
"Aku sudah bilang, kan! Hentikan, Milla, hentikan! Sekarang lihat?" Verdia mengomel seraya membersihkan noda-noda di pakaian Milla. "Teman-temannya mungkin tidak peduli, tapi Chloe ... siapa berani menahannya? Joy saja membiarkannya melakukan ini padamu."
Chloe Oliver merupakan satu-satunya gadis di dalam circle Jourell yang begitu mereka jaga. Sudah sejak lama Chloe tidak menyukai Milla karena terus memaksa Jourell untuk menerimanya. Hari ini berulah lagi. Chloe tidak segan merebut bekal makan siang untuk Jourell, kemudian membuangnya hingga mengotori pakaian Milla.
Verdia dengan cepat membawa Milla pergi sebelum semua orang benar-benar menjadikannya lelucon.
Milla menghembuskan nafas pelan sambil menatap dirinya di depan cermin toilet. Penampilan dan wajahnya tidak sebaik Chloe yang duplikat seorang putri. Gadis itu membencinya terang-terangan. Ia tak ragu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Milla di depan banyak orang.
"Menurutmu mereka memiliki hubungan?" tanya Milla pada Verdia.
"Bukan tidak ada hubungan lagi. Mereka tumbuh besar bersama! Menurutmu harus ku sebut apa?"
"Kalau begitu aku akan berusaha lebih keras lagi!" Milla mengangkat kepalan tangannya, menyemangati diri sendiri.
"What?!" Verdia syok.
"Joy tidak tersentuh, Verdia. Aku yakin mereka tidak memiliki hubungan apapun meski tumbuh bersama," yakinnya. "Chloe mungkin memang menyukainya, tapi tidak dengan Joy."
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau seyakin itu." Verdia memijat pangkal hidungnya. Tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyadarkan makhluk Tuhan yang satu ini.
***
Ditempat lain, seorang gadis menunduk menatap tanah yang di pijaknya. Di depannya ada tiga laki-laki yang menyorotinya tajam.
"Siapa yang mengajarimu bersikap begitu, Chloe!" Raymond Arduous. "Kau boleh marah, tapi jaga sikapmu." Mungkin hanya Ray yang sejak tadi mengomel.
"Sebenarnya ini bukan pertama kali, tapi aku masih saja terkejut," ucap Erico Albert. "Benar, kan Joy?" Menyenggol Jourell di sebelahnya.
"Aku pernah melihat bibi Grace melakukannya," cicit Chloe pelan, namun masih terdengar.
Eric langsung tersedak mendengar ibunya disebut. "Astaga! Kau mencontoh ibuku? Ya Tuhan ... kau tahu sendiri dia tidak waras," akuinya.
Bug! Ray menonyor kepala Eric.
"Kau mengatai ibumu sendiri, bodoh!"
__ADS_1
"Itu fakta!" Siapapun tahu seperti apa ibunya itu. Hanya bibi Bella yang bisa menjinakkannya.
"Sudahlah! Intinya jangan lakukan lagi. Jika bibi Bella tahu, kau bisa dihukum," akhir Raymond.
"Kalau begitu jangan beritahu!" ucap Chloe cepat dengan wajah memelas.
"Tanpa diberitahu pun, mom pasti tahu. Kita diawasi," sahut Jourell akhirnya.
Benar saja. Orang tua mereka selalu tahu apa yang mereka lakukan. Jangan lupa mereka semua memiliki posisi terpenting di kerajaan bisnis sang ibu maupun sang ayah. Tentu kemampuan mereka tidak bisa di ragukan. Kini anak-anak mereka hadir. Suatu saat pasti akan menggantikan posisi mereka semua.
"Kak Joy ... bujuk bibi ya. Chloe tidak akan mengulangi lagi." Chloe mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.
"Lakukan sendiri!" acuh Jourell tidak peduli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk kisah Joy sengaja aku pindah kesini ya Say. Nantinya novel mereka bakal aku hapus dan biarkan jadi satu sama kisah orang tuanya🤗 Karena novel ini sudah di kontrak, jadi lebih mudah buat aku
__ADS_1