Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 96 | Cerita Anna


__ADS_3

Bella merasa tubuhnya akan patah terutama di bagian pinggang. Pria itu bermain sedikit kasar dari biasanya. Dia juga merasa bagian bawahnya sedikit lecet dan perih.


Pria itu benar-benar!


Entah ada dimana suaminya sekarang. Saat dia terbangun, Alex sudah tidak ada di sebelahnya. Bella berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. Hal ini mengingatkan dia ketika mereka baru melakukannya pertama kali.


Ibu satu anak itu menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi. Ada banyak tanda cinta yang ditinggalkan Alex terutama bagian lehernya yang seperti tidak tertolong lagi.


Apa yang membuat pria itu begitu rakus!


Baru akan berendam, suara langkah kaki dari luar terdengar mendekat. Bella dengan sigap langsung berlari menuju pintu dan menguncinya.


Sudah bisa ditebak siapa pemilik suara itu. Sudah jelas pria arogan yang menjelma sebagai pria mesum.


"Bebee ... mengapa dikunci?"


See ....


Pegangan pintu terlihat bergerak-gerak, disusul suara ketukan yang memaksa. Bella menulikan pendengaran nya dan berendam dengan tenang.


Untuk saat ini dia tidak mau melayani suaminya dulu. Bukan tidak mau! Biarkan miliknya sembuh terlebih dahulu. Lagipula pria itu akan pergi sendiri nanti.


"Padahal aku sengaja menunggumu bangun." Alex mendramatis di depan pintu.


Memangnya siapa yang memintamu menunggu!


"Bebee ... adikku bangun."


Oh ya? Kalau begitu tidurkan saja. Dasar mesum!


"Bebe, aku punya kunci cadangan."


Kalau begitu langsung masuk saja! Untuk apa banyak bicara.


Satu detik ....


Tunggu! Apa dia bilang? Kunci cadangan ....

__ADS_1


Ceklek. Terlambat, pria itu sudah berdiri sambil menyeringai.


Oh god! Apa pinggang ku akan putus setelah ini.


...--- o0o ---...


Mansion Ramona, 07.00 pm


Sofia dan Elora bersandar malas bercampur lesu di sofa. Sesekali mata mereka menatap pintu lalu beralih ke arah kertas yang sudah tercetak nilai ujian.


Seperti janji Bella kala itu, keduanya benar-benar bekerja keras untuk mendapat tempat terbaik. Demi negara impian dan biaya gratis sepuasnya sudah cukup menjadi motivasi mereka.


Namun sayangnya, wanita berlidah tajam itu belum juga menampakkan dirinya dari semalam. Padahal sejak kemarin mereka ingin menunjukkan nya. Sebenarnya, bisa saja mereka menghubungi lewat ponsel. Tapi, bukankah tatap muka lebih meyakinkan?


"Al membawa Baby Jo dan Bella berlibur ke puncak." Santai Clarissa yang turun dari kamar.


"LAGII!"


Gagal lagi rencana mereka! Kemarin alasannya karena menginap di rumah ibunya. Sekarang? Gagal sudah! Keduanya semakin lesu.


"Sebenarnya apa yang kakak ipar kalian janjikan?" Alfred menyeruput kopinya.


Clarissa dan Alfred langsung menatap. "Really?" Mereka terkejut.


"Bukankah itu tempat pembuatan drama yang sempat membuat Alex gila? Kau ingin dia mengamuk lagi?"


"Mom, bukan kami yang meminta. Tapi, kak Bells sendiri yang mengatakannya. Kami hanya tak mau menolak rezeki!"


"Benar, Bibi. Meski aku tidak tahu kenapa kak Al mengamuk. Tapi menurutku, dia sendiri tak akan bisa menolak istri cantik nya." Elora berpendapat.


Kak Al, kan sudah jadi budak cinta!


"Jangan sekarang. Tunggu semua urusannya selesai. Jangan merepotkan kakak ipar kalian," Alfred memperingati.


Sofa dan Elora kembali menunduk lesu. Benar juga, masalah Bella untuk saat ini belum jelas selesai atau tidaknya. Tak apalah lambat, toh mereka yakin Bella tak akan ingkar.


"Okey." Lesu mereka.

__ADS_1


...--- o0o ---...


Paginya, tepatnya pukul lima pagi. Vivi, Liza, Sandra dan Grace sudah siap untuk berangkat ke tujuan masing-masing. Sebelumnya, mereka mengantar Liza dan Sandra ke bandara lebih dulu karena mereka akan ke Rusia, Moskow menggunakan pesawat pribadi milik Bella.


Berbeda tujuan dengan Vivi dan Grace yang akan ke South Carolina di temani Bean dan Seinth atas izin Bella dan Alex. Di perjalanan, Vivi melakukan panggilan video dengan Anna yang sedang makan di dapur milik keluarga Oliver.


Anna bercerita jika ibunya Kris sangat protektif padanya. Apalagi ketika Kris memberitahu jika dia adalah orang-orang Bella. Tanpa merasa curiga lagi, Ruth langsung menerimanya dengan tangan terbuka.


Ini masih sangat pagi. Tapi, dia berkata jika dia sudah lapar. mungkin karena pengaruh bayinya. Anna juga bilang jika Kris cukup baik dan menjaga hati untuknya meski ini hanya sebuah ketidaksengajaan. Kris akan mencoba mencintai Anna namun Anna juga harus begitu.


Seperti sekarang, pria itu selalu menemaninya kemanapun termasuk ke Hyuna Restaurant. Jika dulunya karena paksaan Ruth tapi sekarang atas inisiatif sendiri karena Kris mengaku bahwa dia sangat menantikan kelahiran anak pertama mereka.


Vivi ikut bahagia mendengarnya. Melihat Anna, Grace dan nona bos nya bahagia dengan sebuah keluarga, mungkin tidak buruk untuk mencoba juga. Berbeda dengan Grace yang berada di sebelah Vivi, dia juga ikut bahagia. Hanya saja, dia sedikit iri melihat Anna yang bisa merasakan gejala-gejala kehamilan padahal itu hanya kecelakaan.


Sedangkan dia? Grace sudah menikah kurang lebih dua tahun, tapi belum juga diberi kesempatan untuk memiliki bayi kecil.


"Kami akan memundurkan pernikahan kami sampai kalian selesai menjalani hukuman. Dengan begitu kalian bisa datang. Kami sudah mendiskusikan nya."


"Astaga, An. Untuk apa seperti itu."


"Kita keluarga. Jika kalian tidak datang. Siapa yang akan menjadi pihak mempelai wanita! Aku tak punya siapapun, you know!"


"Ck! Suka-suka dirimu lah," decak Grace.


"Vi, bagaimana dengan mu? Maksudku, apa pria itu sudah bergerak lagi?" tanya Anna.


Bean yang sedang mengemudi menajamkan telinganya. Pria siapa yang dia maksud? Apa ada pria lain yang mendekati Vivi.


Awas saja!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf untuk para reader semua.......


...Kemarin aku gk bisa Up dulu karena lagi sibuk di acara nikahan sepupu. Belum sempat buat draft....


...Dan juga, Wifi sedikit bermasalah disini, jadi Up mau tidak mau harus tertunda dulu karena tidak memiliki pake data....

__ADS_1


...Makasih untuk semua yang masih mau menunggu❤...


__ADS_2