
08.00 am
Disebuah ruangan serba putih, hanya tersisa dua orang wanita berbeda generasi dan satu bayi yang sedang tertidur di gendongan sang nenek.
Pagi pagi sekali, Bean memberitahu jika ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan di perusahaan. Jadilah Alex terpaksa pergi setelah dipaksa sang istri. Clarissa dan Alfred juga pergi untuk mengurus keperluan lain dan akan kembali siang nanti. Step juga harus pergi kekantor. Begitupun dengan Sam dan Kyle yang harus kesekolah.
Tinggallah Eillen yang menemani sang putri sendirian. Beberapa hari lagi Bella sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya memang sudah sehat. Jadi tidak perlu ada yang dicemaskan.
"Aku sangat suka melihat matanya, sama persis seperti milikmu." Eillen tersenyum.
"Kau tahu, aku sangat heran saat kau lahir tapi matamu tidak mirip denganku ataupun dia" Eillen teringat masa dia dulu. Tanda sadar, wanita paruh baya itu melupakan sesuatu yang penting.
"Bagaimana jika aku memang bukan anak, Eomma?" Bella memang merasa aneh sejak awal. Ibunya memiliki mata hitam sedangkan ayahnya, Hans bermata abu abu.
Eillen terkesiap, dia merutuki mulutnya yang berbicara sembarangan.
"Kau ini bicara apa. Tentu saja kau putriku. Lihat saja, kita sangat mirip, kan?" Bella sekilas bisa melihat khawatiran di wajah ibunya. Tapi dengan cepat kembali normal.
"Aku hanya bercanda. Kenapa Eomma sangat serius."
"Aku tidak suka kau bicara seperti itu. Intinya kau itu putriku, tidak peduli mirip atau tidak," ucap Eillen tegas. Dalam hati menyesal karena membahas ini.
"Whatever," jengah Bella.
Bella tahu ada yang disembunyikan oleh ibunya ini, sangat jelas dimatanya. Tapi sudahlah, ibunya ini memang punya banyak rahasia. Sedangkan Eillen berusaha tenang meski ada guratan ketakutan di wajahnya. Entah kenapa, kata kata itu keluar begitu saja seakan terhipnotis oleh mata Baby Jo.
"Eomma keluar sebentar membeli sesuatu, jangan banyak bergerak. Aku akan membawa Baby Jo juga."
"Apa? Kenapa harus membawanya juga. Aku masih bisa menjaganya, Eomma," rajuk Bella.
"Berdiri saja kesulitan. Ingin menjaga Baby Jo? Diamlah, jangan terlalu keras kepala." Bella cemberut.
"Jangan lama-lama!"
"Hm."
Bella meraih ponselnya setelah Eillen keluar. Sudah jarang dia memeriksa ponselnya hingga tidak begitu tahu perkembangan luar. Dia penasaran, apakah berita semalam masih sangat hangat atau sudah mulai menghilang.
__ADS_1
Menghilang? Hell ... justru sekarang semakin meluas.
#MarcelioAlexander
#IstriTuanMarcel
#KakiKananQA
#KeluargaKonglomerat
Bella berdecak melihat perkembangan berita ini. Hal seperti ini saja sudah heboh, lalu bagaimana jika dia muncul sebagai CEO? See ... inilah mengapa dia tidak suka dunia mengetahuinya. Hal kecil saja sudah bisa menarik perhatian.
Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar. Bella mengerjit, siapa yang datang sampai harus mengetuk pintu? "Masuk."
"Kakak." Bella tersenyum melihat siapa yang datang.
"Selo." Selo langsung memeluk Bella hati hati.
"Dad, Grandma." Dibelakang Selo juga ada ayah dan neneknya.
Dan ... err ... bibirnya bahkan sulit mengucap dua nama lainnya. Ya, siapa lagi jika bukan Norin dan Sela. Mereka tidak datang karena inisiatif sendiri, kan?
"Thanks," balas Bella tersenyum.
"Lalu dimana keponakan ku?" Selo menyusuri sekeliling, hanya ada Bella sendiri.
"Dia akan datang nanti. Sebaiknya kalian duduk." Tidak ingin banyak bicara, apalagi melihat tatapan tidak suka dari arah belakang mereka.
Bella mengetik sesuatu pada ibunya dan meletakkan kembali setelahnya di atas nakas samping brankarnya.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Bella setelah mereka duduk. Kecuali Selo yang duduk disampingnya.
"Kami baik, thanks." jawab Norin sedikit ketus. Jika bukan paksaan Quela atau Hans mana mau dia datang!
"Sungguh? Sepertinya suasana hati ibu tiri kurang baik." Bella berbicara santai, sengaja menambah sedikit bubuk racun dalam mulutnya.
Norin merasa hatinya semakin panas setelah kata ibu tiri itu keluar dari mulut wanita muda ini. Selo, Quela dan Hans tidak menyela ataupun menegur, lagipula lidahnya memang tajam sejak awal.
__ADS_1
"Kakak, apa yang kau katakan?" Sela tersenyum palsu namun tangannya terkepal kuat disampingnya.
"What? memang benarkan?" acuh Bella.
"Sebaiknya kalian diam!" Quela memperingati Ibu dan anak itu. Percuma jika ingin berdebat dengan Bella, malah akan mempermalukan mereka sendiri.
Bella hanya acuh tapi dalam hati dia tertawa melihat wajah kesal keduanya. Sepertinya dua orang ini tidak akan berani berbuat lebih setelah mendapat sedikit pelajaran dari Quela. Kemudian, mereka semua menoleh ketika wanita cantik namun tidak muda lagi masuk dengan Baby Jo digendongannya. Eillen sempat terkejut tapi berusaha normal kembali.
"Mrs. Englert." Mereka langsung berdiri dan menyapa. Lagi-lagi Quela dan Hans merasa tidak asing dengannya.
"Tidak perlu seformal itu. Panggil saja Eillen." Tersenyum tipis.
"Aku baru sadar dia cukup berat juga, tanganku rasanya kebas," keluh Eillen.
"Ck! Eomma saja yang sudah tua!" Eillen melotot.
Anak ini!
Hans merasakan dadanya berdegub kencang setelah mendengar panggilan tidak asing keluar dari mulut putri pertamanya itu. Hans menatap Eillen dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Quela juga menyadari itu.
"Apa aku boleh menggendongnya?" pinta Selo.
Eillen tersenyum. "Tentu."
Selo mendekat ke keluarganya sambil menggendong Baby Jo. "Lihat, dia sangat lucu."
"Benar. Siapa namanya."
"Jourell Wcyliff Ramona."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai hai gaes😆...
...Bagi Hadiah nya dong😋...
...LIKE NYA JUGA YA GAESSS...
__ADS_1
...Makaseeh ... Lope yu All♡...