
Sela menatap bingung pada kertas di depannya. Mata dan bibirnya berulang kali mengucap kalimat demi kalimat di dalamnya, seolah itu hanya mimpi dan tidak nyata. Hubungannya dengan Zeeland, Direktur utama dari agensi perfilman itu semakin dekat.
Awalnya Sela risih terutama dengan ucapan dan tatapan tidak suka semua orang. Ada yang menuduhnya sebagai penggoda, mengingat dirinya hanya bagian kecil dari kesempurnaan mereka. Mereka berpikir jika Sela memanfaatkan Zeeland sebagai pria kaya.
Tetapi, Zeeland seakan tahu semuanya. Pria itu membungkam mulut semua orang sehingga tidak ada lagi cibiran atau hinaan. Sela tidak mengerti dengan keadaannya sekarang, kenapa Zeeland begitu melindunginya?
Puncaknya, pria itu menawarkan kontrak kerja sama sebagai pemeran utama dalam film terbaru mereka di Inggris. Zee ingin memberinya kesempatan, membuktikan pada orang-orang jika dia bisa berdiri hingga ke puncak.
Jika dia setuju, maka Zeeland akan memberi kesempatan untuk Sela melakukan casting terlebih dahulu agar tak dipandang sebelah mata dan murni karena usahanya sendiri.
"Kenapa harus aku? Ada banyak orang yang lebih membutuhkannya daripada aku."
"Karena dirimu yang kulihat pertama kali dan kau pantas."
Terus menanyakan hal yang sama, maka jawaban yang sama pula dia dapatkan.
"Masih memikirkannya?" Norin datang dengan segelas teh hangat.
"Aku hanya bingung, Mom. Kami baru seminggu saling mengenal, bagaimana mungkin dia memilihku. Belum lagi aku hanya remahan."
"Mom bisa melihat jika dia pria yang baik. Dia hanya ingin memberimu kesempatan."
"Mom, kau tahu aku hanya—"
"Aku tahu. Dengar Sela ...."
".... sampah sekalipun bisa di daur ulang untuk menjadi baru lagi. Buruk belum tentu selamanya buruk, ada kalanya dia menjadi lebih unggul. Kau tidak ingin seperti itu?"
"Keputusan ada ditanganmu, Honey. Bukankah ini adalah mimpimu? Jadi pikirkan baik-baik." Mengecup kening putrinya dan berlalu keluar.
Sela terdiam, menatap ibunya yang mulai menghilang dari balik pintu.
Tetap saja ini aneh. Aku merasa ada seseorang di belakangku dan mengawasiku. Dan dia juga orang dibalik ini semua.
Sela sering mendapati Zeeland berbicara dengan seseorang di balik telepon. Meski tidak tahu apa yang dibicarakan, namun ada kata 'nona' terselip di setiap panggilannya. Pria terlihat sangat patuh, seakan dia berbicara dengan orang yang lebih tinggi.
Siapa yang kau panggil nona itu? Apakah karena dia kau mengikuti dan melindungiku.
.......
__ADS_1
...--- o0o ---...
.......
Si belahan benua lain, terjadi keributan di meja makan. Alex, pria yang selalu menjaga pola makannya itu tiba-tiba menolak hidangan yang dibuat oleh koki ahli gizi.
"Aku tidak mau itu, Bebe. Mereka bau (hidangan)!" Sedangkan para koki itu sudah menunduk ketakutan. Tuan nya sudah mengkritik hidangan mereka, bukankah artinya ada yang salah?
"Bau? Ini semua makanan kesukaanmu, Sayang. Lihat ini, sangat enak, kan?" bujuk Bella.
Alex kembali menggeleng. "Aku bilang tidak mau ya tidak mau." Alex mendorong piring nya menjauh, tidak tahan dengan bau yang melilit lambungnya.
Jourell menatap ayahnya aneh. Bocah itu belum memakan makanannya, tangannya masih memegang sendok dengan tatapan menuju ayah dan ibunya.
"Daddy seperti anak kecil. Makan saja yang ada, Dad. Tidak bersyukur!" sembur Joy pedas.
Anak itu seperti Alex, tapi mulutnya seperti Bella. Joy mengatakan apa yang ada di kepalanya tanpa peduli respon orang lain. Tersinggung atau tidak? Dia tidak peduli.
Alex mendelik kesal, jika hanya berdua, sudah dibalasnya putra kurang ajar itu (Jika berani). Sayangnya, ada Bella yang akan menjadi tameng Jourell, lalu bocah itu akan mengadu hingga dirinya yang dihukum.
"Lalu kau mau apa?" tanya Bella sabar.
"Kue coklat." jawabnya santai.
"Ingin ku cungkil matamu, heh!" hardiknya pada para maid dan koki, padahal istri dan anaknya juga melakukan hal yang sama.
"Al, ada apa denganmu?" Bella tidak bisa diam sekarang. Suaminya mulai aneh.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin makan apa yang ku mau, apa begitu sulit?" ucapnya lirih, terdengar begitu sedih di telinga mereka.
Jourell menjatuhkan sendoknya, terkejut! Apa Daddy nya kerasukan?
"Mom, ayo kita pergi periksa. Aku jadi merinding," bisik Jourell setelah menarik pelan baju ibunya agar menunduk.
Bibir Bella berkendut, bukan hanya Alex, mungkin dirinya juga sudah ikut gila. "Kita coba saja," jawab Bella berbisik juga.
"Apa yang kalian bisikan!" sentaknya kesal.
Sensitif sekian anda, Tuan muda!
__ADS_1
"Tidak ada, Sayang. Kau mau kue coklat, kan?" Alex mengangguk. "Baik, terserah kau saja." Bella menyetujui.
"Paman, tolong buatkan suamiku kue coklat ya. Maaf merepotkan," pinta Bella sopan.
Para koki menjadi canggung. Nyonya muda mereka sangat baik, bahkan meminta maaf padahal itu memang tugas mereka. Beruntungnya keluarga ini.
"Ini memang tugas kami, Mrs. Kalau begitu kami undur diri." Menunduk sopan, Bella tersenyum.
"Jangan tersenyum!" Wajah Bella langsung datar.
"Tidak kok, hanya refleks," jawabnya asal.
"Lanjutkan makanmu, Boy. Ingin Mom suapi?" Ketika melihat Joy masih menatap aneh pada ayahnya.
Jourell menggeleng. "Tidak, Mom."
**
Pria itu benar-benar makan dengan lahap. Potongan-potongan kue itu terlihat mulai menipis. Tidak tahu kenapa, Alex begitu menyukainya. Padahal, pria itu adalah penolak makanan manis yang berlebihan, apalagi jika di malam hari.
Bella tersenyum seraya bertompang dagu, suaminya terlihat mengemaskan. Baginya, apa saja yang diinginkan anak dan suaminya, jika itu membuat mereka bahagia, Bella akan mencoba menuruti selama itu tidak diluar batas. Wanita itu terlalu perhatian pada keluarga kecilnya, hingga terkadang lupa pada dirinya sendiri.
Di tengah makannya, Alex mulai menyadari jika hanya dirinya yang makan. Jourell sudah selesai sejak awal dan pergi ke kamarnya. Dilihatnya Bella yang tersenyum padanya. Rasa bersalah muncul di hatinya mengingat istrinya itu ternyata belum menyentuh satupun hidangan disana.
Matanya sedikit berkaca-kaca. "Maaf, Bebe. Kau belum makan sejak tadi." Menghentikan makannya.
Bella mengerjap, lalu tersenyum lagi. "Aku akan makan nanti, biar aku menemanimu dulu."
"Kenapa harus nanti? Makanlah sekarang, kita bersama-sama." Mengambil piring kosong di atas meja.
Bella langsung mengambil alih. "Kau bilang tidak suka baunya. Jika aku makan, kau akan terganggu, Sayang. Jadi, makan saja dulu." Mengecup pipi suaminya.
Alex semakin bersalah, istrinya masih mementingkan kenyamanannya padahal wanita itu sama lelahnya setelah bekerja seharian. Dipeluknya istri cantiknya itu, cintanya semakin tumbuh saja setiap harinya.
"Aku mencintaimu," ucap Alex pelan. Bella melebarkan senyum. "Me too," balasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Seperti yang aku kasih tahu ya, Say. Baru UP kalau udah ...? Udah tau dong apa....
__ADS_1
...Semangat terus gaiss, terimakasih buat teman-teman yang mau meluangkan waktunya buat klik tanda👍 dan memberi 💬....
...Bukannya gila like atau komen kalian. Tapi kebanyakan orang lebih tertarik jika melihat Like sama koment nya banyak, kan? Ayo ngaku, pasti ada nih disini yang pernah kek gitu😂...