Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 99 | Masih tidak mau kalah


__ADS_3

Mansion Ramona


Dua gadis berusia dua puluh tahun menatap serius layar besar di depan mereka. Satu wanita paruh baya juga ikut mengamati jalannya drama yang di begitu di gemari oleh para gadis muda ini.


Seorang pria disampingnya juga tidak bisa diam untuk tidak mengomentari apa yang di lihatnya. Membuat para spesies berbeda jenis dengannya itu berdecak kesal mendengar ocean dari pria itu.


"Ck! Pria itu tidak jantan sama sekali. Sekarang dia kehilangan wanitanya karena menikah dengan yang lain." Clarissa melirik malas pada suaminya yang menurutnya terlalu terbawa suasana.


Itu hanya drama ... untuk apa dibawa pusing!


"Daddyy! Kami ingin menonton, bukan mendengar komentar!" rengek Sofia.


"Drama seperti ini memang membawa pengaruh negatif." Alfred mengabaikan rengekan putrinya.


"Daddy ...." Sofia.


"Paman ...." Elora.


Elora tidak bisa tidak ikut kesal. Pamannya ini sangat cerewet!


"Ini kesempatan kami karena Kak Bells tidak disini." Sofia ingin menangis. Jika kakaknya sudah pulang, jangankan menonton, bercerita saja tidak boleh!


"Memangnya aku kenapa?"


Deg ....


Dua sosok sempurna sudah berdiri di depan sana dengan menggendong bayi bermata coklat yang sedang tertawa senang.


Sedetik kemudian Sofia sudah meraih remote tv dan mematikannya. Kemudian, tersenyum polos pada kakak laki-laki nya yang sudah menatap tajam.


"Apa yang kalian lihat. Kenapa dimatikan?" Posisi tv memang membelakangi Bella, jadi dia tidak tahu apa yang mereka lihat.


"Hanya acara tv biasa, Kak. Tidak seru." Sofia mengibaskan tangan.


"Apanya yang tidak seru! Kami menonton drama terbaru tentang cinta segitiga. Kak Bells pasti menyukainya," celetuk Elora. Membuat beberapa orang menatap nya kasihan karena asal bicara.


Sofia rasanya ingin mencekik sepupunya ini. Mulutnya memang tidak bisa dikondisikan.


"Wah, tega sekali kau, Sof. Aku sudah lama tidak menonton karena semua kaset milikmu hilang dan terhapus." Bella memang tidak tahu apapun tentang insiden pembantaian drama milik Sofia. Eh ... bukan tidak tahu, tapi tidak ingat!


Gadis muda itu hanya bilang jika miliknya hilang dan tidak tahu ada dimana. Padahal kenyataannya mereka semua sudah habis dilahap api. Rasanya ingin sekali dia mengadu pada kakak Ipar nya ini. Sayangnya dia lebih takut pada Alex. Mau tidak mau dia hanya bisa tutup mulut.


"Bukan seperti itu, Kak. Selera Elora ini memang buruk. Bagaimana bisa drama seperti itu dikatakan bagus," kilahnya.


"Apa-apaan kau! Kau yang memaksa ku menonton tadi." Elora tidak terima.


"Ya sudah, biar aku lihat sendiri." Bella mulai jengah.


"JANGAN!" Sofia tanpa sadar berteriak sambil memeluk remote tv dengan erat.

__ADS_1


Alfred dan Clarissa hanya bisa memijat pelipis mereka pusing. Para gadis ini tidak pandai berakting, pikir mereka.


"Kau kenapa?" Bella malah dibuat curiga.


"Bebe, kita baru sampai. Sebaiknya bersihkan diri dulu." Alex merengkuhnya. Jangan sampai wanita ini melihat drama yang bisa membuat nya jadi serba salah lagi.


"Aneh," gumam Bella. Kemudian pergi ke kamar mereka setelah berpamitan dengan mertuanya.


-


-


"Kak Bells ...." Sedikit berbisik. Sofia memanggil dari balik pintu. Hanya kepalanya saja yang mengintip untuk melihat keadaan di luar.


Kebetulan sekali Bella baru keluar dari kamar untuk mengambil sesuatu di dapur. Merasa ini kesempatan, Sofia menarik Bella masuk ke kamar mereka yang ternyata juga menjadi rencana Elora.


"Ada apa?" Sejak tadi tingkah mereka semakin aneh saja.


Sofia dan Elora membawa Bella duduk di pinggir ranjang. Lalu, sedikit berlari mengambil sesuatu di laci. Sofia dan Elora mendekat lagi sambil menyodorkan selembaran kertas.


"Kami berhasil mendapatkan nilai terbaik!"


Bella meraih dua kertas itu dan membacanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Good! Mereka benar-benar berusaha rupanya.


"Kakak masih ingat dengan janji mu, kan?" Elora sedikit memalingkan wajah.


"Minggu depan mungkin sudah bisa. Semoga pekerjaan ku sudah beres." Bella terlihat berpikir.


Elora dan Sofia sangat antusias. Akhirnya, negara impian mereka dan kursi VIP untuk konser mereka dapatkan tanpa mengeluarkan biaya! Bahkan semua kebutuhan lain juga akan ditanggung oleh sang kakak Ipar.


"Em ... tapi, Kak. Bagaimana dengan kak Al? Apa dia akan mengizinkan?" tanya Sofia.


"Memangnya kenapa? Aku juga ingin mengecek perusahaan cabang disana," santai nya.


"Benar juga. Kakak punya perusahan disana. Jadi, bisa menjadi alasan," Sofia senang. Tidak seperti Elora yang kebingungan.


"Perusahaan apa?"


"Kau tidak tau apapun sebaiknya diam saja," dengus Sofia.


"Aku tidak tahu karena tidak di beritahu!" pekik nya kesal.


"Sudah, tidak perlu ribut. Intinya kita baru akan berangkat minggu depan. Bawa Renatta juga." Bella beranjak keluar.


"Kak Bells memang terlalu santai. Dia begitu yakin dan memutuskan begitu saja tanpa banyak berpikir." Sejak tinggal di Mansion Ramona ini. Sofia sedikit banyak tahu tentang sifat Bella yang cenderung sangat santai dan tenang menghadapi suatu masalah.


Bahkan berita tentang dirinya hanya dianggap angin lalu saja olehnya. Sebenarnya, karakter sepupu iparnya sangat berbeda dengan wanita kebanyakan yang lebih feminim.


"Kak Bells memang begitu. Selama dia bisa menghadapinya, dia tak akan ambil pusing."

__ADS_1


Atau Kak Bells bilang Masa Bodoh! batinnya melanjutkan.


.


.


.


"Kenapa lama?" Alex baru keluar dari walk ini closet dengan setelan tidur.


"Oh. Aku pergi ke kamar Sofia dulu."


"Untuk apa?" Alex mulai waspada. Jangan bilang pasal drama lagi.


"Aku akan membawa mereka ke Korea. Aku harus mengecek beberapa pekerjaan," santai Bella mengambil Tablet nya di dalam laci.


"Untuk apa membawa mereka juga! Apa yang mereka katakan padamu," seru Alex. Bella sebenarnya cukup peka. Sikap aneh mereka pasti tidak jauh dari ancaman suaminya.


"Aku tahu mereka sudah ujian akhir. Jadi, tidak ada salahnya membawa mereka berlibur. Mereka tidak pernah di izinkan pergi tanpa kalian, bukan? So, biar aku yang menjaga mereka."


"Lalu aku?" Wajah Alex sudah masam.


"Tentu saja disini untuk bekerja."


"Aku ikut!" ketus nya. Jika sudah menyangkut pekerjaan, Bella pasti sulit dihubungi.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu. Aku akan disana selama seminggu."


"Kenapa lama sekali."


"Q'Bell Fashion akan mengeluarkan produk terbaru dan mengundang semua pemegang saham. Kami juga akan mengundang beberapa investor di Korea." Soal ini dia tidak berbohong. Q'Bell memang akan membuka acara untuk melaunching produk terbaru.


"Aku akan tetap ikut. Aku masih bisa mengerjakan pekerjaan ku disana." Alex tetap pada pendiriannya.


Istrinya ini cantik dan idaman semua pria! Membiarkan Bella pergi sendiri tanpa pasangan kemudian ada yang berani mendekatinya ketika disana. Tentu Alex tidak terima!


Bella hanya miliknya!


"Terserah."


"Lalu Baby Jo?"


"Tentu saja ikut! Aku tidak mau meninggalkannya," jawab Bella cepat.


"Ck! Tidak adil. Kau mau meninggalkanku tapi tidak mau meninggalkannya," dengusnya kesal.


Astaga! Masih tidak mau kalah dengan anak sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2