
Mobil Bella berhenti di depan sebuah Cafe besar milik Kris. Ia berpikir ini kesempatannya untuk jalan-jalan sebentar selama Jourell bersama Clarissa. Merapatkan mantelnya, Bella turun dengan tudung mantel serta masker agar tak dikenali. Dia tidak mau mengundang kehebohan seperti waktu itu.
Bella meminta Seinth untuk menunggu di salah satu meja pengunjung dan memesan minuman hangat karena cuaca cukup dingin. Sementara ia akan menemui Kris di ruangannya. Namun saat memesan, mereka berdua tidak sengaja mendengar gosip yang membuat Seinth mengepalkan tangannya marah.
"Menurutku dia menggoda Tuan Marcel hingga hamil."
"Dia sangat cantik dan itu keuntungannya."
"Benar, keluarga itu sudah tertipu."
"Aku menemukan di beberapa situs Web jika dia anak seorang jalang."
"Sungguh! Ya Tuhan. Siapa yang menulisnya?"
"Tidak tahu, yang jelas dia mengenal wanita ini."
Seinth yang sudah kesal hampir lepas kendali jika Bella tidak menahannya. Salah satu tantangan menjadi istri Keluarga kaya adalah siap mendapat hujatan, tapi Bella bukan wanita yang akan menangis setelah mendapatkannya. Hal seperti itu sudah biasa ia dapatkan sejak masih tinggal dengan keluarga Victor.
Anak jalang!
Pembawa sial!
Kelahiran mu tidak diharapkan!
Anak Haram!
"Nona, saya akan mendapatkan orang yang menulisnya segera!" Seinth mengepal.
Seperti biasa, antek-antek Bella akan mengutamakan sang nona daripada diri mereka sendiri. Menjadikan wanita itu sebagai tempat mereka pulang.
"Sudahlah, Seinth. Aku sudah terbiasa dengan ini."
"Tidak bisa, Nona. Jika dibiarkan mereka akan semakin berani"
"Seinth!" tegurnya.
Bella bukan tidak mau, hanya saja dia terlalu malas saat ini. Kebetulan bisa keluar hari ini jadi manfaatkan dengan baik. Jangan sampai waktunya terbuang hanya untuk mengurus gosip murahan.
__ADS_1
"Duduklah, jangan mengamuk ingat! Aku ingin ketenangan hari ini."
Ia berjalan memasuki lorong tempat ruang Kris berada, mungkin pria itu akan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Namun, sesuatu yang tidak terduga malah membuatnya terkejut lebih dulu. Bella tidak langsung masuk, ia memilih menguping pembicaraan dua orang di dalam yang bisa dibilang cukup menegangkan.
"Aku tidak datang untuk meminta tanggung jawab. Aku masih sanggup menghidupinya sendiri, tapi jika kau ingin, maka aku akan tetap menerima."
Kris yang sedang bimbang dibuat semakin kalut dengan kata-kata wanita cantik dan kalem tersebut. Argumen nya seakan terkunci setiap kali wanita itu bicara.
"Jadi sebenernya kau ingin bagaimana? Ayolah, aku kesulitan memahami kata-kata mu." Kris gusar.
"Apanya yang bagaimana! Sebagai laki-laki dimana tanggung jawabmu!"
"Jadi benar, kan? Kau datang karena ingin aku bertanggungjawab."
"Sudah kukatakan jika aku datang bukan karena ingin memintamu!"
Sungguh, Kris ingin berteriak rasanya. Wanita itu seperti berputar-putar dan dia tidak sanggup mengimbanginya.
"Kau terpaksa, kan? Aku tidak mau ya!"
"Lalu aku harus bagaimana? Kau bilang dimana tanggungjawab ku dan sekarang aku ingin bertanggungjawab kau bilang aku terpaksa dan kau menolak." Kris memelas, merasa sial karena berurusan dengan salah-satu wanita yang menjadi antek-antek sahabatnya.
"Memang benar, kan? Kau laki-laki jadi harus jantan!" santainya.
"Akhhhh ..." Kris menjambak rambutnya gusar.
Satu bulan yang lalu, seseorang wanita di club menjebaknya dengan obat perangsang, berharap bisa memilikinya dengan cara curang seperti itu, tapi tuhan seperti berpihak padanya. Brianna Alexa atau yang biasa dikenal sebagai Anna kebetulan ada disana dan menyaksikan Kris yang mulai terpengaruh obat.
Ia sudah sering melihat hal licik seperti ini. Entah kepedulian dari mana ia akhirnya menolong Kris yang sudah digoda oleh wanita kurang bahan dan mengakuinya sebagai kekasih.
Karena tidak tahu harus dibawa kemana, Anna berinisiatif memesan kamar hotel sampai pria itu sadar. Namun, Kris yang memang sudah terpengaruh obat akhirnya tanpa sadar memperkosa Anna hingga hamil.
Begitulah, niatnya ingin menolong tapi malah menjadi korban.
"Bagaimana? Waktuku tidak banyak, jadi harus segera pergi." Anba masih duduk santai tanpa mengambil pusing tingkah bodoh pria didepannya.
__ADS_1
"Kau masih bisa santai? Bagaimana jika aku kabur?" Kris menatap tidak percaya wanita didepannya, tidak ada wajah panik atau sedih!
"Kan aku sudah bilang, jika mau aku terima, jika tidak ya tidak masalah. Hanya saja jangan menyesal nantinya."
Fine! maksudnya aku harus mau kan! Iya itu maksudnya.
Kenapa wanita suka sekali memberi kata-kata yang tidak seusai dengan kenyataan, berkata tidak tapi nyatanya ingin. Lain di mulut, lain pula di hati. Dasar wanita!
Bella yang masih menyimak diluar awalnya benar-benar terkejut, tapi lama-lama ia seperti menonton drama komedi romantis. Tingkah bodoh Kris plus Anna yang masa bodoh. Pasangan yang unik.
"Jika dia tidak mau, tidak masalah."
Dua orang didalam langsung terkejut, Anna segera bangkit dan menunduk pada nonanya. Sedangkan Kris seperti terpojok oleh sesuatu.
Sial!
"Berapa usianya?"
"Satu bulan, Nona." Bella mengangguk, Kris menatapnya curiga.
"Setelah ini bereskan barangmu. Aku akan mengirimmu ke rumah singgah tempat madam Geran di Paris untuk merawatmu."
"Apa!" Kris melotot tidak terima, enak saja membawa calon anaknya pergi!
"Baik, Nona." Ana mengiyakan, Kris semakin membola. Apa-apaan hanya mengiyakan! Berbeda dengan Anna, seperti biasa apapun perintah Bella sudah seperti mutlak bagi mereka.
"Tidak bisa, Bells! Aku tidak mau ya!"
"Ya sudah jika tidak mau, memangnya siapa yang memaksamu," datar Bella, namun dalam hatinya sudah tertawa keras.
"Bukan itu maksudku, Akhh ... ya Tuhan, kenapa kau membiarkan aku berurusan dengan para wanita aneh ini." Kris ingin menangis.
Anak buahnya saja sudah merepotkan, apalagi jika Bos nya yang turun tangan. Bisa meledak kepalanya!
Anna menatap Bella, tangannya bergerak membuat garis miring di dahinya. Bella hanya bisa menahan tawa. Jangan pikir dia serius. Ia sudah bersahabat dengan Kris sejak kuliah, jadi tau betul sifat pria itu. Sudah jelas ia akan bertanggungjawab apalagi jika anak itu adalah anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1