
Di balik sebuah jeruji besi, seorang pria yang diperkirakan berusia tiga puluh lima tahun tampak tak memiliki semangat hidup. Keadaannya cukup berantakan, ditambah dengan pakaian kriminalnya yang mendukung keadaan.
Terkadang dunia hukum itu lucu, banyak orang-orang yang tak bersalah bisa menjadi korban. Status dan kekayaan tak jarang digunakan untuk menjebak dan menjadikan seseorang kambing hitam untuk menyelamatkan diri sendiri.
Namun, setiap orang itu berbeda. Jangan samakan orang satu dengan yang lainnya hanya karena mereka berada di lingkungan yang sama!
Dulunya, dia hanya anak jalanan diusianya yang ke 15 tahun. Tapi, pertemuannya dengan Hans saat itu membawanya kepada ke keberuntungan. Bersama dengan teman seperjuangan, Hans memberikan mereka pendidikan dan kehidupan layak.
Hans mengangkat mereka di sisinya, menjadi asisten di dalam perusahaan yang dibangunnya dengan kerja keras. Tapi siapa sangka, seiring berjalannya waktu, ketika diri semakin dewasa, semakin lupa siapa diri ini.
Teman seperjuangannya berkhianat, menjadi serakah akan harta, menipu Hans termasuk dirinya. Tidak peduli seberapa hebatnya kau saat itu, lihatlah siapa yang berjuang bersamamu.
Sahabatnya berpikir bahwa ia mampu menguasai perusahaan sendiri. Tapi, lihat? Perusahaan Victor yang dia curi sudah berada di ambang kehancuran. Meski berada di dalam penjara, bukan berarti telinga tidak bisa mendengar. Para petugas tak jarang membicarakan berita di luar sana.
Tap tap tap
Pria itu mendongak. Petugas keamanan datang seperti biasa untuk memantau, namun kali ini ada yang berbeda.
"Anda bebas!"
Matanya membelalak tidak percaya, sudah bertahun-tahun dia disini sebagai tuduhan penggelapan dana dan pencurian dokumen rahasia. Siapa yang membantunya? Tuan Hans? Tapi dia menghilang selama bertahun-tahun.
"Be— bebas?" Satu kata itu begitu sulit keluar dari mulutnya.
"Benar. Seseorang datang dan membuktikan anda tidak bersalah. Ikuti saya, Tuan."
Petugas itu membawanya ke ruangan yang biasa di gunakan untuk menginterogasi para pelaku tersangka. Petugas itu menyuruhnya masuk dan menutup pintu. Tinggal lah dirinya bersama seseorang yang telah membebaskannya.
"Nona Qiara?" Dia cukup ragu, sudah lama tidak melihat sosok itu.
Sosok itu tersenyum. "Halo, Kak Fras. Lama tidak bertemu." Terakhir kali mereka berdua bertemu adalah ketika Bella hendak pergi dari keluarga Victor.
"Nona ..." Fras menunduk sambil terisak, tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan gadis berbudi luhur ini.
"Maaf karena terlambat mengeluarkan, Kakak. Aku tidak tahu jika Kak Fras ada disini," ucap Bella menyesal.
Fras menggeleng, dia langsung berlutut di hadapan Bella yang terkejut. "Terima kasih, Nona. Saya pikir, saya akan terus berada disini. Terima kasih masih mengingat saya yang rendah ini." Menunduk sambil bersimpuh.
"Tidak ada yang rendah, jadi bangun lah. Kau sudah tua, tapi menangis seperti banci," gerutunya. Fras tersenyum tipis. Nona mudanya tidak berubah, masih suka berkata semaunya.
"Tiga lima itu usia matang, Nona. Dua tahun lagi, suami anda juga akan menjadi setua saya," katanya bercanda.
Bella melotot, enak saja!
__ADS_1
"Suamiku tampan tahu!" kilah Bella. Fras terkekeh.
Dia bangkit dan duduk di depan Bella. Fras baru menyadari ada yang berbeda dengan mantan majikannya ini. "Anda hamil, Nona?" Melihat perut Bella yang sedikit menonjol.
Bella tersenyum seraya mengangguk. "Anak kedua dan ketiga!"
"Sungguh! Wah ... hebat. Saya pikir anak pertama. Selamat, Nona," katanya tulus sekaligus senang.
"Terima kasih, Kak."
"Ayo pulang. Aku ingin Kak Fras membantuku."
**
"LEPASKAN AKU! APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
Dua orang petugas keamanan terus menyeret masuk seorang pria yang tak henti-hentinya meronta dan berteriak.
Dia terkejut bukan main saat aparat kepolisian menangkapnya tiba-tiba di perusahaan. Dirinya dibawa pergi begitu saja tanpa berkata-kata.
"KU BILANG LEPASKAN! KALIAN TIDAK TAHU SIAPA AKU!" teriaknya marah.
"Memangnya kau siapa? Penipu atau pencuri?"
Bella mengedikkan dagu kearah pria itu, memberi isyarat pada pria lain di belakangnya yang tidak lain adalah pengacara suaminya. Pengacara itu mengangguk, lalu berjalan mendekati pria itu.
"Tuan Xerus, anda terbukti telah melakukan pencurian dokumen rahasia dan menjualnya pada perusahaan ilegal. Kemudian, anda juga terbukti telah menggelapkan sejumlah dana milik perusahaan." jelasnya.
Fras menatap penuh kecewa pada Xerus. Pria itu harus menanggung semua perbuatannya yang tidak bertanggungjawab setelah mengalihkan semua tuduhan pada dirinya. Xerus berhenti memberontak, rela jika harus berakhir di balik jeruji besi.
.
"Kau sudah melewati batas, Xerus!" lirih Fras.
Xerus yang dikenalnya dulu tidaklah seperti ini. Dia pria ramah dan mudah tersenyum pada siapa saja.
"Dia hanya pria tak tahu malu yang ingin memiliki baju yang sama dengan majikannya. Namun, dia tak mampu memilikinya, itu sebabnya dia mencuri apa yang bukan miliknya." ucap Bella datar. Xerus merasa sakit mendengarnya.
Bukan bermaksud merendahkan, tapi manusia sejenis ini harus diberi pencerahan meski akhirnya tetap sama.
"Apa peduli mu, Nona ... mereka saja tak memperlakukan anda dengan baik! Lalu untuk apa bertindak sejauh ini!"
"Saya membenci mereka semua, Nona! Saya hanya ingin mereka merasakan seperti apa direndahkan karena status. Sama seperti saat mereka menghakimi Nona seenaknya!"
__ADS_1
Persetan dikatakan jahat dan tak tahu malu. Mata dan hatinya sudah tertutup akan kebencian. Melihat gadis kecil yang tak tahu apapun di perlakukan seenaknya, membuat hati Xerus menumpukkan sedikit demi sedikit rasa bencinya dalam diam.
Qiara hanya gadis kecil yang kehilangan orang tuanya. tuan Hans mengatakan itu putri pertamanya. Lama kelamaan, dia mulai mengetahui jika Qiara adalah anak haram dari tuan Hans dengan kekasihnya. Sehingga, gadis itu sering mendapat perlakuan buruk.
Xerus telah menjadi salah satu yang peduli, tanpa sadar menyimpan rasa untuk gadis kecil yang masih polos. Xerus selalu berusaha menahan rasa bencinya yang mulai tumbuh itu, hingga puncaknya, Qiara memilih pergi meninggalkan mereka semua.
Selama ini, dia berusaha mencari celah untuk menguasai perusahaan demi membalikkan hinaan itu. Pikirannya mungkin sudah diambang kegilaan karena nekat mengorbankan sahabatnya sendiri untuk mencapai tujuannya.
Tanpa Bella tahu, ada banyak diluar sana yang masih peduli padanya. Jangan merasa sendiri lalu putus asa, kita tidak tahu apa yang menunggu kita di depan sana.
"Nona, saya tak berniat merebut milik tuan. Saya hanya ingin status mereka jatuh, lalu melepas semuanya." Menatap Bella sendu.
Fras menatap Xerus tidak percaya. Semua ini semata-mata untuk sang nona?
"Kak Xerus ... aku sudah pernah bilang, jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri."
Entah seperti apa perasaan Bella sekarang. Di satu sisi dia tak ingin menyerahkan Xerus karena kasusnya. Tapi, di sisi lain pria itu tetap bersalah meski alasannya adalah dirinya.
"Saya tidak menyesal, Nona. Saya memang berniat menyerahkan diri setelah perusahaan itu benar-benar hancur di tangan saya, namun saya lebih dulu tertangkap." Xerus terkekeh. Bella hanya diam menatapnya.
"Selamat atas pernikahan anda, Nona. Saya mungkin terlambat, tapi hanya hari ini kita bertemu. Maafkan saya karena tidak menyesali perbuatan saya pada keluarga Victor. Saya tidak akan meminta maaf, Nona. Jadi, jangan paksa saya untuk melakukannya."
"Maafkan aku karena melibatkanmu, Fras. Sekarang aku yang akan menggantikan tempatmu di penjara," ucapnya tulus, penuh rasa bersalah.
"Xerus," ucap Fras lemah.
Tidak ada lagi suara. Petugas keamanan itu kembali membawa Xerus masuk melewati Bella untuk ditindaklanjuti. Pria itu tidak lagi memberontak, pasrah.
"Kak Xerus ..." Bella akhirnya bicara. Xerus menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Aku akan menunggu mu keluar dari sana. Saat itu tiba, kau bisa menjadi pelindung untuk anak-anakku." Bella tersenyum tulus, matanya sedikit basah.
"Thank you," ucap Bella lagi. Xerus tersenyum lebar. Dia merasa bahagia meski akan di penjara.
Fras mengusap sudut matanya. Dia mendekati Xerus dan memeluk sahabat gilanya yang jahat itu. Bahu pria itu bergetar. "Aku tahu kau masih sama." Xerus tersenyum mendengarnya, lalu menepuk pelan bahu Fras.
"Maaf," ucap Xerus sekali lagi. Fras mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like menurun, makanya males UP cepat😪...
...Kita balik ke aturan awal ya. LIKE nya dulu baru UP....
__ADS_1
...Kalo udah banyak, baru aku UP lagi. Sip👍...