Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 92 | Dia Hamil


__ADS_3

Bella mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah mengungkit masa lalu Vivi yang kebetulan juga sama seperti Monica dan Liza.


Bukan tanpa sebab, Bella hanya ingin mereka berpikir sebelum bertindak. Seperti apa jadinya jika itu terjadi, apa akibatnya dan apa dampaknya. Bukan hanya memikirkan dendam sesaat.


Dan untung nya juga dia hanya memberi hukuman selama dua bulan dan hanya memantau pembangunan saja. Dia sudah berbaik hati. Bahkan Soo-Jin pernah dia hukum untuk menjadi salah satu penjual jajanan street food di Myeongdong Street selama lima bulan dengan modal kecil karena dengan sengaja membuat seorang pengusaha bangkrut!


Dengan alasan, anak perempuan dari pengusaha itu sudah merebut pria yang disukainya. Padahal hubungan keduanya masih belum jelas atau bisa dibilang bertepuk sebelah tangan.


Ketika pria yang disukai nya itu mulai dekat dengan seorang wanita, Soo-Jin yang sudah dibutakan cinta akhirnya tidak terima dan membuat bangkrut keluarganya.


Jadi bisa dibilang ini sedikit mirip dengan kasus antara Bella, Roselea, dan Heiden. Tentu alasan itu tidak membuat Bella puas dan justru kesal! Ditambah lagi ternyata wanita itu adalah gadis baik yang masih polos dan tanpa sengaja menjadi korban Soo-Jin.


Pada akhirnya Bella punya kebiasaan menghukum mereka setiap kali berbuat kesalahan dan setelah itu mereka tidak akan berani mengulangi hal yang sama. Namun pada akhirnya, kesalahan lain pun mereka anggap berbeda.


Bella memperlambat laju mobilnya ketika melihat banyak keramaian di tengah jalan. Beberapa mobil juga berhenti sehingga menyebabkan macet. Bella berinisiatif turun dan melihat apa yang terjadi.


Memasuki kerumunan, Bella melihat ada seorang wanita yang memakai topi tergeletak di tengah jalan tidak sadarkan diri. Ada seorang wanita tua yang membantunya agar segera sadar.


Bella mendekat, dia membuka topinya agar nyaman dan terlihatlah wajah pucat nya. Namun Bella merasa tidak asing dengan wajahnya, tapi siapa?


"Apa yang terjadi?"


"Wanita ini tiba-tiba pingsan saat berjalan. Kami sudah menghubungi ambulans agar datang, tapi sampai sekarang belum juga tiba," jawab wanita tua itu.


"Pakai mobil ku saja. Bisa bantu mengangkat nya ke mobil?" ucap Bella meminta bantuan pada salah satu pria disana.


Seseorang akhirnya mendekat dan membantu. Saat akan duduk di kemudi, Bella samar - samar mendengar beberapa orang mulai bergosip.


'Itu Mrs. Ramona bukan?'

__ADS_1


'Wanita yang pingsan itu bukan kah putri keluarga Arduous?'


'Kenapa Mrs. Ramona mau membantu nya. Padahal wanita itu sudah mencoba merusak reputasinya.'


'Stt ... diamlah! Nanti dia mendengar.'


Bella tidak mau memikirkan nya saat ini, dia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Wanita tua itu juga ikut bersama nya menjaga wanita itu di kursi belakang.


"Perutnya sedikit menonjol. Aku curiga dia hamil," ucap wanita tua itu memeriksa.


Hamil?


Bella sedikit terkejut, dia memastikan identitas wanita itu pada sang nenek. "Anda mengenalnya?"


"Ya, dia wanita yang berada di berita tadi pagi. Roselea Arduous."


Ternyata benar, pantas saja tidak asing.


"Benar, biar dokter yang memeriksa nya."


Sebenarnya Bella sedikit khawatir, mengingat kelakuan wanita itu yang sering berganti pasangan tidur sangat besar kemungkinan wanita itu hamil. Entah lupa meminum obat atau tidak sengaja dengan kemungkinan lain.


Namun jika benar, Bella berharap wanita itu tidak akan macam-macam dengan kandungan nya apalagi jika itu tanpa seorang ayah yang jelas.


-


-


Mereka berdua menunggu selama pemeriksaan. Sang Nenek juga ingin menunggu untuk mengetahui kondisinya. Rupanya nenek itu juga khawatir, padahal mengenal saja tidak.

__ADS_1


"Kenapa masih mau membantu nya?" Keduanya sudah duduk di kursi tunggu pasien.


"Karena memang sudah seharusnya." Sang Nenek tersenyum mendengar penuturan dari wanita yang dia ketahui sebagai Nyonya muda Ramona ini.


"Padahal dia sudah berbuat jahat padamu."


"Kejahatan bukan berarti tidak bisa dibalas dengan kebaikan karena kebaikan itu sendiri yang akan menolong kita suatu hari nanti. Pada intinya, kebaikan tidak akan merugikan kita. Jadi tidak perlu takut."


"Pria nakal itu tidak salah memilih, aku akan memberinya hadiah nanti." Nenek itu tersenyum sambil menepuk lembut bahunya.


"Maksud anda?"


"Panggil aku Granny, tidak perlu formal."


"Ah ... baik, Granny. Jadi apa maksud-"


Ceklek, mereka berdua refleks berdiri begitu dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana, dokter?"


"Dia kekurangan cairan dan perlu banyak istirahat agar tidak mempengaruhi kandungan nya. Jangan sampai stress seperti yang dialami sekarang."


Jadi benar? She's Pregnant!


"Berapa usia kandungannya?"


"Saya tidak begitu yakin, Mrs. Mungkin sekitar dua bulan. Sebaiknya di periksa lagi ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya."


"Baik, Dokter. Terima kasih."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2