
Kris dan Ana memperhatikan Bella yang sedang memakan makanan yang dihidangkan Kris. Wajahnya sedikit pucat dan makannya tidak senafsu biasanya.
"Nona, anda baik-baik saja?" Anna tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Ya, kau tak lihat."
"Wajahmu pucat, Bells. Apa perlu ku panggil dokter?" Anna mengangguk setuju.
"Aku tidak memakai pelembab bibir tadi, mungkin itu sebabnya," tolak Bella, ia memang merasa aneh pada tubuhnya, kepalanya sedikit pusing. Tapi tidak begitu memikirkannya karena hal ini sering ia alami dulu, nantinya akan hilang sendiri.
"Kau yakin?" Bella mengangguk.
"Dimana baby Jo?"
"Bersama Mommy Clarissa."
Mereka bertiga melanjutkan dengan mengobrol, sekalian membicarakan masalah Kris dan Anna lebih serius. Kris akan menikahi Ana setelah berdiskusi dengan keluarganya nanti.
Entah seperti apa reaksi bibi Ruth ketika mengetahui Kris sudah menghamili seorang wanita.
Bella memutuskan pulang begitu menghabiskan makanannya. Namun, tubuhnya terasa berat dan matanya mulai buram, kepalanya serasa dihantam sesuatu dan ....
Brukk
"NONA/BELLA !"
-
-
-
Clarissa terkejut ketika Jourell tiba-tiba menangis sangat keras. Ia berusaha menenangkan cucunya, namun tidak berhasil. Perasaannya menjadi tidak enak.
"Mungkin dia haus?" ucap salah satu teman arisannya.
"Dia baru saja menghabiskan botol susunya, tidak mungkin haus lagi," bantah yang lainnya.
Clarissa mengabaikan mereka dan terus mencoba menenangkan Jourell. Tidak biasanya bayi ini seperti ini, Jourell bukan anak yang cerewet atau mudah menangis.
Tapi, tanpa ia ketahui, setiap malam Jourell akan bangun dan menangis memanggil ibunya agar menemaninya. Mungkin karena itu ia cukup tenang pagi dan siangnya.
Ia akhirnya menghubungi Bella untuk menanyakan keberadaannya, setaunya Bella sedang keluar dan tidak ada di Mansion. Panggilan pertama tidak terjawab, begitu sampai panggilan ketiga. Mencoba sekali lagi, akhirnya terjawab di deringan ketiga.
"Halo, Bibi. Bella pingsan." Suara Kris panik diujung sana.
__ADS_1
-
-
Alex yang berada di kantor juga merasa gelisah tanpa sebab, perasaannya juga tidak enak. Bean hanya memperhatikan dengan bingung.
"Ada apa, Tuan?"
"Berikan ponselku." Ingin memastikan sendiri kekhawatirannya. Ia ingin menghubungi istrinya yang tadi sempat meminta izin untuk keluar rumah.
Namun sebelum ia menekan nomor Bella, nama ibunya muncul lebih dulu dilayar. Alex langsung mengangkat.
"Cepat pergi, Bella pingsan! Mom dan Baby Jo dalam perjalanan, alamatnya sudah Mom kirim lewat pesan."
Alex langsung bangkit dan melempar ponselnya pada Bean. Asisten itu dengan sigap menangkapnya dengan tercengang. Apa lagi sekarang?
"Cepat Bean!" Bean yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti tuan nya yang sudah berlari lebih dulu.
Sepanjang perjalanan, Alex terus merasa cemas. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak merasa curiga dengan kondisi istrinya pagi tadi yang jelas terlihat berbeda dari biasanya.
Bella yang memang selalu pintar menyembunyikan setiap kondisinya berhasil mengelabui Alex. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah sakit yang diyakini sebagai tempat Bella dirawat.
Bertepatan dengan itu, Clarissa juga sampai sambil menggendong Jourell yang terus menangis. Alex segera mengambil alih putranya dan itu membuat Jourell langsung menghentikan tangisannya.
Sepertinya Jourell juga merasakan keadaan ibunya.
Diluar sudah ada Kris dan Anna yang menunggu.
"Bagaimana keadaannya?" Alex cemas.
"Dokter masih memeriksanya." Kris melihat wajah cemas Alex. Dia juga cemas saat Bella tiba-tiba jatuh. Bagaimanapun dia sudah seperti adik bagi Kris.
Tak lama dokter keluar, mereka segera mendekat. "Bagaimana, Dokter?"
"Nyonya hanya kelelahan, tekanan darahnya menurun tiba-tiba. Pastikan nyonya istirahat dengan baik dan jangan sampai stress."
"Kalian bisa masuk, nyonya sudah bisa pulang hari ini."
"Baik, Thanks dokter," ucap Clarissa.
Anna mengambil alih Jourell agar memudahkan Alex bersama Bella. Alex masuk sendiri, yang lain hanya menunggu diluar. Tidak ingin mengganggu dua sejoli itu.
"Bebe." Alex segera mendekat ketika melihat istrinya hendak turun dari brankar nya.
"Maaf merepotkan mu." Wajah pucatnya terlihat lemah, Alex terenyuh. Istrinya yang selalu kuat kini terlihat sangat lemah. Ia memeluk dan mencium keningnya bersalah.
__ADS_1
"Al?"
"Maaf, seharusnya aku lebih memperhatikanmu," lirih Alex di keningnya.
"Aku baik-baik saja."
"Ya. Kata baik itulah yang selalu menipuku." Bella terdiam.
"Aku tau kau tak ingin merepotkanku. Tapi aku suami mu, Bebe. Selelah apa pun aku, kau dan Jourell adalah prioritas utamaku. Jangan membuatku mati cemas." Bella merasa pipinya basah.
Alex menangis.
Bella meraihnya dan merengkuh wajah tampannya, memberi ciuman di kedua matanya yang sudah basah.
"Maaf," sesal Bella. Dulu dia terbiasa sendiri, tapi sekarang dia punya suami yang akan selalu membantunya.
"KAKAK!"
Brakk
Sofia membuka pintu tanpa mengetuk, di belakangnya ada Elora dan Renata yang juga ikut setelah Seinth menjemput mereka.
"Berisik!" Mereka bertiga langsung menunduk takut, tidak menyangka Alex juga ada disana.
Tentu saja ada! Dia, kan suaminya! rutuk mereka bodoh.
"Sayang," tegur Bella.
"Aku baik-baik saja, dimana yang lain?" katanya tersenyum.
Saat perjalanan tadi Bella samar-samar mendengar Kris memberitahu Clarissa, itu artinya Jourell juga ikut.
"Tidak tahu, saat kami datang tidak ada siapa pun di luar."
"Jourell bersama Anna." Menjawab kekhawatiran Bella.
"Kan sudah kubilang, perhatikan juga dirimu. Kakak pasti kurang tidur semalam." Elora mulai bicara seperti ibu yang memarahi anaknya.
Alex mengerut dan menatap Bella. Benar saja, ada sedikit lingkaran hitam di matanya.
"Bebe, kenapa tidak membangunkanku. Jangan seperti ini, kita lakukan bersama-sama."
"Maaf," katanya lagi. Alex menghela nafas dan memeluk kembali istrinya.
"Jangan ulangi lagi." Bella mengangguk.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...