Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 68 | Elora Jade


__ADS_3

Bella memaksakan matanya yang berat agar terbuka, terdengar suara tangisan Jourell di kamarnya. Melihat jam, waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari.


Bella melihat Alex yang masih tertidur pulas sambil memeluknya tanpa terganggu suara disekitarnya. Dia mengangkat tangan Alex pelan dan turun dengan perlahan.


"Sttt ... Mommy disini. Ada apa sayang? Kau mau apa?" Jourell langsung berhenti menangis. Bella sedikit heran ketika Jourell menolak untuk menyusu, namun juga tidak pup.


"Kau rindu Mommy ya? Ingin jalan bersama Mom, tapi ini waktunya orang tidur, Boy." Bella terus berbicara seolah mengerti keinginan putra kecilnya sambil menggendongnya, mungkin ini yang dinamakan ikatan batin ibu dan anak.


"Baiklah, sebentar saja. Okay?" Mengecup pipinya gemas, lalu terkekeh pelan.


Bella membawa Jourell keluar kamar, sebelum keluar ia sempat mengecek Alex sebentar untuk memastikan suaminya tidak terganggu.


Keadaan Mansion cukup gelap karena semua orang masih tertidur, kecuali halaman depan yang pasti ada para Bodyguard yang berjaga bergantian.


Menuruni tangga, Bella membawa Jourell sambil mengajaknya bicara. Berjalan-jalan di sekitar Mansion, dapur, ruang keluarga, ruang olahraga hingga perpustakaan tak luput Bella masuki.


Jourell seolah menikmati kebersamaannya dengan ibunya hingga tak kunjung mengantuk atau berniat tertidur lagi. Meski lelah, Bella terus memaksa dirinya demi sang buah hati yang amat dicintainya.


"Kau belum mengantuk, hm? Kau pasti sangat kuat nanti, benar kan?"


"Tentu saja, Mom. Baby Jo akan jadi anak yang kuat dan hebat seperti daddy." Bella menjawab pertanyaan sendiri.


Tak lama, Bella merasakan seseorang mendekatinya, karena keadaan cukup gelap Bella tidak bisa melihat jelas siapa itu.


"Apa yang kau lakukan dini hari begini?" Suara yang cukup akrab terdengar.


"Elora?" Saat sosoknya sudah mendekati dan terlihat jelas.


"Ya, itu aku." jawabnya sedikit ketus, rupanya masih bertahan dengan sifat jual mahalnya.


"Ada apa? Kau butuh sesuatu? Kenapa bangun."


"Kenapa bertanya balik?" katanya tidak suka, tapi matanya sibuk memperhatikan Jourell yang terus ceria.


"Terserah kau, setelah selesai kembalilah tidur. Besok kau akan masuk kuliah, kan? Jangan sampai mengantuk." Bella kembali berjalan.


Elora berdehem canggung, dia tidak menyangka jika Bella cukup perhatian bahkan saat dia menunjukkan permusuhan. Tadinya dia ingin mengambil air minum di dapur karena haus, tapi tidak sengaja melihat Bella.

__ADS_1


"Apa dia rewel?" Elora malah mengikuti Bella.


"Tidak, dia hanya ingin jalan-jalan."


"Kau tidak lelah?" Bella hanya tersenyum.


"Menurutmu, apakan ibumu lelah mengurusmu?"


"Tentu saja tidak, dia sangat menyayangiku dan akan melakukan apapun untukku."


"Maka, kau sudah tau jawabannya." Elora lansung terdiam, dia melirik Bella di ujung matanya. Pantas saja Sofia sampai membelanya, wanita ini sangat berbeda.


Apa dugaan ku salah?


"Biarkan aku yang menggendongnya," pintanya melihat kearah lain. Dia tahu Bella lelah, jadi ingin membantu meski harga dirinya masih tinggi.


"Bukankah aku memintamu kembali agar besok bisa kuliah." Bella mengingatkan lagi. Dia tau gadis ini baik, hanya saja ya ... mungkin kata orang sok jual mahal.


"Mataku kuat kok, hal seperti ini saja kecil!"


"Really?" Bella tidak percaya.


Bella terkekeh. "See ... kau bisa menggendong Baby Jo sepuasnya besok. Sekarang tidurlah, jangan sampai kau kelelahan," ucap Bella lembut. Elora tertegun saat Bella mengusap kepalanya penuh perhatian.


Ia seperti merasa punya kakak yang amat menyayanginya, tiba-tiba saja dia merasa iri pada Sofia. Sepertinya dugaan nya salah dengan mengira Bella telah menggoda Alex, nyatanya mungkin Alex lah yang mengejarnya.


"Oke," cicitnya, ia berbalik pergi sambil sesekali menoleh melihat Bella yang sudah berjalan lagi.


"Kak Bells," tegurnya tiba-tiba, kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya.


"Yes?"


"Sebaiknya kau juga istirahat, jangan hanya mengkhawatirkan orang lain. Pikirkan juga dirimu sendiri." Elora langsung berlari setelah mengatakan itu.


Bella tersenyum melihat tingkah malu-malunya "Thanks," gumam nya sangat pelan. Sepertinya dia sudah mulai menerima keberadaannya.


Bella kembali ke kamar ketika waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi. Jourell juga baru tertidur lagi, itu sebabnya dia langsung kembali.

__ADS_1


Ia langsung membaringkan tubuhnya di samping Alex setelah meletakkan Jourell dikamar nya. Ia hanya bisa tidur sebentar karena besok harus mengurus Alex lagi sebelum bekerja. Seperti biasa, suaminya itu hanya mau dilayani olehnya.


Bella memeluk Alex yang tertidur miring menghadapnya. Alex yang merasa nyaman dalam tidurnya tanpa sadar membalas pelukan istrinya. Mungkin insting karena sudah terbiasa.


-


-


Tepat pukul setelah enam pagi, Alex membuka matanya. Namun, tidak ada Bella disampingnya.


"Sudah bangun?" Suara lembut istrinya menjawab kebingungan Alex. Bella mendekat dengan membawa setelan kerja Alex.


Alex tersenyum dan bangkit sambil memeluk perut Bella. "Tubuhmu sangat cepat kembali." Ia merasakannya saat memeluk Bella. Tidak segemuk hamil dulu.


"Tentu saja, isinya kan sudah dikeluarkan." Senyum Bella geli.


"Kalo begitu ayo kita isi lagi," celetuk Alex. Bella langsung melotot.


"Kau pikir hamil itu mudah! Satu saja sudah membuat bayi besar cemburu," cibir Bella.


"Itu sebabnya kita buatkan dia teman agar tak mengganggu."


"Ya tuhan, pergilah mandi dan bekerja!" Bella menarik tangan Alex agar berdiri.


"Tapi aku masih ingin memelukmu, Bebe," rengek Alex.


"Kau bisa melakukannya nanti."


"Al!" Bella memasang wajah garang saat Alex tidak berpindah sedikitpun.


"Morning kiss." Singkatnya datar.


Cup


Tidak ingin banyak drama, Bella langsung mengecupnya singkat. "Sudah, pergilah." Alex tersenyum. Mencuri satu ciuman lagi, ia langsung berlari kekamar mandi.


Bella menggeleng heran, dasar bayi besar!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2