Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
S2| Kesempatan


__ADS_3

"Aku pulang." Milla membuka pintu sebuah kedai yang tidak terlalu besar, namun juga tidak kecil sehingga dentingan lonceng saling beradu saat pintu dibuka.


Wanita paruh baya tersenyum melihat kedatangannnya. "Pergilah makan. Bibi sudah siapkan makan siangmu."


"Bagaimana hari ini?" tanya Milla.


"Lumayan, cukup membuatku kewalahan," jawab sang bibi.


Bibi Glen adalah wanita yang merawatnya dari kecil. Ibunya sudah meninggal sejak melahirkannya. Satu-satunya keluarga hanyalah bibi Glen. Jika ditanya dimana ayahnya, biar waktu yang menjawab nantinya karena ia tak ingin membahasnya.


Bibi Glen memilih mendirikan sebuah kedai ayam setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan. Awalnya ia seorang karyawan di perusahaan QA, tapi karena hidup seorang diri dan harus mengurus Milla yang masih kecil, bibi Glen memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Untuk saat ini keduanya bersyukur karena belum merasa kekurangan sama sekali.


Milla memeluk bibinya yang sedang memasak dari belakang, menumpukan dagunya di pundak. "Thank you, bibi. Kau adalah malaikat dalam hidupku."


Bibi Glen tersenyum tipis. "Aku yang berterima kasih karena sudah memilihku. Maaf hanya kehidupan seperti ini yang kau dapat dariku."


"Ini lebih baik," jawab Milla. Tidak ada yang salah hidup seperti ini. Milla bersyukur karena masih ada orang yang menyayanginya di sisinya.


"Tidak ada Verdia hari ini?"


"Tidak ada. Ayahnya mengurungnya lagi." Milla terkekeh.


"Jangan ikut campur masalah mereka, Milla. Cukup berteman dengan baik saja." Bibi Glen memperingati.


"Aku tahu."

__ADS_1


Derajat mereka jelas berbeda. Verdia punya kesibukan lain seperti mengurus bisnis keluarganya kelak. Ayahnya sudah mengatur waktu kapan ia harus belajar dan bermain. Begitulah nasib anak tunggal kaya raya.


"Bibi hanya bisa mewarisimu kedai ayam." Keduanya sontak tertawa.


**


Milla menjatuhkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar. Di dinding kamarnya hampir dipenuhi poster seorang wanita. Di atas nakas juga terdapat foto wanita yang sama dengan seorang gadis kecil yang masih sangat polos.


"Aku mengagumi anda sejak kecil dan sekarang aku ikut mengagumi putra anda." Milla bertelungkup menatap foto tersebut. "Dulu. Tapi sekarang aku mencintainya. Apa tidak apa-apa? Anda wanita bijaksana dan rendah hati. Semoga aku beruntung."


Milla berharap jika suatu hari nanti, disaat Jourell bersedia membuka hati untuknya, restu tak akan menghalangi hubungan mereka.


"Jika bukan karena anda, mungkin aku tidak akan bertahan hingga saat ini." Milla tersenyum.


"Aku hanya perlu berjalan hingga lelah, kan! Setelah itu aku akan beristirahat. Entah beristirahat karena berhasil atau ... lelah."


-


-


-


"JOY!"


Again?!

__ADS_1


Laki-laki yang disebut namanya itu berdecak. Kakinya terus berjalan tanpa peduli pada Milla yang berlari mendekat.


"Wow .. pelan-pelan, Girl." Eric memberi jarak pada Milla yang menyusup masuk antara dirinya dan Jourell.


Disisi lain Jourell ada Raymond yang merangkul Chloe agar menahan diri. Gadis itu hampir lepas kendali lagi jika Ray tidak menahannya.


"Lepas!" perintah Joy dingin pada Milla yang mengapit lengannya.


"Tidak mau." Gadis itu memberi senyuman lebar dengan wajah polosnya. Sudah lelah dengan tingkah laku Milla, Joy hampir tidak peduli lagi. Laki-laki itu membiarkan tangannya terus ditahan.


Orang-orang yang melihat hanya bisa menggeleng kepala melihat keberanian Milla yang tidak hanya sekali, tapi berkali-kali! Mungkin gadis itu sudah kebal dengan mulut beracun milik Jourell.


"Kau tidak dengar? Lepaskan Joy!" bentak Chloe tak tahan. Ray masih saja menahannya. Jika tidak, mungkin sudah ia cakar habis wajahnya.


"Chloe ... kau ingin dihukum lagi?" bisik Ray, membuat Chloe menghentakkan kakinya kesal.


"Aku membawa bekal makan siang lagi untukmu. Kumohon cobalah," bujuk Milla. Tangannya masih setia menggaet lengan Joy.


Tidak ada sahutan dari Joy. Eric menghela nafas kasar. "Coba saja kali ini, Joy. Kau tidak kasihan melihatnya?"


Joy melirik sedikit. "Kali ini saja."


"Yeyy!" Milla gembira. Joy memberinya kesempatan. Ray tersenyum tipis melihatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2