Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 94 | I Will


__ADS_3

Natalie berlari sedikit tergesa-gesa. Dia mendapat telepon dari Bella jika Roselea berada di rumah sakit karena pingsan. Padahal dia sudah bertekad untuk tidak peduli pada wanita itu, tapi nyatanya dia langsung berlari kemari setelah mendapat kabar.


Ketika masuk, matanya menangkap pemandangan yang sangat langka menurutnya. Bella duduk di sisi ranjang dengan tangan sibuk menyuapi wanita yang setengah berbaring di atas ranjang rumah sakit itu.


Mereka berdua menoleh, Bella tersenyum melihat kedatangan Natalie. Berbeda dengan Roselea yang terkejut, dia langsung menunduk karena malu.


"Apa yang terjadi?" tanya Natalie.


"Dia ...."


"Aku baik-baik saja," sahut nya memotong ucapan Bella.


"Dimana Bibi?" Natalie tidak melihat ibu Roselea disana. Roselea tersenyum getir.


"Aku tidak tahu."


"Kau sungguh baik-baik saja?" Natalie menyentuh bahunya.


"Dia hamil." Natalie langsung membeku. Dia menatap Roselea syok.


"Siapa ayahnya?" ucap nya pelan. Roselea menggeleng.


Bella hanya menatap interaksi keduanya, tidak berniat mengganggu ataupun masuk diantara keduanya. Natalie nyatanya memang menganggap Roselea sebagai sahabat, hanya saja dia kecewa saat itu.


"Kau akan kemana sekarang? Semua aset dan harta keluarga sudah disita untuk mengganti kerugian," tanya Bella


"Dia bisa tinggal bersamaku," sahut Natalie


"Tidak! Aku masih punya tabungan untuk beberapa tahun kedepan. Aku akan mencari rumah kecil sampai kutemukan pekerjaan baru," tolaknya. Tidak ingin bergantung kepada siapapun lagi.


"Tapi kau hamil, Rose. Setidaknya sampai kau melahirkan-"


"Kumohon jangan mencegahku. Aku ingin mandiri dan memulai hidup baru dengan bayi ku. Lagipula aku hanya akan menjadi aib bagi keluargamu."


"Rose ...."


"Please, Nat. Thanks, karena masih mau menolongku. Qi, Thank you," mohon nya.

__ADS_1


"Lupakan itu, tidak perlu melihat kebelakang lagi. Jika menurutmu itu baik, kami tidak bisa memaksa," jawab Bella. Diangguki oleh Natalie.


Roselea terharu, air matanya mengalir lagi. Dia dulu jahat bahkan sempat berniat menjadikan Natalie kambing hitam. Tapi, sekarang? dua orang wanita yang seharusnya membencinya justru berada disini untuk mendukung nya.


"Jadi, kau akan bekerja apa?"


"Apa saja, selama itu baik." Bella tersenyum mendengar nya. Wanita ini cepat sekali berubah.


Tapi pasti sulit mencari pekerjaan disaat semua orang sudah mengenalnya begitu buruk. Dia jadi berpikir, posisi apa yang kiranya cocok untuk wanita hamil ini? Mengingat Rose sedang hamil, akan lebih baik agar tidak terlalu lelah.


"Kau mau menjadi Asisten Manajer Restaurant?"


Dia teringat Anna yang juga sedang hamil. Tapi sebagai Manajer, pekerjaan nya tidak akan membuat nya lelah. Kecuali, mengurus banyak laporan keuangan.


Itu sebabnya dia bermaksud merengkrut Roselea untuk membantu Ana. Jadi, dua wanita hamil itu tidak akan kelelahan karena saling membantu. Apalagi Vivi sedang menjalani hukuman, jadi tidak bisa ikut membantu Anna seperti biasa.


"Asisten Manajer?" Roselea sedikit terkejut. Itu lebih baik bukan? Padahal dia berpikir untuk menjadi pelayan awalnya.


"Aku punya kenalan, dia juga sedang hamil. Aku yakin dia bersedia menerimamu. Bagaimana?"


Natalie justru menatap Bella khawatir. Yakin hanya kenalan? Bukan salah satu antek-antek nya kan. Dia tentu tidak lupa dengan identitas wanita cantik di depannya ini. Sangat besar! Dan berurusan antek-antek nya bukanlah hal baik.


Cukup dia saja yang merasakan nya ketika di QA, Roselea tidak perlu. Wanita itu sudah cukup tertekan saat ini, apalagi dialah yang menjadi target mereka waktu itu. Dia yang sebagai sahabat saja sudah diberi tatapan serta kata-kata sarkas, apalagi jika itu memang Roselea sendiri.


Bella menyadari kekhawatiran Natalie tersenyum. Apa para kaki tangannya begitu mengerikan hingga begitu membekas di benak mereka?


Jika seseorang mendengar pikiran Bella, pasti ingin berteriak dan mengatakan wanita itu tidak bisa menilai para antek-antek nya karena dia sendiri tidak jauh berbeda dengan mereka!


"Aku akan bicara dengannya nanti. Kau bisa datang setelah keadaanmu benar-benar sehat," senyumnya.


"Kupastikan dia tidak makan orang," ucapnya tersirat. Memberi tahu Natalie jika semua akan baik-baik saja.


...--- o0o ---...


Setelah pengakuan dadakan yang membuat mereka hampir jantungnya massal, Sandra memesan banyak makanan untuk makan malam.


Bean tidak mau pulang sebelum mendapat jawaban dari Vivi. Meski wanita itu berkata akan memikirkannya lagi dan memberi tahu nantinya. Tapi, Bean tidak mau kehilangan kesempatan, apalagi hari ini hari terakhir mereka bertemu.

__ADS_1


Vivi sendiri mulai terlihat bimbang. Dia sedikit tersentuh dengan usaha Bean yang hampir satu tahun ini mendekatinya. Sebenarnya Vivi pernah mendapat petuah dari sang nona untuk tidak ragu membuka hati. Bella percaya Bean pria baik dan tulus mencintainya apa adanya.


Itu sebabnya dia mengatakan siapa dirinya dulu pada Bean untuk menguji nya, rupanya pria itu hanya kaget. Dia berpikir jika Bean pasti jijik padanya dan itu membuat Vivi kesal setengah mati.


Tapi hari ini hatinya digerakkan lagi ketika Bean dengan percaya diri melamarnya di depan para rekan-rekan nya yang sudah seperti pengganti keluarga untuknya.


"Tinggal menghitung jam, kita harus saling mengucap selamat tinggal untuk dua bulan kedepan."


"Ya, sampai bertemu dua bulan lagi." Ken mengangkat gelas kecil berisi Vodka.


"Jangan lupa hadiah pernikahan Anna begitu kembali." Monica mengingat kan.


"Padahal aku ingin melihat nya memakai gaun." Liza lesu.


"Sayangnya kita baru bisa kembali dua hari setelah pernikahan," balas Ken.


"Kita masih bisa melihat pernikahan Soo-Jin dan-" Grace menatap Vivi membuat yang lain juga ikut menatapnya.


"Kenapa menatapku!"


"Kenapa tidak kau jawab saja sekarang, agar bisa memikirkan hadiah apa yang cocok untuk kalian," decak Monica. Yang lain mengangguk setuju.


"Kau berkata seakan aku akan mengatakan Ya!"


"Kau tidak pandai berbohong, Vi. Raut wajahmu itu sudah menjawabnya," ucap Seinth.


"Memangnya kau akan bilang tidak?" Bean menatap sedih.


Vivi berdehem, menegakkan tubuhnya di sofa. "Kau sudah berjuang keras, maka tidak ada alasan lagi untukku."


Mereka semua langsung menatap Vivi serius, "Okey. I Will." Wajahnya masih sok jual mahal.


"Benar kan!" celetuk mereka semua.Vivi mendengus.


"YEAH!" Lagi-lagi mereka tersentak kaget saat Bean berteriak dengan lantang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2