Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
S2 | Menjadi Orang Bodoh


__ADS_3

Dikamar, Joy menggusar rambutnya acak. Mengapa ia tidak suka orang tuanya membahas mengenai Ray dan Milla. Padahal ia jelas tidak peduli sama sekali.


Notifikasi pesan terdengar. Joy sudah tahu siapa orangnya.


Gadis rusuh


Selamat malam, Joy. Sudah ingin tidur? Sudah makan malam?


Aku membuat kue dengan bibi. Cobalah besok! Kau akan suka.


Entah keinginan darimana jari-jarinya mulai mengetik. Tidak seperti biasa yang hanya ia abaikan.


Me


Berisik!


Tapi begitulah, hanya lontaran kasar yang diberikan.


Gadis rusuh


Kau membalas?!! Aku tidak salah lihat, kan?


"Ck!" Joy berdecak sembari melempar ponselnya ke sembarang arah.


Cinta atau hubungan percintaan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tidak pernah sama sekali selama 19 tahun hidupnya! Lalu gadis itu datang mengemis cintanya? Apa wanita serendah itu hingga mengemis pada laki-laki. Tidak. Ibunya tidak seperti itu. Dia wanita terhormat dan disegani. Joy menginginkan wanita seperti ibunya.


-


-


-


-

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Jourell beserta teman-temannya sudah duduk di bangkunya menunggu kelas pertama dimulai. Tepat di depan laki-laki itu sudah terletak sebuah kotak makan yang sudah bisa ia tebak siapa pemiliknya.


Jourell menoleh ke samping, menatap seorang gadis yang tersenyum lebar di ujung sana sambil membuat bentuk hati dengan jarinya pada Jourell. Laki-laki itu mendelik memalingkan wajahnya.


" Kak Joy!" Chloe datang dengan riang bersama yang lainnya.


"Aku bukan kakakmu," hardik Joy. Gadis itu tidak peduli dan langsung duduk di samping Jourell sembari memeluk lengan Jourell. Milla di ujung sana menunduk melihatnya.


"Tanganmu," datar Jourell. Chloe berdecak, namun tidak membantah. Ia melepaskan tangannya. Raymond dan Eric hanya menggeleng melihatnya.


"Woah ... apa ini?" Eric mengamati kotak makan di atas meja. Ray sontak menyenggol Eric. Laki-laki itu menunjuk Mila dengan dagunya, menunjukkan wajah murung gadis itu.


"Makan saja." Joy menggeser kotak makan itu pada Eric, lalu mengambil bukunya di kolong meja.


"Sungguh? Kau tidak mau mencobanya?" tanya Eric tak percaya sembari melirik diam-diam kearah Milla. Rasanya Jourell terlalu kejam.


"Tentu saja itu bukan seleranya! Kau saja yang makan. Aku bisa meminta Mommy membuatkan untuk Joy," cerca Chloe.


"Ck! Dasar sombong."


Sedangkan Verdia di samping Milla menatap geram orang-orang itu. Apa sulit menghargai pemberian orang?!


"Kau masih ingin berjuang? Bukan, tapi menjadi orang bodoh," tanyanya pada Milla.


"Apa maksudmu, Verdia." Milla jengah.


"Lihat! Ya Tuhann ... kapan kau akan sadar! Kau dengar gadis sombong itu bilang apa? B-u-k-a-n s-e-l-e-r-a! Dia sedang menyindirmu, Millaaa!"


"Sejak dulu memang sudah seperti itu," jawab Milla acuh. Verdia terperangah. "Terserah! Aku lelah memperingatimu," ketusnya.


"Kalau begitu diam saja, Ver. Aku sudah siap menanggung resikonya."


"Sampai kapan?"

__ADS_1


"Sampai lelah."


"Sampai mati maksudmu!" ketus Verdia. Milla tidak mendengarkan.


"Mom dan daddy akan makan siang dekat kampusmu. Mau bergabung?"


Pesan dari Bella itu membuat Jourell langsung menegakkan tubuhnya. Ibunya pasti sedang banyak waktu luang hingga mengajak nya bergabung. Sebenarnya ada atau tidak ada waktu, ibunya akan selalu menyempatkan waktu untuknya, hanya saja ada ayahnya yang tidak mau mengalah.


Saat Bella sudah berkata begitu, maka artinya Alex tidak bisa membantah. Lagipula ayah mana yang cemburu dengan anaknya sendiri. Mungkin hanya Alex. Entahlah, ada banyak spesies langkah di luar sana.


"Hanya bertiga, kan?" tanya Jourell.


"Of Course ... No! Ajak yang lainnya. Mom ingin melihat mereka semua."


Jourell langsung berdecak melihat jawaban ibunya.


"Wajahmu kesal. Bibi Bells menanyakan kami ya?" goda Eric menebak.


"Kita makan siang bersama setelah ini. Ada dad juga," ucapnya malas.


"Woahh ... ini langka! Uncle kan tidak suka diganggu," celetuk Eric lagi.


"Bibi mungkin ingin bicara," ucap Ray juga.


Hanya Chloe yang terdiam gugup dengan menggigit jari.


"Bibi tidak tahu perbuatanku, kan?" Jujur ia lebih baik dimarahi oleh ibunya daripada Bella. Meski ucapan wanita itu lebih halus, tapi lebih menyakitkan daripada Anna.


"Mustahil bibi tidak tahu jika kau sudah berubah menjadi gadis liar," ejek Eric. "Seperti apa itu? Byurr ... wahh, itu perbuatan tercela." Laki-laki itu memperagakan ulang saat Chloe menyiram jus pada Milla.


"Bibi menyayangiku. Dia tidak akan terlalu keras." Chloe bergumam sendiri.


"Ck!" Joy berdecak mendengarnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk sekuel memang tidak dilanjut untuk sekarang karena aku belum nemu plot cerita yang bagus untuk mereka. Daripada cerita yang aku buat kacau, mending aku berhenti dulu.


__ADS_2