
Di kediaman Victor, semua keluarga sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Tidak ada hal serius, hanya kumpul biasa dengan kesibukan masing-masing. Hans sesekali tersenyum, membalas pesan yang dikirim putri cantiknya yang sedang bermain dengan Jourell. Hubungan keduanya semakin baik setelah pertemuan mereka kala itu, tidak ada lagi rahasia yang memicu pertengkaran.
Hans juga sudah mengatakan segalanya pada Quela, termasuk berita kematian Hyurin yang ternyata adalah kesalahan dan juga tentang kebenaran Bella yang bukan anak mereka. Mendengar itu, Quela menerima semuanya. Dia tidak ingin lagi membenci meski itulah kebenarannya. Sudah cukup perbuatannya di masa lalu yang sudah menyakiti cucunya yang polos.
"Bagaimana perkembangan mu selama bekerja, Selo?"
Selo adalah satu-satunya lelaki di keluarga mereka, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk meneruskan bisnis keluarga yang sudah lama berdiri. Sebenernya masih terlalu muda untuknya memimpin sebuah perusahaan, Quela dan Hans hanya ingin remaja ini belajar dari sekarang.
"Aku sudah banyak mengerti, Grandma," jawab Selo.
Hans tersenyum, pria paruh baya itu menepuk-nepuk bahunya bangga. "Ada banyak metode baru yang kulihat darimu. Aku ingat tak pernah mengajarkannya."
Selo tersenyum canggung seraya memegang tengkuknya. "Sebenarnya ... kak Bells yang mengajariku," ungkapnya.
Selo berpikir, setelah menikah dan punya anak, kakak perempuannya itu akan sibuk dan mengabaikannya. Namun, wanita itu masih sempat meluangkan waktunya untuk menjadi guru bisnisnya.
Norin mendelik tidak suka. "Jangan mengada-ada, itu karena kau memang pintar. Tidak perlu membanggakan wanita itu terus."
"Pasti tuan Marcel yang memberitahunya, memangnya dia tahu apa." Sela mencibir.
Quela menghela nafas kasar, tidak mengerti dengan sifat kedua wanita ini. "Kenapa kalian begitu membencinya, tidak bisakah menerimanya saja. Lagipula dia sudah menikah, dia bahkan tidak pernah tinggal bersama kita sejak lama!"
"Mom, kak Bells tidak pernah mengganggumu. Kenap—"
"KARENA DIA PUTRI HYURIN!" teriaknya marah seraya berdiri dari duduknya. Semuanya terkejut.
"NORIN!" bentak Hans.
"Apa! Sejak awal kau hanya mencintai wanita itu. Kau tidak pernah mau melihatku, bahkan aku harus berbuat kotor agar kau mau meniduriku."
"Saat kita bercinta, kau juga menyebut namanya tanpa memikirkan perasaanku. Padahal kau sudah berada dibawah pengaruh obat perangsang. Begitu cintanya kau sampai membayangkan aku adalah dia!" teriak Norin frustasi.
Sela dan Selo bak disambar petir. Cukup jelas perkataan ibunya yang mengatakan jika tidak ada cinta ketika mereka dibuat, melainkan pengaruh obat. Quela tahu hal ini karena dialah yang membantu Norin kala itu.
"NORIN!"
__ADS_1
"Aku mencintaimu sejak lama, berharap kau bisa membuka hati jika aku hamil. Bahkan setelah mereka berdua lahir pun, kau masih sama. Hatiku semakin sakit ketika malam itu kau pulang membawa gadis kecil berusia lima tahun yang ternyata adalah anakmu dan wanita itu!"
Hans terdiam, menatap manik mata itu dengan bersalah.
"Kau yang membuatku menjadi seperti ini, Hans. Terkadang aku membenci diriku yang bersikap jahat padanya, aku tahu dia hanya gadis kecil yang tak tahu apapun. Namun, setiap mengingat siapa dia, kebencianku bertambah." Air matanya luruh begitu saja. Setelah sekian lama, dia bisa mengungkapkan isi hatinya.
Meski dia membenci, namun hatinya masih seorang ibu. Tidak pernah sekalipun dia bermain fisik selain melontarkan kata-kata sarkasme pada Bella. Ego menutup kebaikan hatinya dan menumpukkan kebencian terdalam bahkan berdampak pada putrinya, Sela. Dia ingin berdamai dan menerima, namun ego lagi-lagi menguasainya.
Selo ikut sakit melihat air mata ibunya. "Mom—"
"Aku tak pernah melarang Selo untuk berteman dengannya, bahkan jika Sela menyukainya, aku tidak peduli. Namun, aku tak pernah mengajarkan mereka untuk membenci Qiara seperti diriku, tapi aku tidak menyangka jika putriku akan mengikuti keburukan diriku."
Sela ikut menangis, dia juga tak mengerti kenapa dia membenci kakak tirinya. Ketika kecil, dia selalu melihat ibunya bersikap acuh dan berkata kasar pada Bella. Tanpa sadar, semakin dia dewasa, dia mengikuti sifat ibunya. Ikut bersikap buruk tanpa tahu alasannya.
Ini masalah ibu dan ayahnya, dia tak berhak ikut membenci Bella.
Dia ingat ketika berusia lima tahun, hubungannya dengan Bella sangat baik. Bella, Sela, dan Selo adalah keluarga yang bahagia. Tidak kuat menahan diri, Sela beranjak menaiki kamarnya dan mengurung diri. Selo ikut pergi, tak ingin mendengar lebih jauh.
Sela berbaring menelungkup, menyembunyikan wajahnya di bantal. Menangis seraya mengingat kembali masa kecilnya dengan sang kakak yang sudah lama terlupakan.
Bella menoleh kecil, lalu kembali menatap bukunya. "Aku sudah kenyang," datarnya halus. Hanya ada nenek dan ibu tirinya disana, ayahnya sedang pergi untuk urusan bisnis selama seminggu.
"Tapi Kakak belum makan apapun. Anak kecil tidak boleh sakit, nanti disuntik dokter," ucapnya polos, membuat Bella tersenyum tipis.
"Tunggu sebentar." Sela meletakkan bonekanya di ranjang Bella dan berlari keluar menuju dapur.
"Bibi Moli ... berikan aku makanan." Sela menengadahkan tangannya. Moli mengerjit.
"Kau belum kenyang, Sela?" Norin masuk karena melihat Sela berlari.
"Kak Qiqi tidak makan dengan kita tadi, jadi aku akan menemaninya makan," polosnya mengerjap.
Norin tidak menyela. "Berikan," ucapnya singkat pada Moli, lalu beranjak pergi.
"Biar Bibi yang membawanya keatas. Ayo," ajak Moli pada Sela.
__ADS_1
Moli hanya bisa tersenyum sedih melihat Bella yang masih berusia enam tahun itu harus menutup diri karena perlakuan nenek dan ibu tirinya yang tak menyukainya. Beruntungnya masih ada Sela dan Selo yang menjadi temannya sehingga tidak begitu tertekan dan kesepian.
"Makanlah dulu, Nona." Moli meletakkan nampannya di atas meja belajarnya.
"Thanks, Bibi. Seharusnya tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri."
"Sudah tugas saya, Nona harus selalu sehat dan tumbuh besar." Moli menyemangati. Bella tersenyum tipis. "Thanks," katanya lagi. Moli mengangguk dan pergi.
"Kakak ... ayo makan. Aku dan Lily (Boneka) akan menemanimu."
"Kau juga, biar kusuapi." Bella menepuk sofa sampingnya agar Sela duduk disana. Gadis kecil itu tersenyum lebar dan menurut. Meski sudah makan, dia sangat suka makan dari suapan Bella.
"Kenapa menyuapiku terus? Kakak baru makan satu kali." Mulutnya menggembung penuh makanan.
Bella terkekeh. "Agar kau cepat besar dan menjadi artis terkenal. Kau ingin itu, kan?" Sela mengangguk cepat.
"Kalau begitu makanlah yang banyak." Bella menyuapinya lagi.
"Kau juga, Selo. Kemari, jangan bersembunyi." Selo keluar dari balik pintu dan menyengir lucu. Kenapa kakaknya sangat jeli?
"Jika aku menjadi wanita hebat dan kaya, aku berjanji akan membuat kalian menjadi orang yang membanggakan." Satu kalimat yang merubah Bella menjadi wanita penuh tekat dan ambisi demi orang-orang yang dicintainya.
Seiring berjalannya waktu, semakin dewasa seseorang, semakin pola pikirnya berubah. Sela mengikuti prilaku ibunya, mengganggu Bella menjadi kesenangan tersendiri untuknya. Tanpa dia sadari, itu akan menyakiti dirinya sendiri karena merasa berkhianat.
"Maafkan aku, kak Qiqi." Sela terisak memegang dadanya yang sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Di episode ini, kita buka cerita pihak lain dulu ya, Say. Sekilas tentang masa kecil tiga saudara tak sedarah yang berubah karena faktor lingkungan dan pola pikir yang semakin dewasa....
...Juga beberapa sebab yang membuat orang berubah karena Ego yang mendominasi dan perjuangan sepihak. Sudah jelas ya kenapa Bella tidak pernah menyimpan dendam⬆...
...Thanks untuk para pembaca yang masih setia nangkring disini. Terima kasih juga Hadiah, Vote, Like, serta Komentar maupun Rate yang kalian berikan....
...❤❤❤...
__ADS_1