
Deringan ponsel berkali-kali membangunkan dua makhluk Tuhan yang masih terlelap. Alex merapatkan selimut Bella yang menggeliat dan menenggelamkannya di dadanya.
"Tidurlah lagi," bisik Alex, mengelus kepala istrinya.
Alex mengambil ponselnya di atas nakas. Panggilan tak terjawab berkali-kali dari Bean membuat Alex heran sekaligus kesal. Satu pesan masuk lagi, masih dari orang yang sama.
Bean
Perusahaan QA di penuhi wartawan! Mereka memburu nona Qi!
Beberapa pebisnis juga menerobos masuk, Tuan. Mereka mengancam akan menghancurkan perusahaan.
Pesan lain ikut menyusul masuk ke ponsel milik Alex. Kali ini dari para sahabat-sahabat nya yang ikut khawatir.
Mike
Kau sudah melihat berita? Sandra melarang ku keluar!
Leo
Lihat berita hari ini! Kau akan terkejut.
Kris
Jaga istrimu, jangan biarkan dia keluar! Anna dan yang lain masih mengurusnya.
Alex tidak membalas, tangannya langsung berlari ke pencarian berita. Berita nona Qi yang belum diketahui sosoknya sudah menjadi trending nomor satu di media.
Rahang Alex mengeras membawa setiap berita yang membicarakan istrinya itu. Siapa lagi yang berani menyebarkan hal seperti ini! Dulu dia membiarkan Bella mengurusnya sendiri atas kemauan wanita itu, tapi tidak untuk yang kedua kali!
Selidiki siapa dibalik ini semua! Membalas pesan Bean.
Alex menatap wajah damai istrinya. Wanita ini tak pernah berbuat ulah, lalu kenapa begitu banyak musuh? Terlalu baik justru lebih mengundang penjahat untuk mendekat dan dia membenci hal tersebut.
"Aku akan melindungi mu, Bebe. Kau dan anak kita," bisiknya pelan, lalu mengecup kening istrinya.
**
Bella mengangkat tangannya untuk menghalau sinar matahari yang masuk. Rupanya, dia kesiangan lagi. Sejak kehamilan yang kedua, Bella lebih cepat lelah dan mengantuk. Tidurpun sudah seperti lupa waktu.
Dia mencari Alex di sekeliling kamar. Biasanya, suaminya itu baru akan pergi setelah melihatnya bangun. Bella kemudian mencari ponselnya, tidak ada?
__ADS_1
Dia bangkit dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Mencari ke seluruh ruangan benda pipih yang sudah seperti teman hidup bagi umat manusia itu. Tidak menemukannya, Bella menyerah. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu turun untuk sarapan.
"Selamat pagi, Mrs." Kepala pelayan Smith dan beberapa pelayan sudah berbaris rapi menyambutnya.
"Selamat pagi semua." Duduk setelah pelayan menarik kursi untuknya.
"Joy sudah berangkat, Paman?" tanya Bella sambil memasukkan sendok ke mulutnya.
"Sudah, Mrs. Tuan Marcel yang mengantarnya."
Berarti Alex sudah pergi sejak pagi? Pasti karena tidak ada tanda-tanda dia akan bangun. Bella terkekeh dalam hati, menertawai dirinya sendiri yang pemalas.
"Oh ya, Paman. Bisa carikan ponsel ku di kamar? Aku tidak tahu dimana meletakkannya terakhir kali." Masih diingat saja benda pipih itu.
"Baik, Mrs."
Bella menunggu Smith di ruang keluarga. Dia benar-benar bosan berdiam diri seperti ini. Bella hendak menyalakan televisi, tapi anehnya benda itu tidak mau menyala.
Eh? Ada apa hari ini.
"Maaf, Mrs. Saya tidak bisa menemukannya." Kedatangan Smith yang tiba-tiba membuat Bella tersentak kaget.
"Maaf, Nona. Tuan kecil tidak sengaja melemparnya dengan bola basket. Saya baru akan meminta dikirimkan yang baru." Bella mendadak lesu. Membosankan!
Bocah kecil itu sempat melihat berita saat menunggu orang tuanya bangun. Siapa sangka ketika menyalakan televisi, berita ibunya membuatnya naik darah. Jourell tanpa pikir panjang meraih sebuah bola basket di sudut ruangan dan melemparnya tanpa perasaan hingga televisi mati mendadak.
Dia memang masih kecil, tapi kecerdasannya tidak bisa diragukan lagi. Bocah laki-laki itu telah mewarisi kepintaran orang tuanya.
Smith dan seluruh orang di mansion tahu apa yang tengah terjadi. Alex sudah memperingati mereka lebih awal. Ponsel berserta laptop pun sudah Alex sembunyikan dari istrinya itu.
"Kalau begitu, aku akan pergi keluar saja. Aneh sekali hari ini," gerutunya heran seraya bangkit dari sofa.
Smith dan pelayan disana langsung panik. Bella tidak boleh kemana-mana!
"Mrs ... tuan Marcel bilang agar tidak mengizinkan anda keluar," cegah Smith cepat.
Bella langsung mendelik tidak suka. Hell! Sejak kapan pria itu melarangnya lagi. Biasanya juga tidak!
"Tuan bilang anda kelelahan, jadi harus istirahat di rumah saja." Smith mengarang bebas.
Bella berdecak. "Apa-apaan dia. Aku tidak selelah itu ya!"
__ADS_1
"Itu karena anda sedang hamil, jadi tuan khawatir,' katanya lagi.
Kening Bella mengerut. Ditatapnya Smith dan pelayan yang menduduk takut disana.
"Aneh sekali kalian ini, tidak seperti biasanya," kata Bella curiga.
Mereka berkeringat dingin. "Apa—"
"Bells." Panggilan seseorang memotong kata-kata Bella. Para pelayan langsung bernafas lega.
"Mama?" Yes. Hyuran datang tanpa permisi.
"Kau ikut aku pulang. Naik dan ambil tas mu." Bella mencibir. Datang tiba-tiba, lalu memerintah seenaknya.
"Al tidak mengizinkan ku keluar, Ma."
"Itu sebabnya aku disini, bodoh. Apa dia berani menentang mertuanya?" sinis Hyuran kesal.
"Dasar orang tua! Seenaknya saja," decak Bella, namun tetap pergi mengambil tasnya.
Smith dan yang lain meringis dalam hati. Ibu dan anak sama saja! Tidak kenal orang maupun tempat.
"Mrs. Vilegas, maafkan saya. Tapi tuan berpesan—"
"Aku tahu. Aku sudah mengatakan padanya tadi." Dia tidak berbohong soal ini!
"Tanyakan saja padanya jika tidak percaya." Tahu jika kepala pelayan ini ragu.
"Maaf, Mrs." Smith mengelurkan ponselnya untuk menanyakan pada Asisten Bean.
"Benar, kan?"
"Benar, Mrs. Kalau begitu saya bisa tenang."
Tak lama Bella turun, sudah siap untuk pergi. "Ayo pergi, Ma." Merangkul lengan ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bentar lagi tamat😀...
...Like sama Komen nya dulu baru UP 😉...
__ADS_1