan tertidur.


Hal tersebut disaksikan oleh ketiga teman-teman Jourell, termasuk Chloe yang merasa panas.


"Meski kau menyukai Joy, tapi Joy tidak menyukaimu. Kau tidak berniat berusaha seperti Milla?" bisik Eric mengejek.


"Kau tidak ingat bagaimana aku mengejarnya seperti orang gila dulu?" ketus Chloe.


"Seperti itu yang dilakukan Milla sekarang," sahut Ray.


"Itu akan sia-sia," jawab Chloe.


"Siapa yang tahu?" tantang Eric.


"Tidak akan!" bentak Chloe, memukul bahu Eric kesal.


"Akhh!" Rintihan itu langsung mengalihkan perhatian ketiganya. Milla sudah tidak di tempat saat Jourell menyingkirkannya. Bahkan kepalanya membentur rak di belakangnya.


Jourell menatap tajam Milla. "Sudah berapa kali aku katakan, berhenti mendekatiku!" desis Jourell geram. Ia benci disentuh wanita manapun kecuali keluarganya sendiri.


Milla menyentuh kepalanya yang terasa nyeri sembari bangkit perlahan. "Jika aku berhenti, maka artinya aku menyerah?" Milla menggeleng. "Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu, Joy."


"Gadis gila!" umpat Jourell berlalu pergi.


"Joy!" Milla mengejar laki-laki itu. Dengan berani Milla merangkul lengan Jourell yang langsung memberontak geram.


"LEPASKAN!" bentaknya. Untungnya tidak ada siapapun disana, kecuali tiga orang yang bersembunyi menyaksikan.


"Tidak mau," tolaknya sambil tersenyum. Milla mengeratkan pegangannya.


"Keras kepala," desis Jourell semakin kesal. Dilepasnya kasar tangan Milla hingga gadis itu sedikit terhuyung.

__ADS_1


"Kasar sekali." Mengusap lengannya yang memerah akibat cengkraman Jourell.


"JOY!" teriaknya melihat Jourell pergi begitu saja tanpa peduli. "AKU TIDAK AKAN MENYERAH SAMPAI KAU MENCINTAIKU. Aku mencintaimu, Joy." Teriakannya memelan di akhir. Joy sempat menghentikan langkahnya, namun hanya sesaat.


Milla menghela nafas pelan menatap kepergian Jourell. Sudah 6 bulan lamanya ia mengejar laki-laki itu, namun hasilnya masih sama. Tidak ada perkembangan. Ia menyandarkan punggungnya di tembok sembari memejamkan mata. Jika saat itu tidak terjadi, mungkin menatap laki-laki itu saja ia tidak berani.


Aku jatuh cinta pada hari itu, Joy. Kau sendiri yang membuatku bertahan hingga saat ini. Aku hanya mengikuti saran darimu.


Tiba-tiba seseorang menyentuh lengannya. Milla refleks menarik tangannya.


"Kau tidak apa-apa?" Raymond kembali menyentuhnya. Milla terpaku. Apa tidak salah lihat?


"Kau– Ray?"


Ray tersenyum. Laki-laki itu berbeda dengan Jourell yang datar dan dingin. Semua orang tahu jika Ray adalah laki-laki ramah dan sopan. Jangan lupa dia juga tampan!


"Ikut bersamaku," pinta Ray. Milla tak sempat menolak saat Ray sudah menautkan tangannya, menarik dirinya agar mengikuti.


"Ayo! Tidak perlu takut."


"Kau mau membawaku kemana?"


"Ikut saja."


**


Disinilah mereka sekarang, di sebuah restoran yang baru kali ini Milla datangi. Hyuna restaurant, bukan tempat untuk orang-orang seperti dirinya. Begitu masuk, Milla tidak bisa tidak merasa takjub. Inikah tempat yang sering dibicarakan pada siswa kampus. Furniturenya saja sudah terlihat sangat mahal. Seharusnya tidak heran jika Ray bisa kemari sesukanya.


"Ini hanya sebagian kecil dari kekayaan Joy," ucap Ray tersenyum.


Hanya sebagian kecil! Ya, tentu saja! Milla sadar itu. Tapi ia akan sangat bersyukur meski hanya memilik satu tempat ini. Tidak tahu berapa keuntungan yang di dapat, tapi sudah jelas bisa membuatmu kaya.


"Ray!" Seorang wanita mendekati mereka. "Kau membawa siapa?" Wanita itu menatap Milla dengan intens, membuat Milla gugup. Ada kemiripan dengan wajah Ray. Bisa ditebak jika wanita itu adalah ibu Raymond.

__ADS_1


"Mom, ini Milla. Dia teman kampusku." Pernyataannya membuat Milla terkejut. Teman? Mereka bahkan belum pernah bertegur sapa sebelumnya.


"Ini ibuku, Roselea." Mengenalkan sang ibu pada Milla.


"Ha– halo, bibi," sapanya.


"Selamat datang, Milla. Buat dirimu nyaman." Meninggalkan keduanya tanpa senyum diwajah.


"Maaf, dia memang seperti itu," jelas Ray. Ibunya memang jarang tersenyum, sama seperti bibi Grace dan Monica.


"Tidak masalah." Milla tersenyum paksa.


"Aku membawamu sebagai permintaan maaf. Joy sangat kasar padamu, jadi aku akan mewakilkannya dengan makan siang. Bagaimana?" tawar Ray.


"Kenapa?" Jourell yang bersikap begitu, tapi kenapa harus Ray yang meminta maaf.


"Sudah seharusnya bagi kami." Hanya itu yang dikatakan Ray.


Tidak ada pembicaraan selama makan siang berlangsung. Keduanya hening dan fokus pada makanan masing-masing. Saat suara sendok dan garpu beradu tanda selesai, barulah Ray angkat suara.


"Kau sangat gigih. Hanya kau satu-satunya gadis yang mengejarnya terus-menerus dan membuatnya kesal. Chloe saja tidak berani bertindak lebih." Milla tersenyum tipis mendengarnya.


"Tidak sulit. Saat kau mencintai seseorang, sulit menemukan jalan untuk berhenti. Jadi aku akan terus berjalan hingga aku lelah," jawab Milla.


"Joy sangat mencintai ibunya. Kami khawatir dia mengalami Oedipus complex. Apa dia pernah memberimu syarat?"


Milla terdiam. Apa itu sebabnya?


"Dia akan membalas perasaanku jika aku bisa menjadi seperti ibunya," ucap Milla lirih.


"Aku tidak terkejut." Ray terkekeh. Tak lama senyum laki-laki itu hilang, berganti wajah tenangnya. "Aku tidak bermaksud melarangmu, Milla. Kau gadis baik dan ceria. Kami khawatir Joy akan semakin menyakitimu. Kau pantas bersama orang yang mencintaimu dan itu bukan Joy."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2