Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 73 | Para Pengganggu


__ADS_3

"Kau yakin ini aman? Dia istri Tuan Marcelio, kau tidak takut?" ucap seorang wanita dengan rambut sebahu.


"Belum ada pergerakan apapun dari mereka," ujar wanita blonde.


"Masih belum! Kita tidak tahu nanti." wanita rambut sebahu itu menyela lagi.


"Apa yang dibanggakan dari wanita itu. Aku yakin sekarang keluarga Ramona sedang malu karena berita Qiara bisa merusak reputasi mereka!" Wanita dengan rambut panjang hitam legamnya berbicara yakin.


"Tapi Rose ...."


"Diamlah, Nat! Sejak dulu hingga sekarang dia selalu beruntung. Semua pria mengejarnya bahkan tuan Marcel pun begitu! Mereka semua buta karena menginginkan wanita tidak jelas itu!"


Kedua temannya bisa melihat api kebencian di mata Roselea. Mereka sudah berteman sejak lama karena orang tua mereka cukup dekat, tapi salah satu sifat buruk Roselea yang tidak begitu mereka suka adalah sifat iri nya yang berlebihan.


Natalie Palmor tidak bisa membantah karena hidup perusahaan ayahnya masih dalam genggaman keluarga Arduous yaitu keluarga Roselea.


Begitupun dengan Ravenna Grint si blonde yang tidak jauh berbeda dengan Natalie. Hanya saja Natalie masih cukup waras dari mereka berdua.


Rasa benci nya pada Qiara sejak kuliah ternyata kembali tumbuh setelah pria yang lama disukainya dan pernah mendapat penolakan dari Qiara itu masih berharap meski tahu wanita itu sudah menikah.


"Mungkin sebentar lagi dia akan dibuang, setelah itu akan kubuat orang-orang yang pernah mengaguminya jijik walau hanya melirik nya saja!" Tajamnya, Ravenna mengangguk setuju.


Natalie tidak bisa berbuat banyak, tapi juga merasa kasihan pada Qiara yang hanya menjadi korban. Ia kenal wanita itu, gadis muda yang ramah meski terlihat dingin dan sedikit arogan.


Tidak jauh dari mereka duduk, seorang wanita cantik dengan santai menyesap kopi manisnya. Para wanita kaya itu punya ambisi yang besar namun sangat ceroboh, berbicara rahasia ditempat terbuka seperti ini? Tidakkah mereka tahu jika dinding juga punya telinga?


"Ck! Dasar pengganggu," decaknya malas.


.


.


.

__ADS_1


Berbeda jauh dari dugaan, di sebuah mansion mewah super besar sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada satupun dari mereka yang menanggapi berita yang sedang panas itu.


Di ruang keluarga, semua anggota berkumpul meski dengan urusan masing-masing.


Clarissa dan Alfred sibuk memanjakan cucu mereka, Alex dan Bean juga sama sibuknya dengan urusan kantor, sedangkan tiga makhluk cantik lainnya sibuk dengan permainan mereka.


Mengguncang dadu dan mengelilingi negara, sudah jelas itu permainan yang dinamakan monopoli. Entah dari mana Sofia dan Elora mendapatkannya, yang jelas mereka langsung menyeret Bella untuk bermain dengan antusias.


Namun itu tidak bertahan lama, pada akhirnya mereka hanya bisa menelan kekalahan.


"Ah menyebalkan! Menyesal aku mengajak Kak Bells bermain," gerutu Elora.


"Memangnya siapa yang memaksa awalnya?" Bella tersenyum angkuh.


"Hampir semua negara sudah Kakak beli, uang kami sudah habis untuk membayar denda dan sewa!" Sofia cemberut.


"Itu namanya bisnis!" tekan Bella.


"Aku tidak ingin bermain lagi!" kesal Elora bersedekap.


"Ada apa denganmu? Sejak dari kampus kau selalu kesal," ucap Sofia.


"Tentu saja kesal. Aku lelah mendengar gosip-gosip bodoh itu di setiap sudut kampus! Bahkan ponsel ku penuh dengan notif berita."


"Kak, apa kau sungguh berciuman?" Lanjutnya lagi menatap Bella.


Semua orang ikut menatap Bella, termasuk Alex yang kembali kesal. Kesal pada pria yang memaksa Bella maksudnya!


"Tentu saja tidak, ciuman pertamaku sudah dicuri pria arogan lebih dulu." Alex langsung mendelik sebal.


Bean, Clarissa dan Alfred mengatup bibir mereka rapat agar tidak tertawa. Tentu saja tau siapa yang dimaksud, sedangkan Sofia dan Elora hanya mengerjit bingung.


"Tapi pria pertamamu, kan Kak Al," ujar Sofia.

__ADS_1


"Apa pria arogan itu kak Al?" tebak Elora.


"Memangnya menurutmu siapa?" santai Bella, membuat dua gadis itu saling tatap, lalu tertawa.


"Apa yang lucu!" ketus Alex. Mereka langsung menutup mulut dengan sebelah tangan.


Bella terkekeh. "Jangan sering marah-marah, Al. Nanti kau bertambah tua," celetuk Bella asal.


"Tua? Kau bilang aku tua?" ucap Alex, menahan diri agar tidak menerkam istrinya yang suka asal bicara ini mengingat bukan hanya mereka disini.


"Aku tidak bilang begitu!" kilahnya.


Ting


Bella langsung mengambil ponsel nya. Jangan bilang notif tak berfaedah lagi, tapi saat melihat nama yang tertera, Bella menyunggingkan senyum tipis.


"I found her."


Isi pesan yang dikirim oleh seseorang. Seseorang yang sangat pandai dalam bidang informasi, tak pernah sekalipun orang ini mengecewakan nya.


"Kita lihat sampai mana mereka bisa bertahan," ucapnya tajam.


Keluarga nya bisa melihat sorot tajam yang dipancarkan wanita ini, mengatakan agar jangan bermain-main dengannya. Meski suami nya adalah orang yang disegani, bukan berarti dia akan berlindung dibalik tubuhnya seperti gadis lemah.


"Ajak aku juga, Bebe. Jangan lakukan sendiri." Dingin Alex tak kalah tajam.


"Tentu saja." Bella tersenyum licik.


Yang lain bergidik, Elora sendiri baru melihat sosok lain Bella yang seperti ini.


Pasangan mengerikan. batin mereka semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2