
Siang itu, Alex berjalan memasuki gedung raksasa milik sang istri. Dia tidak ingin jika Bella yang harus menemui nya, jadi ia turun lebih dulu.
Bean yang berjalan dibelakang juga bersemangat karena akan bertemu kekasih yang hanya diakui oleh sepihak saja. Sedih mendengarnya.
Namun dipertengahan jalan, Alex sudah melihat Bella keluar dari ruangan yang di yakini sebagai ruang rapat di lantai satu. Dibelakangnya ada Vivi yang memasang wajah super jengah karena terus mendengar ocehan dari mulut pria yang disebut Mickey oleh Bella.
Mike terus menggerutu karena Bella tidak membawa Sandra, tapi malah Vivi si wajah sinis. Mungkin jika tidak ada Bella, wanita ini sudah menjelma menjadi singa dan mencakarnya.
Para karyawan disana menunduk setiap kali Bella melewati, hingga akhirnya Bella berhenti tiba-tiba karena kesal, membuat Vivi kaget dan menabrak punggungnya, begitupun Mike yang dagunya terbentur kepala Vivi.
"Sshh ...."
"Aww ...."
"Akhh ...."
Semua yang melihat ingin tertawa, namun harus ditahan jika tidak ingin melihat surat tabu di atas meja mereka meski ketidaksengajaan itu justru terlihat konyol dan lucu di mata mereka. Ini moment langka you know!
Jika Alex tidak segera datang dan menahan Bella, sudah pasti istrinya yang berada di posisi paling depan akan terjengkang dengan tidak elitnya.
"Kau baik-baik saja?" Alex membantu istrinya berdiri tegak.
"Hampir tidak baik-baik saja," desisnya.
"Maaf, Nona. Saya terkejut." Vivi merasa bersalah sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Kau kenapa berhenti tiba-tiba, dagu ku perih. Kepala mu keras sekali, terbuat dari batu ya!" Mike mengelus dagu nya yang berdenyut.
Memang benar sepertinya jika kepalanya terbuat dari batu.
"Kau menyalahkan siapa! Jika mulut mu bisa diam, aku takkan berhenti!" sentak Bella, Vivi mengangguk setuju.
__ADS_1
"Astaga, siapa yang menyalahkan siapa sekarang!" Mike tidak terima.
"Sebaiknya tutup saja mulutmu sebelum aku yang menutupnya!" dingin Alex.
"Ck! Kau memilih sahabatmu atau istri mu!" protes Mike.
"Tentu saja istriku. Apa untungnya memilih mu." acuh Alex, lalu membawa Bella pergi. Vivi dan Bean langsung mengekori.
"Hei! Dasar pasangan jahat! Kalian berdua sama saja." teriaknya kesal.
-
-
-
Di lift, Alex merengkuh seraya mengelus punggung istrinya, sesekali memijatnya lembut.
"Aku ingin mengunjungi istriku, tidak perlu izin tentang itu." Tersenyum, lalu mengecup bibir istrinya. Bella berdecak.
Dua orang dibelakang tidak punya pilihan selain menjadi orang asing yang pura-pura tidak melihat. Jangan lupa jika dua orang di depan mereka adalah pemilik bumi yang tidak tahu tempat.
"Dimana Jourell?"
"Bersama Grace."
"Hm?" Alex mengerjit. Siapa lagi itu? Kenapa istrinya gemar sekali memelihara orang.
"Istri Seinth." singkatnya.
Bean yang dibelakang langsung membola. Istri! Pria itu sudah menikah? Alex mungkin sedikit kaget, hanya sedikit. Toh dia tidak peduli urusan orang lain.
__ADS_1
Mereka langsung keluar setelah pintu Lift terbuka. Bean menahan tangan Vivi di belokan ruang Bella, membiarkan kedua majikannya berlalu pergi lebih dulu.
"Kau ...."
"Diamlah! Biar ku lihat kepala mu." Vivi terdiam menatap Bean yang meniup kepalanya sambil mengelusnya pelan.
Vivi ingin tertawa, pria bodoh ini! Memangnya kepala nya terbakar sampai-sampai meniupnya?
"Tidak usah berlebihan! Aku hanya terhantuk sedikit." Menurunkan tangan Bean dari kepalanya.
Bean menghela nafas kasar. Ia menatap Vivi dengan serius. "Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan. Nona saja tidak keberatan!"
"Aku sudah memperingati mu jangan terlalu dekat denganku, lagipula aku tidak yakin jika yang kau maksud itu memang cinta. Bagaimana jika hanya rasa sesaat?"
"Jika aku bilang cinta, maka aku sungguh cinta. Kenapa kau–"
"Aku pernah menjadi bit*h!" potongnya, Bean langsung terdiam menatapnya.
Melihat respon Bean, Vivi tersenyum sinis. "Jika kau berpikir aku wanita baik dan bersih, kau salah. Aku sangat kotor dan menjijikan!"
"Setelah Nona membeliku, aku tidak pernah lagi memikirkan tentang hubungan apapun, kecuali mengabdi dan setia pada nona. Jadi, carilah wanita lain yang lebih baik dari pada aku."
Sampai Vivi berlalu pergi, Bean masih mematung di tempatnya. Inikah rahasia yang dimaksud Seinth saat itu? Sesuatu yang Bella sendiri enggan untuk membahasnya. Tiba-tiba seseorang datang, menepuk bahunya dan merangkul nya.
"Bagaimana? Kau masih mau?" Ken tersenyum jahil.
"Cinta tidak memandang apa pun, jadi aku tidak peduli. Dan juga itu hanya masa lalu." Bean melepas rangkulannya dan meninggalkan Ken.
"Ck! Padahal aku ingin memberi masukan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1