Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 147 | Semakin Gaduh


__ADS_3

Keributan di loby langsung terhenti ketika hawa dingin serasa menelusup masuk ke pori-pori mereka. Tubuh mereka meremang tanpa alasan, namun terjawab ketika siluet jangkung bertubuh tegap masuk dengan wibawanya.


Sorot matanya tajam bak elang, ditambah raut wajah datar dan dingin membuat semua orang bungkam, lalu menunduk takut. Lautan manusia itu membelah dengan sendirinya setiap langkah kaki pria itu melewati mereka bersama sang Asisten yang setia bersamanya.


Tuan Marcel Alexander Ramona, siapa yang tak kenal dirinya? Sosok paling berkuasa yang menguasai dunia bisnis dalam dunia internasional. Apa gerangan yang membawa sosok itu datang kemari?


"Aku benci keributan." Datar sekaligus dingin, Alex berdiri di tengah-tengah lautan manusia itu.


Tubuh mereka kembali bergetar hebat. Kepala menunduk, tidak berani menatap sosoknya yang nyalang, kecuali para wartawan yang diam-diam masih tidak ingin melewatkan apapun.


"Ma— maaf, Tuan. Kami— kami hanya menginginkan keadilan." Seseorang memberanikan diri.


"Keadilan? Dengan berbuat rusuh!" Suara lain menyahut dengan emosinya.


Grace dan Monica kini menjadi pusat perhatian berikutnya. Meski bukan nona Qi yang datang, Monica sebagai Direktur bisa menjadi tempat mereka menuntut.


"Direktur Mon!" Seakan lupa dengan ketakutan mereka tadi, keadaan kembali riuh.


"Direktur Mon, dimana nona Qi?"


"Dia harus bertanggung jawab!"


"Anda seharusnya terlihat, bukan?"


Mike datang dengan tergesa-gesa, mendekati Alex dan Bean yang berdiri santai. "Kau ingin terinjak!" ucap Mike konyol ditelinga mereka.


Jangankan terinjak, mendekat satu meter dari keberadaan Alex saja tidak ada yang berani. Mengabaikan Mike, Bean membisikkan sesuatu di telinga Alex. Pria itu seketika menatap Bean tajam.


"Nona bersama tuan James dan nyonya Hyuran, Tuan muda," jawabnya cepat, tak ingin mendapat amukan tuannya.


Alex memijat pelipisnya menahan kesal. Jika tidak hamil, dia takkan melarang istrinya itu untuk bertindak seperti biasa. Dia khawatir orang-orang ini akan melewati batas dan membahayakan Bella beserta kedua calon anaknya.


"Sudah sampai mana?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Tuan."


"Apa yang kalian bicarakan?" Mike seperti angin di sekitar mereka.


"Siapkan ruang untuk konferensi pers," perintah Alex. Mike tidak ingin pusing, jadi langsung pergi memberi tahu yang lain.


"Kita tunggu disana, Tuan. Para bodyguard akan melindunginya nona."


**


"Kami kehilangan aset-aset kami! Dan kalian ingin menyangkalnya!" teriak seorang pria paruh baya yang mewakili mereka semua.


"Untuk apa kami bertanggungjawab untuk sesuatu yang tidak kami lakukan!" bentak Grace menunjuk mereka.


"Jelas-jelas kami semua menjadi korbannya! Kami bahkan punya kartu namanya!" desak pria paruh baya yang sejak tadi tidak bisa diam.


"Hentikan!" teriak Monica, mereka menatapnya.


"QA Internasional Group sudah diakui sebagai perusahaan dengan aset terbesar di dunia. Perusahaan kami tidak hanya satu, tapi tersebar di berbagai negara!"


Semua terdiam. Itu memang fakta yang selama ini terjadi, bahkan Tuan Marcel sendiri menawarkan kerja sama lebih dulu kepada QA.


"Bisa saja ini hanya akal-akalan kalian!" Entah apa yang membuatnya begitu berani untuk terus menjawab.


"Jika kalian kaya, maka kembalikan milik kami!" Dan disetujui oleh yang lainnya.


"Atau nona kalian hanya sampah yang bersembunyi di balik orang-orang kaya!" celetuk wanita sosialita yang merupakan istri pengusaha itu.


Jika mereka tahu wanita yang mereka hina dan teriaki adalah istri dari pria paling disegani, mungkin akan menampar mulut mereka sendiri.


"BERANINYA KAU WANITA TUA!" Grace maju, tidak bisa menahan amarahnya lagi, tangannya hendak


menampar wanita itu agar rahangnya patah sekalian.

__ADS_1


"Grace!" Monica menahan. Dia masih orang tua yang harus dihormati.


"Kau ingin menamparku! Jangan harap."


Wanita itu juga kehilangan kesabaran, lantas ikut maju dan langsung menarik rambut panjang Grace kuat. Monica segera bergerak untuk melepas cengkeraman wanita paruh baya dari rambut Grace. Jadilah tempat itu semakin gaduh.


"Akhh ... sialan!" pekik Grace kesakitan. Jika wanita tua ini pria, sudah di pastikan akan dibuat habis oleh Grace.


Para karyawan QA yang ada disana melotot tidak percaya. Menarik rambut Grace sebenarnya mencari mati!


"Nona Grace sebenarnya menahan diri," jelas Bean pada Alex yang duduk santai menyaksikan semuanya di sisi lain.


"Dia pernah membunuh," datar Alex, Mike ikut melotot mendengarnya. Wanita itu sebenarnya tidak normal.


Keadaan semakin ricuh saat wanita paruh baya itu enggan melepaskan tangannya, bahkan tangan satunya ikut serta menjambak rambut milik Monica.


Terlihat lift di dekat Alex terbuka, menampakkan empat orang tersohor di QA yang sejak tadi diam. Sandra mengepal melihat dua rekannya hanya mampu menahan diri untuk tidak membalas.


"Biar ku habisi tua bangka itu!" Sandra bergerak, namun segara di tahan oleh Mike.


"Kau tidak akan membunuhnya, kan?" tanya Mike takut.


"Jika perlu!" ketusnya, menyentak tangan Mike.


Ken, Vivi dan Liza meringis sambil memegang rambut mereka, pasti sakit. Tapi ini pertunjukan bagus, jarang-jarang ada yang berani melawan keduanya dalam keadaan sadar.


Baru beberapa meter jarak Sandra dari mereka, suara merdu dan halus menghentikan kegaduhan semua orang. Di depan pintu masuk, berdiri siluet wanita yang sedang tersenyum manis.


"Sudah selesai?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Naskah baru ditulis hari ini, ternyata belum sampai ke titik Bella. Sabar yaa😆...

__ADS_1


...Udah mau dekat hari raya, banyak kesibukan di rumah. Cuma bisa nulis seadanya dulu ya🤗...


Komen dan Like yang banyakk❤️


__ADS_2