Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Extra Part 4


__ADS_3

Bella mencengkram erat pinggiran ranjang. Peluh sudah membanjiri tubuhnya yang terasa menyakitkan. Rasanya, tulang-tulang ditubuhnya telah remuk tanpa bersisa.


Bella terus mengejan mengikuti arahan sang dokter, tak peduli seberapa sakit yang dialami. Yang terpenting adalah melahirkan dua buah hatinya dengan selamat.


"Kepalanya sudah terlihat."


Bella kembali mengejan sekuat tenaga, entah kenapa saat ini rasa sakitnya berbeda seperti saat melahirkan putra pertamanya. Seperti ada sesuatu yang berusaha merenggut penglihatannya, nafasnya, dan aliran darahnya.


Apa ini adalah akhir ....


Oek oek


"Selamat, Mrs. Bayi pertama anda laki-laki," ucap dokter tersenyum.


"Tinggal satu lagi, Mrs." Mulai memberi instruksi.


Air matanya mengalir, untuk kedua kalinya ia melahirkan secara normal. Hal yang dulu tidak pernah ia bayangkan. Namun, sepertinya kali ini ia harus benar-benar berjuang sendiri, berbeda saat pertama kali yang ditemani oleh suaminya.


Melihat bayi mungil itu, kebahagiaan tiada tara menyusup masuk kedalam hatinya. Hal yang paling membahagiakan bagi seorang wanita adalah bisa menjadi ibu dan melahirkan anak-anaknya kelak. Memberi cinta dan kasih sayang tanpa batas.


Melahirkan dan punya anak tentu saja adalah impian semua perempuan. Namun, proses melahirkan atau persalinan sendiri bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi perempuan mana pun.


Komplikasi yang terjadi saat persalinan, mungkin akan berbeda dari satu persalinan dan persalinan berikutnya. Tetapi percayalah, segala usaha dan jerih payah mengandung hingga persalinan, akan terbayarkan ketika mendengar Si Kecil yang baru lahir ke dunia mulai menangis.


"Mrs ... anda mendengar saya."


Samar. Bella berusaha mengembalikan kesadarannya.


Sakit, sakit sekali. Tidak! Jangan sekarang. Masih ada satu lagi didalam sana.


Al ... sakit! Aku tidak kuat lagi.


Aku ingin melihatmu dan Joy ....

__ADS_1


"Keadaan bayi sungsang. Lakukan operasi caesar!" perintah dokter pada rekannya.


Bella hanya mampu mendengar samar. Penglihatannya menghitam, rasa sakit itu membuatnya seperti ingin tidur tanpa bangun lagi. Air matanya kembali mengalir deras. Apa ini saatnya? Diiringi dengan matanya yang tertutup.


"Mrs ... Mrs ...."


Lahirlah dengan selamat, maka matipun aku bahagia.


.......


...--- o0o ---...


.......


Bukan hanya keadaan bayi yang sungsang, namun juga keadaan Bella yang kritis akibat dehidrasi berat dan tidak ada tenaga lebih.


Kehamilan kembar adalah kehamilan yang berisiko tinggi. Ibu hamil dengan hamil kembar membutuhkan tingkat pengawasan yang lebih tinggi dan biasanya membutuhkan konsultasi dokter dan USG yang lebih sering.


Pihak keluarga yang mendengarkan tidak bisa untuk tidak merasa cemas. Joy sudah menangis di gendongan sang kakek, takut terjadi sesuatu pada ibunya.


"Kami butuh persetujuan pihak keluarga."


"Lakukan apa saja yang terbaik untuk anak dan cucu kami." James tak kalah cemas. Putrinya yang berharga sedang berjuang melawan maut.


"Baik."


Bella telah dipindahkan ke ruang operasi. Semua orang menunggu diluar dengan cemas, hingga salah satu perawat membawa seorang bayi dari ruang persalinan.


"Mrs. Qiara berhasil melahirkan putra pertamanya." Menyerahkan bayi tampan itu pada kakek neneknya.


Tangis haru terdengar. Bella bahkan masih mencoba untuk melahirkan anaknya meski sudah diambang batas kekuatannya.


Aku hanya ingin putriku baik-baik saja, Tuhan. Biarkan dia kembali pada keluarganya. Hanya satu yang ku minta darimu, hanya itu. Hyuran mengaitkan jari-jemarinya berdoa. Bayangan kehilangan untuk kedua kalinya membuatnya dilanda kecemasan dan rasa takut.

__ADS_1


"Lihat ... ini adikmu, Joy. Kau sudah jadi kakak." Clarissa tersenyum bahagia, meski begitu matanya berkaca-kaca.


"Aku ingin mommy, Grandma." Menggeleng, Joy memeluk erat leher Alfred dan menyembunyikan kepalanya di ceruk lehernya.


"Mommy akan baik-baik saja, Son. Mommy nya Joy kan wanita kuat." Alfred mengelus kepala bocah itu.


"Bagaiman dengan Al? Ia sudah tahu, kan?"


"Hm ... dalam perjalanan."


-


-


-


Alex berlari sepanjang koridor. Air matanya sudah mengalir deras. Ia tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang melihatnya. Saat ini, hanya satu orang yang ada dipikirannya. Bella, istrinya yang sedang kritis, ditambah lagi masih ada satu anaknya bersamanya.


Kumohon ... bertahanlah. Kau harus kuat bersama bayi kecil kita.


"Bagaimana keadaannya?" tanyanya ketika sudah tiba disana.


Betapa kacaunya pria ini. Kemeja yang sudah berantakan, rambut sudah tidak tapi lagi. Sangat jauh dari tuan Marcel yang berkuasa. Sekarang, ia hanya seorang suami yang mencemaskan istrinya


"Dokter masih menanganinya."


"Daddy!" Joy turun dari gendongan kakeknya, berlari kearah ayahnya.


Alex menyambut putranya, mengelus punggungnya agar tenang meski ia sendiri tidak bisa tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hmm☺️...

__ADS_1


__ADS_2