
*
*
Pembicaraan keduanya terpotong ketika suara ketukan terdengar. Disusul seorang pria tampan yang masuk tanpa mendengar persetujuan sang pemilik.
Di belakangnya ada Vivi yang memasang wajah kesal. Dia sudah melarang pria ini masuk untuk sementara karena Nona nya masih harus mengurus wanita yang tidak dia sukai itu. Tapi Kris bukan pria yang akan menjadi pendengar yang baik, jadi lupakan saja!
"Hei, Baby" Sapa nya menampilkan senyum lebar
Bella menyipit, sangat jarang pria ini mau meninggalkan Cafe kebanggaan nya itu. Jadi, apa yang membawanya kemari sekarang? firasat Bella mengatakan sesuatu yang tidak baik.
Natalie tentu saja mengenal pria ini, pria yang rela pindah ke Oxford demi mengikuti Bella seperti Jung.
"Kau sedang menganggur?"
Kris menyengir, lalu duduk di sofa depan Natalie. Natalie sedikit canggung ketika Kris menatap nya intens. Hingga Bella ikut jengah melihatnya.
"Jaga matamu, bodoh!!" Melempar kepala pria itu dengan pulpen di depannya
"Sshh....kenapa kau suka sekali melemparku!" mengelus kepalanya
"Mataku hanya mendeteksi musuh lama." Kilah nya
"Kau Natalie kan? Mereka pernah mengurung mu di gudang kampus!" Sentak Kris, tidak menyukai keberadaan wanita ini.
Natalie langsung menunduk takut, Bella sendiri mungkin tidak akan ingat jika Kris tidak mengatakannya.
"Ya, itu memang kami." meremas jemari nya
"Apa yang kau inginkan!!" Bentak Kris, mereka terlonjak kaget. Natalie semakin bergetar
"Kriss...." Desis Bella, seumur hidup baru kali ini dia di bentak, meski bukan dirinya, tetap saja dia ikut terkejut!
"Jika anakku terbangun dan menangis, ku jamin kau tidak akan melihat Ana lagi besok." Ancam nya
"Bells! Kau ingin melindungi nya kan? Jangan harap!" tajam nya
Bella menghela nafas pelan, ia berdiri dan menekan intercom di atas meja nya. Tak lama Sandra masuk setelah mendapat panggilan. Dia mendekat dan membawa Natalie keluar bersama nya.
__ADS_1
Kris tidak terima, tapi lebih takut dengan tatapan Sandra yang seperti ingin memakannya. Tinggal lah mereka berdua sekarang.
"Daripada kau marah, lebih baik katakan tujuan awal mu."
"Aku kebetulan lewat saja."
Bella mencibir, Yakin?
"Tapi aku mencium bau - bau yang mencurigakan." Bella bersedekap, Kris yang mendengar itu langsung beranjak dan duduk di kursi depan meja kerja Bella, berhadapan dengan Bella yang sudah duduk di kursi kebesarannya
"Baiklah, aku mengaku. Sebagai sahabat yang baik...."
"Langsung saja." Potong nya, terlalu banyak drama pikirnya!
"Ck! Setidaknya dengarkan dulu." Gerutu nya
"Tidak perlu, aku tahu kau ingin menjilat ku." Datar nya
"Hehe....begini Bells, kau tidak ingin memberiku hadiah pernikahan? Kau bahkan membayar pernikahan Jung, tapi aku..."
"Baiklah, aku paham." Tidak ingin mendengar lebih jauh lagi
"Cih! Jika Alex tidak keberatan, aku akan membawa mu pulang sebagai hadiah. Bagaimana?" menaik turunkan alis nya
"Yes, setelah itu akan ada kabar. Seorang pengantin pria tewas ditangan suami sahabatnya." Kris langsung mendelik
"Dasar tidak punya perasaan!" Wanita itu tertawa
"Hm...Bagaimana jika rumah beserta tanah?" Tawar nya
"Tidak sekalian kau berikan aku mobil pengeluaran terbaru." Cibir Kris a
"Itu kecil" Bella menjentikkan jarinya
"Kau makin sombong saja, pasti ajaran suami mu kan."
"Mau tidak!!" Bella mulai kesal, belum lagi ketika melihat ponsel nya yang sudah dipenuhi panggilan dan pesan dari Bean yang meminta cepat datang agar kesejahteraan gaji nya dapat terlindungi
"Siapa yang menolak! Benar ya, kau jangan berbohong."
__ADS_1
"Tidak akan, sebaiknya antar aku ke Ramona sekarang. Sebelum Tuan arogan itu mulai menyalahgunakan kekuasaan nya."
🍁🍁🍁
Bean mulai gusar karena tidak ada tanda-tanda Bella akan muncul, mereka sudah di pertengahan lorong menuju ruangan Alex. Satupun pesan atau telpon tidak ada dibalas oleh Nona Bos nya itu.
Ayolah, Nona...
Alex masih dengan wajah tegas dan dingin nya setelah keluar dari ruangan rapat. Namun siapa yang tahu jika pikirannya tidak jauh dari sang istri.
Tersenyum smirk, Alex yakin jika istrinya itu belum datang. Jika iya, perusahaan akan sedikit heboh karena kedatangan dewi. Selalu begitu meski sudah berkali-kali Bella datang. Tapi sekarang sangat sunyi seperti biasa nya.
Bean akhirnya hanya pasrah meski sedikit berharap, ancaman Alex tentu bukan mainan. Pengurangan gaji berarti menghilangkan satu nol miliknya! dan artinya akan berkurang banyak, Tidak!!
Benar saja, saat pintu dibuka, tidak ada satupun tanda kehidupan disana. Bean mendadak lesu, menatap memelas pada sang Tuan Muda. Namun Alex hanya memasang wajah angkuh nya.
Alex menghempaskan tubuhnya di Sofa dengan kaki menyilang di atas meja. Dia mengambil ponsel nya bermaksud menghubungi Istrinya yang ingkar dan memberi hukuman.
Tapi saat akan menekan nomor, Suara tawa bayi langsung memenuhi ruangan. Alex dan Bean segera mencari asal suara, saling menatap, kedua nya sama-sama menunduk ke bawah meja.
"Baby Jo!!" ucap bersamaan
Alex segera meraih nya dan mengeluarkan nya dari sana, Jourell menghentak-hentakkan kakinya senang. Mungkin dia berpikir sedang bermain petak umpet bersama sang ayah.
"Dimana, Mommy. hmm?" mencium pipi gembur putranya, bau Bella menempel erat dituduh bayi empat bulan ini
Jourell kembali tertawa sambil menoleh ke arah pintu, Bean dan Alex kembali mengikuti arah matanya. Dan terlihat lah Bella yang berada tepat di samping pintu sedang tersenyum manis.
"Baby Jo tidak pandai bersembunyi." Cemberut nya dan mendekat
"Sejak kapan Nona disana?" Bean sedikit berharap
"Sejak melihat kalian di lorong Lift. Jadi kami langsung berlari dan bersembunyi, iyakan Baby." Mencium Jourell di pelukan Alex
Alex terkekeh, wanita ini patuh juga ternyata. Bean bahagia tentu saja, setidaknya gajinya masih aman terkendali. Tidak ingin mengganggu keluarga itu, dia pamit keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1