Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 46 | Tingkah Bella


__ADS_3

2 Bulan Kemudian ....


Seorang wanita dengan perut yang semakin membesar sedang terperangah di depan sebuah Lift. Dua orang pria yang dianggap gila berdiri dibelakangnya sambil tersenyum bangga. Wanita itu menoleh sambil menggelengkan kepalanya syok.


“Bagaimana? Kau suka?” Salah satu pria itu bertanya.


“Kau gila! Memangnya tangganya rusak hingga kalian membangun Lift di Man ... sion.”


Bella benar – benar dibuat pusing dengan tingkah Alex yang semakin lama semakin gila menurutnya, belum lagi Bean yang sama gilanya hanya menurut apa kata Bos nya. Setidaknya bedakan yang waras dan gila!


“Nona bicara apa? Mansion Ramona adalah Mansion yang sangat besar dan berkelas, jadi sudah dipastikan semua fasilitas memadai dan sangat layak tanpa cacat.” Bean menjelaskan membuat Bella mendengus kesal.


“Kalian hanya membuang – buang uang, sudah tahu semua layak, jadi untuk apa ini!” Bella menendang pintu Lift didepannya.


“Ini untukmu, Bebe. Lihat saja perutmu yang seperti ingin meledak. Aku ngeri melihatmu turun dari atas tangga hingga kebawah.” Alex bergidik dan diangguki oleh Bean.


Wah mulutmu manis sekali, Tuan muda. Memangnya perutku balon yang kelebihan udara ....


“Terserah ...” Meninggalkan keduanya menuju dapur. Lebih baik mengisi perut dengan makanan daripada mengisi kepalanya dengan hal gila mereka.


Alex mengerutkan kening bingung. Apa dia salah lagi? Dia hanya mengkhawatirkan kondisi Bella dan anaknya. “Sudahlah, Tuan muda. Wanita hamil memang sensitif.” Alex hanya menghela nafas dan menyusul Bella.


-


-


Diluar, sebuah mobil berhenti tepat di halaman Mansion. Eillen keluar sambil menggendong Kyle. Kepala pelayan Smith menyambutnya dan membiarkannya masuk.


“Dimana, Bella?”


“Di dapur, Mrs.” Eillen mengangguk dan menyusul Bella.


Didepan pintu masuk dapur, Eillen melihat Bean yang duduk memangku laptopnya. Apa yang dilakukan pria itu disini, apa tidak ke kantor?


“Bean?”


“Mrs ...” Berdiri dan menundukkan kepala.


“Sedang apa disini?”


“Saya memang selalu mengikuti Tuan muda, Mrs,” ucapnya santai.


“Berarti Al ada disini?” Menyembulkan kepala di pintu. Benar saja, dia melihat Bella yang menampilkan raut cemberut dengan Alex disampingnya. Mereka sedikit berdebat, entah apa yang diperdebatkan.


“Ada ada saja anak ini,” gumamnya melihat tingkah mereka berdua. Berjalan masuk diikuti oleh Bean dibelakangannya.


“Banyak-banyak berjalan daripada berdebat.” Eillen datang menengahi.


“Eomma!” Bella langsung berdiri memeluk ibunya.


“Astaga ... pelan-pelan, Bebe ...”


Eillen memukul bahu Bella pelan, merasa heran dengan tingkah kekanakan Bella. Hormon kehamilan memang bisa mengubah orang pintar menjadi bodoh seketika.

__ADS_1


“Kau ini! Jangan membuat orang takut.” Bella menyengir, bergelayut manja memeluk ibunya.


“Bagaimana keadaanmu? Kuharap kau tidak gila karena bersamanya,” katanya pada Alex.


Bean menggeleng pelan, sekarang dia mengerti darimana semua sifat Bella berasal. Ternyata tidak berbeda jauh dengan Eillen yang rupanya sama-sama memiliki lidah tajam.


Alex terkekeh melirik Bella “Untungnya aku masih waras.” Bella berdecak kesal, melepas pelukannya.


Yang ada aku yang gila karena ulahnya. Dasar tidak sadar diri.


“Kau tidak bekerja?” Padahal Alex sudah memakai Jas kerjanya lengkap dengan Bean yang mengekorinya.


Alex menghela nafas kasar. Bukan tidak mau, dia hanya tidak ingin meninggalkan Bella sendiri. Meskipun ada para pelayan disini, tetap saja Alex khawatir mengingat Bella yang tidak bisa diam di satu tempat.


Mungkin dia sedikit tenang jika ada Clarissa atau Sofia, tapi dua wanita itu sedang ada urusan diluar rumah. Awalnya ingin membawa Bella ikut, tapi Alex melarang karena kehamilan Bella yang semakin membesar.


Eillen mengerti, jadi menawarkan diri untuk menjaga Bella selama Alex pergi. Lagipula tujuan awalnya memang karena merindukan putri bodohnya ini.


“Pergilah! Aku akan menjaganya.” Alex sedikit ragu, bukan tidak percaya. Tapi Bella yang tidak bisa dipercaya.


“Fine. Aku titip Bella, Mom.” Akhirnya.


“Jangan nakal dan hati hati! Aku pergi dulu.” Mengecup keningnya lama dan bibirnya singkat.


.


.


.


.


“Kau tidak dengar suamimu bilang apa.” Bella berdecak lalu menatap Kyle yang bermain di karpet berbulu di ruang keluarga.


“Kyle, apa kau tidak bosan di rumah terus?”


“Jangan macam – macam kau.”


“Eommaaa ... aku ingin makan Dalkbal, Buldak, Tokkebi Hotdog, pasti enak.” Bella membayangkan sambil mengusap perut buncitnya.


“I want too ...” Kyle melompat kegirangan. Eillen menghela nafas pasrah. Dia tidak tega melihat Bella yang seperti ini.


“Bagaimana dengan Alex?”


“Eomma tenang saja, lagipula ini keinginan anaknya. Biar aku yang urus.”


“Oke, baiklah.” Bella langsung berbinar.


“Eomma yang terbaik.” Mencium pipi Eillen dan memeluknya.


“Sudah hentikan!”


“Come on, Kyle. Lets go!”

__ADS_1


“Lets go!” Bangun dan berlari mengikuti Bella. Eillen menghela nafas pelan sambil mengirim pesan ke Alex untuk berjaga jaga.


_


-


-


Eillen menghentikan mobilnya di depan Hyuna restaurant. Menatap tempat itu dengan rasa sedih. Putrinya pasti menghabiskan masa mudanya seperti orang dewasa yang menghidupi keluarganya. Seandainya dulu dia mengingat semuanya, Bella sekarang pasti sedang bersenang senang seperti anak muda yang lain.


Membesarkan Bella dengan kasih sayang dan memanjakannya seperti anak kecil. Bukan bekerja disaat semua orang masih duduk memperhatikan gurunya di depan kelas.


Bahkan di usianya sekarang dia sudah harus menerima tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Terkadang dia merasa takdir tidak adil kepada putrinya. Sayangnya dia tidak bisa menyalahkan takdir selain hanya menerima dan menjalaninya.


Eillen menatap kedua putrinya yang sangat akur berbagi makanan. Dia bersyukur keluarganya bisa saling menerima meskipun tidak sedarah. Dia tersenyum ketika melihat Bella makan dengan lahap, pipinya menggembung terisi penuh.


Bella tertawa saat Kyle menjulurkan lidahnya karena tidak tahan dengan rasa pedas yang membakar mulutnya.


“Aku kan sudah bilang itu pedas, Kylee ...” Kyle mendelik kesal, kakak macam apa dia yang senang melihat adiknya menderita!


“Kau ini! Sudah hampir 6 tahun, masa tidak tahan,” goda Bella. Kyle semakin kesal.


“Dasar anak kecil. Pergi saja masih digendong Mom.” Tambah Bella lagi.


“Aku bukan anak kecil!”


“Ck! Tidak sadar diri.”Eillen hanya memutar bola matanya jengah, mulai lagi pikirnya.


“Mom ...” rengeknya.


“Bella ... berhenti menganggunya.” Bella tertawa puas, apalagi saat melihat wajah cemberut Kyle yang sangat manis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Oke sampai sini dulu.......


...Jangan sungkan mengkritik bila ada kesalahan yah....


...《Ini Visual nya si Kyle kecil waktu di resto😙》...



...Terima kasih yang sudah mendukung Author...


...Jangan Lupa tinggalkan...


...LIKE...


...COMMENT...


...VOTE...


...RATE...

__ADS_1


...Gamsahabnida❤...


__ADS_2