Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 59 | Wanita yang Familiar


__ADS_3

"Mrs, apa anda tidak ingin menghampirinya?" Seorang pria bertanya pada wanita didepannya.


"Lalu apa yang akan aku katakan?" jawabnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, matanya terus menatap seorang wanita yang sedang bercanda bersama wanita paruh baya dengan bayi dipelukannya.


Hatinya berdesir, ingin dia mendekat dan memeluk wanita yang sudah berstatus ibu di usia yang bahkan masih sangat muda itu. Tapi, sayangnya dia tidak memiliki keberanian untuk itu.


"Lihat bayinya, sangat manis."


"Namanya Jourell, Mrs," ucap pria itu.


"Jourell," gumamnya tersenyum tipis.


Matanya kini beralih pada wanita lain yang berdiri dibelakang kursi roda Bella. Betapa irinya dia melihat posisi wanita itu, seharusnya dia yang berdiri disana.


Beruntungnya kau, Hyurin.


-


-


Bella yang sudah bosan harus terus duduk dan berbaring di brankarnya seperti orang sakit, akhirnya membujuk sang ibu agar mau membawanya keluar.


Eillen tidak berdaya melihat tatapan memelas putrinya. Jika itu dia, mungkin juga akan merasa bosan. Pada akhirnya dia hanya mengangguk dan meminta perawat membawakan kursi roda.


"Kita ke taman, Eomma." Bella antusias. Dia mendekap Baby Jo yang masih terbangun dengan mata bulatnya.


Bella menghirup dalam udara segar disekitarnya. Cuaca sangat cerah dan sedikit berangin, namun tidak dingin melainkan sangat sejuk.


"Kau suka?" tanya Bella pada Jourell. Seakan paham apa yang dikatakan. Bayi itu tersenyum lebar, tangannya menepuk-nepuk pelan pipi ibunya yang mendekat. Bella terkekeh gemas.


"Eomma, berikan ponselku."


"Jangan ganggu Al dulu. Dia pasti sangat sibuk!" tegur Eillen yang melihat putrinya mulai berulah lagi.


"Ini namanya memberi kabar, Eomma! Kau pasti tidak pernah menghubungi Appa kan?" ledek Bella mendongak.


"Jangan asal. Tentu saja sering!" Eillen yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan putrinya itu tentu tidak mau kalah.


"Ya sudah, diam saja. Jangan menggangguku."


"Sopan sekali bicaramu ya!" Eillen menjewer telinga Bella hingga membuatnya meringis.


"Shh ... tidak sengaja, Eomma." Bella mengelus telinganya yang terasa panas.


"Sakit tahu."


"Mau lagi?" Eillen melotot. Bella menggeleng sambil tersenyum paksa.

__ADS_1


Galak sekali!


Bella mengabaikan ibunya dan mulai menekan nomor suaminya. Sebenarnya dia sedikit iri setelah melihat pasangan yang tidak jauh dari taman itu tengah bermesraan. Jadilah dia merindukan pria itu sekarang. Eillen hanya menggeleng, setelah itu memilih duduk di kursi taman dekat Bella.


"Bebe." Alex tersenyum diseberang sana.


"Kau belum selesai?"


Alex menghela nafas sembari menggeleng. "Maaf, Bebe. Aku masih ada satu rapat lagi yang tidak bisa ditinggal," katanya sedikit menyesal.


"Tunggu, Kau tidak di kamar?" Alex baru menyadari.


"Aku bersama, Eomma. Jangan khawatir."


"Oh ... Sayang, ayo sapa Daddy." Bella mengarahkan kameranya pada Jourell.


"Halo, Daddy. Baby Jo sedang jalan-jalan bersama Mommy dan Granny." Bella melambai-lambaikan tangan mungil itu


Alex terkekeh di ujung saja. Ah, ingin rasanya dia kabur dan melemparkan semua pekerjaannya ini pada Bean dan memeluk istri dan anaknya itu.


"Daddy, i miss you."


"Kau merindukan Daddy? Kau atau ibumu?" Bella langsung terkekeh, tentu saja dia.


"Baiklah, aku harus pergi. Aku akan datang saat makan siang."


"Hm, Oke." Bella sedikit tidak rela.


"Beri aku ciuman." Alex memajukan bibirnya. Bella tersenyum geli, jika karyawan Alex melihat ini, pasti akan syok!


"Muah, Sudah!" Bella benar-benar geli dalam hati.


Bean berusaha agar tidak tertawa melihat tingkah Bos nya yang menurutnya sangat jauh diluar nalar. Dia hampir dibuat syok, jika tidak ingat bahwa orang didepannya ini sudah jauh dari kata cool jika bersama sang istri.


Terkadang dia iri melihat kebersamaan sang Nyonya dan Tuannya ini. Ingin menikah tapi calon belum berhasil ditaklukkan. Terbesit beberapa kali dipikirkannya, sebenarnya terbuat dari apa wanita yang hingga sekarang menjabat sebagai Sekretaris itu. Dari luar terlihat mudah bergaul, tapi sebenarnya memiliki hati sekeras batu.


"Apa yang lucu!" ketus Alex ketika melihat Bean yang menahan tawanya.


"Tidak ada, Tuan muda."


"Ck, Kau iri kan?"


"Tidak, Tuan."


"Oh ya? Kau juga ingin?"


"Tidak, Tuan."

__ADS_1


Alex berdecak, apa-apaan pria ini! Tidak, Tuan, Tidak, Tuan.


"Berarti kau juga tidak menyukai Sekretaris itu."


"Tidak, Tuan." Alex tersenyum smirk.


Eh!


"Wah, aku tidak menyangka." Bean gelagapan.


Kau sengaja kan, Tuan!


-


-


Bella masih merasa betah berada di taman yang memanjakan indra penciuman dan pernafasannya hingga enggan untuk pergi. Jourell sudah dibawa Eillen lebih dulu untuk ditidurkan karena sudah mengantuk berat. Kebetulan Clarissa sudah datang dan menunggu di ruang rawatnya. Jadi Eillen bisa menyusul Bella lagi nanti.


Bella menoleh ketika merasa ada seseorang yang mendekatinya. Bella sedikit tertegun saat wanita itu tersenyum padanya. Wajahnya sangat familiar, dia bahkan tidak bisa menebak usia wanita ini. Mungkin belum mencapai empat puluh tahun.


But wait ... dia mirip seseorang tapi siapa?


Wanita itu terkekeh pelan saat melihat wajah bingung Bella, rasanya dia ingin mencubit pipi manis itu.


"Hai."


Bella tersadar. "Oh, hai juga," kaku nya.


Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku.


Bella akui jika wanita ini masih terlihat muda dan sangat cantik meskipun usia tidak lagi begitu muda.


"Sorry, anda siapa?" Bella merasa aneh dengan dirinya, ada semacam perasaan yang mengatakan tidak masalah dekat dengannya.


Wanita itu tertawa, Rupanya gadis ini tidak bisa berbasa-basi. Lebih suka berbicara langsung pada intinya.


Kau mewarisi sifatnya ternyata.


"Tapi sebelum itu, kau harus berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang pertemuan kita."


"Kenapa harus?"


"Setiap orang punya privasi, bukan?" Bella menatap diam, wanita ini mirip dengannya secara pemikiran.


"Oke."


Wanita itu tersenyum lagi dan mengulurkan tangannya. "Hyuran."

__ADS_1


"Kim Hyuran."


__ADS_2