
“Ada apa denganmu?” Ken yang baru keluar dari ruangannya merasa heran melihat Vivi datang dengan wajah ditekuk.
“Kau habis menemui nona, bukan?” Sandra ikut bertanya.
Vivi tidak menjawab satupun pertanyaan mereka, justru malah membanting tas nya diatas meja. Ken mengelus dadanya terkejut.
“Asisten Sialan!” umpatnya kesal sambil menendang ujung meja kerjanya hingga bersuara keras.
“Ada apa?” Monica dan Liza keluar dari ruangannya ketika mendengar kegaduhan.
“Tidak tahu. Dia tiba-tiba seperti itu.” Ken ikut kesal.
“Wajahnya sama persis seperti habis bertengkar,” celetuk Liza.
Vivi melirik mereka semua dari tempat duduknya, memutar bola matanya malas. Teringat kejadian tadi dimana Bean tiba-tiba menciumnya dan bodohnya semua orang melihat.
Bahkan nona bosnya tidak bisa berhenti melongo dengan mulut terbuka. Padahal Bella tidak pernah mengeluarkan ekspresi seperti itu karena memang orangnya terkesan cuek dan masa bodoh. Tapi sekarang ....
Akhh ... betapa malunya dia. Rusak sudah citranya di depan Bella dan keluarga Ramona! Belum lagi perkataan Bella tergiang–giang di kepalanya.
Kalian sangat cocok! Sayang ... aku ingin mereka bersama sebagai kekasih. Aku akan menjodohkan mereka.
Alex bahkan hanya tersenyum sambil mengelus rambut istrinya dan langsung menatap keduanya dengan tatapan mematikan, seakan mengatakan ‘Lakukan! Dan jadilah kekasih!’ lewat tatapan itu.
Begitulah kata – kata Bella yang sudah seperti titah sang raja bagi Alex. Mau tidak mau mereka harus melakukannya demi sang ibu hamil yang kata-katanya tidak bisa dibantah atau akan menggangu ketentraman hati.
“Akh ... aku ingin membunuhnya!” Vivi menarik rambutnya kesal. Mereka semua terkejut dan langsung mendekat kearah Vivi.
Apa dia mulai gila? batin Ken.
“Hei ... kau kenapa?” Sandra melepas cengkraman tangan Vivi dari rambutnya.
“Ceritakan pada kami ada apa, Vi. Aku belum ingin kau menjadi gila.” Mereka semua ingin menangis mendengarnya. Apa Monica dilahirkan tanpa ada manis – manis nya?
“Kami dijodohkan,” ucapnya akhirnya.
__ADS_1
“Hah? Siapa?”
“Nona menjodohkanku dengan Asisten Bean!” sentak Vivi semakin kesal.
Mereka langsung terdiam dan saling tatap. Tak lama mereka semua bubar dan kembali ketempat masing – masing. Vivi mengerjit. “Kenapa kalian pergi?”
“Sudahlah, Vi. Jika nona Qi bilang begitu, maka lakukan saja,” ucap Liza santai sambil kembali fokus pada komputernya.
Vivi langsung cemberut. Apa – apaan! Dia juga tahu itu. Setidaknya temani dia berkeluh kesah sebentar.
.
.
Berbeda dengan Vivi yang tidak terima, Bean justru memancarkan senyum bahagia. Dia bahkan hampir memeluk nona majikannya jika saja Alex tidak menendangnya dengan kejam.
“Kau ingin mati!” ketus Alex.
“Hehe ... maaf, Tuan. Saya terlalu senang.”
“Ini kesempatanmu, Bean. Vivi bukan orang yang suka dipaksa, dia sangat mudah marah jika ada yang tidak dia suka. Dan sekarang dia tidak menyukaimu, jadi berjuanglah.” Bean menyimak dengan serius perkataan Bella yang dianggap seperti wejangan untuknya.
“Baik, Nona! Saya akan bersungguh – sungguh dan tidak akan mengecewakan Nona.” Bean meletakkan telapak tangannya di samping dada.
“Fighting!” Bella mengangkat kepalan tangannya memberi semangat.
“Fighting!”
Alex hanya diam memperhatikan sambil tersenyum melihat tingkah Bella yang menjelma sebagai mak comblang. Sebenarnya dia masih mengantuk dan ingin tidur lagi, tapi jika tidak ada Bella, hanya akan sia – sia.
“Oh god!” Bella menepuk keningnya.
“Ada apa, Bebe?”
“Hei ... Kau harus kekantor, kan? Astaga, jam berapa ini.” Alex melemas seketika, dia benar-benar tidak ingin pergi hari ini.
__ADS_1
“Benar, Tuan. Saya akan menunggu dan memanaskan mobil,” ucap Bean melihat jam tangannya. Alex langsung menatapnya garang. Apa orang yang menjadi kepercayaannya ini tidak bisa bekerja sama sedikit. Bean menciut dan tidak jadi berdiri.
“Bebe ... biarkan aku libur hari ini.” Memeluk wanita itu dan memasang wajah memelas.
“Tapi, Tuan. Hari ini ada rapat dengan in—” Bean tanpa sadar menyela lagi dan bukan tatapan garang lagi yang dia terima, melainkan tatapan membunuh yang bisa mengancam kesejahteraan dirinya.
Bella menyadari itu. “ Pergilah! Kau tidak dengar ada rapat!” Bukannya segera beranjak, Alex semakin merapat dan memeluk erat pada istrinya. Menggeleng–gelengkan kepalanya di bahu Bella.
“Tidak masalah, Nona. Ini bukan rapat penting, saya masih bisa menghandle nya sendiri. Permisi, Tuan, Nona.” Bean langsung pergi sebelum Bella menjawab lagi.
“Sudah, biarkan saja dia, Bebe.” Belle mendelik sebal.
“Kau ini ... pergi mandi sana!” Menarik tangan suaminya agar bangkit.
“Aku ingin mandi bersama, Baby.” Memeluk dan mencium perut buncit Bella yang berdiri didepannya. Bella memutar bola matanya jengah.
Alasan!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...LIKE NYA GUYS, JANGAN LUPA YA😉...
...Aku mau ngasih Visual nya Babang Alex dan Bella. Udah lama kagak muncul dia😂...
......................
...《Alex》...
......................
...《Bella》...
__ADS_1