Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 91 | Hukuman Bella


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti tepat di depan gedung raksasa. Seorang wanita cantik keluar dengan wajah penuh kemarahan. Tidak ada jejak keramahan yang biasa terpantri di wajahnya.


Bella memberikan kunci mobil yang dia kendarai sendiri tanpa Seinth kepada penjaga pintu loby. Siang nya setelah berita menyebar, Bella menitipkan Jourell pada keluarganya dan langsung pergi menuju perusahaan.


Alex sudah pergi bekerja sejak pagi, jadi tidak tahu jika sang istri sedang diliputi oleh kemarahan. Bahkan tidak tahu jika Bella pergi sendiri mengendarai mobil yang di berikan James padanya.


Para karyawan yang melihat seketika menghirup udara dingin. Mereka menunduk hormat dan memberi sapaan. Namun, tak ada satupun yang di respon.


Wanita itu hanya melewati mereka dengan wajah dingin yang membuat mereka semua merinding secara bersamaan. Sudah jelas jika wanita itu sedang dalam mode berbahaya dan jangan mengusiknya untuk saat ini.


'Apa yang terjadi?'


'Sepertinya Nona sangat marah.'


'Wajahnya sangat dingin. Mengerikan.'


Para karyawan mulai berbisik.


Bella langsung naik ke lantai atas dimana para antek-antek nya berada. Begitu sampai, wanita cantik itu hanya melihat Liza yang sedang bekerja dengan komputernya.


"Liza!" Liza tersentak kaget melihat kehadiran Nona nya yang tiba-tiba. Dia langsung berdiri dan memberi hormat. Tapi, Bella hanya mengacuhkannya dan masuk ke ruangan nya sendiri.


Liza langsung merasa hal buruk akan terjadi, apalagi kemarahan tercetak jelas di wajah sang nona. Namun sebelum benar-benar masuk, Bella berbicara dengan nada dingin.


"Panggil mereka semua kemari. Jika sedang rapat, bubarkan!"


"Ba- baik, Nona." Menunduk takut. Semengerikan nya Monica dan Grace, Bella memang lebih mengerikan lagi. Hanya saja sifat ramahnya terkadang memanipulasi semua itu.


Dia segera pergi setelah melihat Bella masuk. Berjalan cepat, dia membuka kasar setiap pintu ruangan yang digunakan rapat oleh antek yang lain.


Sandra, Ken, Vivi, Grace dan Monica hampir memaki. Tapi melihat wajah panik Liza dan mengatakan suasana hati Bella sedang buruk, mereka segera membubarkan rapat dan menyusul Bella.


Ken mengetuk pintu Bella, sepertinya mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"Masuk." Satu kata dingin terdengar memerintah.

__ADS_1


Mereka semua bisa melihat aura lain dari sang Nona, sepertinya kali ini Bella benar-benar marah. Bella tidak menoleh ataupun bergerak dari tempatnya. Dia hanya menatap ke depan dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya.



Mereka semua menunduk tanpa mengeluarkan suara. Kali ini mereka melihat diri lama Bella yang sudah lama tidak terlihat. Aura kepemimpinan dan karisma dari seorang Ratu yang menguasai kerajaan bisnis di dunia Internasional.


"Bodoh!" Satu kata lagi keluar dari mulut Bella yang masih setiap menatap ke depan. Satu kata yang cukup membuat mereka tersentak dan membeku secara bersamaan.


"Sudah lupa cara berpikir? Atau ingin ku ajarkan kembali?" datarnya dingin.


"Nona ..." Mereka tercekat.


"Vivi, sebelum bertemu denganku, apa yang selalu kau pikirkan di tempat itu?" Vivi terdiam, Bella mengungkit kejadian lama?


"Katakan!"


"Harga diri saya sudah rusak, Nona. Hidup tidak berarti lagi bagi saya. Mereka sudah menghancurkan saya, pada akhirnya saya menyerah dan ingin mati." Vivi mengepal, mengingat kembali kebencian yang lama terkubur.


"Dan hari ini, kau dan kalian semua menjadi salah satu dari mereka yang pernah menghancurkanmu." Vivi mendongak menatap Bella yang masih sama dengan posisi nya. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Nona, apa maksud anda? Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Sandra hati-hati.


"Kenapa? Seperti nya memang benar otak kalian mulai bermasalah lagi. Apa perkataanku kurang jelas!" sinisnya.


Bella memang berlidah tajam dan seharusnya mereka sudah terbiasa mendengar nya. Tapi kali ini, rasanya semua perkataan Bella menusuk bagian terdalam mereka.


"Kehidupan Roselea sekarang tidak ada bedanya dengan kehidupan masa lalu kalian, terutama Vivi. Bukan kah sekarang posisinya sama seperti mu saat ini?"


"Harga dirinya sudah rusak bahkan sebelum dia mendapat kesempatan. Padahal bisa saja kita meraih tangannya dan membantunya berjalan dengan benar, tapi kalian justru membuat nya semakin masuk ke lubang hitam."


"Menghancurkan hingga dia berpikir tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menyerah dan pasrah pada hidupnya. Bukan kah itu juga yang terjadi pada mu?"


"Benarkan, Vivi, Liza, Monica?" Bella menatap mereka satu persatu.


Mereka semua menunduk. Semua yang Bella katakan memang benar dan mereka akui itu. Mereka juga pernah merasa pasrah dan berharap untuk mati saja daripada menghadapi kenyataan bahwa kau hanya salah satu sampah dari ribuan sampah!

__ADS_1


Vivi berlutut sambil menunduk, begitupun yang lain. Para wanita sudah tidak tahan untuk tidak menangis karena kecewa pada diri sendiri yang sudah membuat kepercayaan Bella serasa terkhianati. Air mata mereka luluh begitu saja.


"Maafkan kami, Nona. Saya lah yang mengirim berita tersebut." Ken buka mulut. Meski tidak menangis tapi matanya ikut memerah.


"Kau yang mengirim, tapi semua hasil kalian bersama." Bella bergerak dari tempatnya dan berdiri di depan mereka yang berlutut.


Dia menatap satu persatu antek-antek nya yang selama ini selalu dia izinkan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan selama itu membuat mereka merasa dihargai namun tidak merugikan orang lain.


Dia hanya kecewa dengan sikap inpulsif mereka, hingga kejadian lama pun tak luput dari mulut dan lidah tajamnya. Dia pernah bilang jika dia lebih suka diam, kan? Karena apa? Karena mulut beracunnya lah yang sulit di kondisikan.


"Aku senang kalian peduli padaku dan membenci mereka yang mengganggu ku, tapi cara kalian salah. Bahkan seorang pembunuh sekalipun bisa diberi kesempatan walau harus mendekam di penjara." Suara nya melunak.


"Bangunlah." Masih tidak berdiri.


"Tuli?" sarkas nya. Sandra langsung berdiri diikuti yang lain.


"Kalian di maafkan, tapi terima hukuman kalian."


"Baik, Nona," ucap mereka bersama.


"Liza dan Sandra. Kalian akan memantau semua pembangunan ulang panti asuhan di Kota Moskow. Tidak diizinkan kembali sebelum dua bulan!"


"Grace dan Vivi. Pantau pembangunan klinik dan beri bantuan pada masyarakat kecil di South Carolina selama dua bulan penuh."


"Kalian bisa pergi mulai besok."


"Monica, Ken. Kalian tetap disini mengurus perusahaan tanpa bantuan mereka. Kerjakan sendiri seperti biasa," finalnya.


"Baik, Nona," ucap mereka bersama lagi.


Kemudian Bella berjalan keluar meninggalkan ruangan.


"Kau pulang lah, Grace. Bersiap dan habiskan waktu mu dengan suami mu sebelum pergi," ucap Ken


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2