Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 119 | Dengarkan Baik-baik


__ADS_3

Mansion Oliver, 05.00 pm


"Kau sudah memberitahu Soo-Jin masalah wanita itu." Anna menyuap makanannya.


Monica duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. "Tidak perlu lagi."


Anna mengerjit. "Why?"


"Nona sudah bertemu dengannya. Sempat heboh saat itu, tapi nona menutup mulut semua orang." Monica menyeruput jus nya kesal.


"Nona bertindak lebih awal? Sepertinya nona tahu apa yang akan kita lakukan." Anna menghela nafas kasar, tidak bisa bertindak lagi.


Memang benar. Para antek - anteknya sudah bekerja sangat lama bersamanya. Bella tahu kebiasaan mereka yang bisa saja keluar batas. Seandainya dia tidak bertindak lebih awal ketika di Mall, sudah jelas apa yang akan di lakukan para anteknya.


Tindakan Bella tentu bukan hanya untuk menutup mulut semua orang. Secara tidak langsung, dia memberitahu pada anteknya 'Berhenti sampai disini. Aku sudah mengurusnya, jadi jangan membuatku marah' mengingatkan mereka jangan ada Roselea yang kedua.


"Kalau begitu jangan lakukan apapun." Anna hanya bisa pasrah.


"Nona sudah memperingati, aku takkan berani," jawab Monica.


"Apa kau tetap akan bekerja setelah menikah?" alihnya.


"Tentu saja! Aku akan tetap disamping nona hingga mati."


Bukankah sudah jelas? Apa yang ditanyakan Direktur ini.


"Kau seharusnya tahu apa yang akan terjadi. Kondisimu tidak mendukung, aku yakin kau akan segera diberhentikan. Ingat ... kau sedang hamil, apalagi akan menjadi istri orang. Nona tak akan membiarkanmu kesulitan," jelas Monica.


"Tidak akan," singkatnya ragu.


"Grace akan kembali besok pagi bersama Seinth. Dia tak diizinkan bekerja lagi karena hamil. Grace berusaha membujuknya tapi nona seakan menulikan telinganya." ungkap Monica lagi.


Anna terdiam. Bagi mereka, hal seperti ini sama seperti meninggalkan nona mereka. Tidak lagi bekerja, maka sama saja melepas tanggung jawab yang selama ini mereka pegang. Mungkin bagi kalian, pemikiran ini sedikit berlebihan. Namun, bagi mereka tidak ada yang berlebihan selama itu menyangkut sang nona.


Ini yang mereka takutkan. Sebagai wanita, mereka akan menikah dan memiliki anak. Tidak selamanya mereka bisa terus bersama Bella. Tapi untuk mencegah hal itu, mereka bertekad untuk tidak akan menikah dan selalu berdiri di samping Bella.


Namun, sekuat apapun kita menentang, Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan jodohnya.


"Itu artinya, dia masih peduli pada kalian." Keduanya langsung menoleh keasal suara.


"Mom."

__ADS_1


"Mrs. Oliver."


Ruth tersenyum seraya duduk di antara keduanya, dia meletakkan makanan yang baru saja dia ambil dari dapur. Monica yang tetap ditempatkan di perusahaan bersama Ken akhirnya tidak memiliki teman sejenis untuk diajak bicara. Ken tidak akan cocok menjadi tempat bicaranya. Jadi, dia sering menemui Anna. Entah itu di kediaman Oliver ataupun Restaurant.


Ruth sudah terbiasa dengan kedatangan Direktur cantik ini, pasti tidak jauh dari sang nona atau urusan perusahaan.


"Tidak bekerja lagi, bukan berarti kalian meninggalkan Bella. Tetap setia meski tidak bersamanya, itu sudah cukup membuktikan kesetiaan dan tanggung jawab kalian." Ruth hanya bisa memberi nasehat. Orang-orang ini adalah wanita dewasa yang pastinya punya pemikiran sendiri dan tidak suka diatur.


"Kau masih bekerja lagi setelah melahirkan, bukan? Jadi tidak perlu khawatir." Diusapnya punggung kedua wanita itu.


Monica tersenyum, memiliki mertua sepertinya tidak buruk. "Thanks, Mrs. Anda ibu yang baik," ucapnya tulus.


"Panggil aku bibi ... dan carilah pacar agar tidak terlalu kaku," canda Ruth.


Anna terkekeh. "Bertatap dengannya saja, orang sudah takut. Dia harus belajar mengubah ekspresinya dulu, Mom."


Monica langsung menatapnya tajam, membuat kedua wanita di dekatnya tertawa. Memang benar, Monica harus belajar mengubah ekspresi dulu.


...--- o0o ---...


Pagi itu ... untuk yang ke sekian kalinya, Mike berjalan lesu menuju ruang kerjanya. Dia merindukan wanita minim ekspresi miliknya yang sudah lama tidak dia lihat. Jika bisa, ingin dia menyusul ke tempat wanita itu berada sekarang.


Semua orang di perusahaan sempat bertanya - tanya kemana para antek - antek CEO yang lain. Beberapa minggu terakhir, hanya ada Monica dan Ken yang mengurus semua hal. Sejak Bella datang dengan wajah marahnya dan pada hari itu pula anteknya menghilang.


Ya. Hukuman dua bulan mereka sudah dibatalkan. Berkat kabar kehamilan Grace yang mendadak, Bella meminta mereka semua untuk kembali jika keadaan Grace membaik dan aman untuk pulang.


"Selamat pagi, Asisten Sandra ..." sapa Mike tersenyum. Pria itu sudah berdiri di depan lift yang akan dimasuki Sandra.


"Pagi," jawabnya datar.


Melihat wanita itu sudah masuk kedalam, Mike langsung mengikuti. Ini lift khusus, jadi tidak ada karyawan lain selain mereka berdua. Sandra tidak mengubrik melihat Mike ikut masuk. Dia sudah terbiasa dengan tingkah pria ini yang menurutnya sedikit aneh.


"Hanya sendiri?" Mike mencari topik.


Sandra tidak langsung menjawab, dia diam beberapa saat. "Vivi dan Liza akan menyusul."


"Begitu." Mike menggaruk kepalanya tidak gatal. Kenapa sekarang dia menjadi canggung. Dia melirik Sandra yang tampak biasa saja berdiri disana.


Mike menghela nafas. "San ..." ucapnya lagi. Sandra mengkerut mendengar Mike memanggilnya tanpa embel - embel asisten yang biasa dia dengar.


"Ak—"

__ADS_1


Ting


Sial!


"Silahkan, Tuan Mike." Sandra memberi jalan.


Mike belum bergerak dari tempatnya meski lift sudah terbuka di lantai ruangannya berada. Dia menatap Sandra dengan ekspresi tidak terbaca. Wanita itu tidak pernah menatapnya ketika berbicara, wajahnya selalu datar kecuali bersama Bella. Tidak adil!


Pria itu menjadi iri pada pada sahabat - sahabatnya yang sudah bersama salah satu dari mereka, bahkan akan menikah sebentar lagi. Bahkan Bean saja bisa! Sebenarnya siapa yang sulit disini? Wanita itu atau dirinya? Tapi, dia sudah berusaha selama dua tahun lebih, namun tetap seperti ini. Apa wanitanya? Sepertinya juga tidak, karena Vivi sendiri tidak berbeda jauh. Lalu siapa!


"Anda tidak ingin keluar, Tuan?" Sandra menahan kesal meski wajahnya masih datar.


"Aku lelah ..." ucap Mike tiba - tiba. Matanya masih menatap Sandra. Wanita itu sedikit melirik, tapi kembali berpaling.


"Kalau begitu tidak perlu bekerja."


"Aku lelah karena kau terus berpura - pura."


Ya. Mike tahu jika sebenarnya Sandra menyadari perasaannya, namun wanita itu selalu pandai menyembunyikan wajahnya. Meskipun wanita itu tidak tahu, masih ada rekan - rekannya yang pasti sudah menyadari tingkah lakunya. Mustahil jika wanita itu tidak bergosip meski tidak sengaja, kan?


Sandra menegang, dia tidak menyangka jika Mike bisa membaca ekspresinya yang selalu datar. Apa cinta segila itu hingga hal kecil saja bisa diketahui?


Ketika melihat pintu lift akan tertutup kembali, dia refleks ingin menahan. Namun, tangannya sudah ditarik hingga dirinya terpojok.


Mike menahan tangan wanita itu dibelakang punggungnya agar tidak melawan. Apalagi melihat wajah Sandra sudah memerah karena amarah. Terlambat sedikit saja, mungkin bogeman dan memar agar menghiasi wajah tampannya.


"Aku akan mengatakannya sekarang ... setelah ini, jangan harap bisa berpura - pura dan menghindar ..." desis Mike tajam di telinganya.


Sandra tidak mampu bergerak. Jujur, baru kali ini dia melihat sifat Mike yang seperti ini. Dimana sifat humoris pria itu? Sekarang hanya wajah dingin dengan sifat pemaksa yang agresif.


"Dengarkan ini baik - baik ...."


"Aku mencintaimu, Rosandra Albert."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf ya aku gk ada Update kemarin dan kemarin nya lagi. Dari hari senin, aku udah Ujian Sekolah jadi harus belajar hehe😋...


...Sampai sini dulu ya. Pengen segarin otak dulu😆...


...Episode ini sudah di up dari Rabu sore, tapi gk tau kenapa review nya lama bett. Kayanya emang dari sistem. Tau ah, yang penting UP!...

__ADS_1


...Tengkyu Bebe❤...


__ADS_2