
Bocah kecil yang mengikuti ibunya masuk itu terus saja menunduk seraya meremas jari-jari kecilnya. Duduk disamping ibunya, bocah itu dibuat heran akan respon Bella.
Joy pikir, sang ibu akan memarahinya karena nakal, tapi Bella malah menggerutu sendiri dengan ponselnya.
Joy menebak jika suasana hati ibunya memang sedikit kurang baik sebelum mengetahui masalah dirinya. Meski begitu, bocah laki-laki itu tetap diam tanpa bersuara.
"Kemana dua orang itu! Sesibuk apa sampai tidak ada yang menjawab." Bella sudah kesal.
Rupanya, masih memikirkan suami tercintanya itu. Bella tadi sudah menghubungi restoran tempat dia biasa memesan makan siang. Sang kurir mengatakan jika makan siang sudah diantar hingga ke meja Alex sendiri, tapi Alex memintanya untuk meletakkannya di meja dekat pintu kamar.
Sudah jelas jika makanan itu tidak akan tersentuh. Bella tambah kesal, dia pantang dibantah jika sudah menyangkut kesehatan seperti ini. Demi pekerjaan sampai melupakan diri sendiri, awas kau nanti!
Jika saja tidak sibuk, sudah pasti Bella akan datang kesana dan mengamuk layaknya singa sungguhan. Sayangnya, pekerjaannya masih banyak, bahkan Grace mengambil alih untuk menjemput anak-anak.
Masih tidak ada jawaban, Bella meletakkan kasar ponsel pintar itu meja hingga berbunyi. Joy semakin menunduk takut. Daddy nya pasti membuat masalah lagi, sudah tahu ibunya seperti apa, masih saja tidak mendengarkan. Sekarang, justru dialah yang berada paling dekat dengan singa betina ini disaat marah. Sial!
"Sekarang giliran mu, ceritakan padaku." Memutar tubuh menghadap putra kesayangannya.
Joy menghela nafas pelan. "Teman Chloe itu terus saja mengikutiku, aku tidak suka." Nada tak ramah terdengar jelas.
"Hanya mengikuti?"
Joy menggeleng. "Dia mencium pipiku, Mom! Jadi aku berteriak marah dan dia menangis." Tidak ada rasa bersalah di wajah imut itu, yang ada wajahnya semakin kesal.
"Masih untung aku tidak memukulnya," gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh sang ibu.
Bella sempat linglung sejenak mendengar kata ciuman dan kata terpendam yang lain itu, dia ingin tertawa melihat wajah marah yang malah terlihat lucu itu. Siapa gadis pemberani itu kira-kira, Bella jadi penasaran.
Masih masalah serupa, yaitu menyentuh. Bella tidak bisa marah jika seperti ini. Sejak awal, Bella memang sudah memberitahu pihak sekolah agar makhluk berjenis perempuan tidak menyentuh putranya sembarangan karena Joy tidak menyukainya.
Rasa kesalnya pada Alex langsung hilang entah kemana. Sekarang telah digantikan dengan rasa gemas pada duplikat pria itu.
"Manisnya ..." Mencubit kedua pipi kecil itu gemas, Jourell mencebik.
"Nanti Mommy akan bicara lagi dengan gurumu." Joy mengangguk senang.
"Kita makan siang dulu dengan yang lain. Jangan sampai anak-anak Mommy Qiqi." Menggendong Jourell keluar.
...--- o0o ---...
Di kantor, Alex menghembuskan nafas lelah. Waktu sudah menunjukkan hampir jam enam sore. Bekerja seharian membuat tubuhnya kaku, menyentuh makan siang saja tidak. Jika dilihat, jiwa perfeksionis Alex seperti kembali menguasainya. Bekerja, bekerja dan bekerja.
__ADS_1
Mungkin begitu pandangan orang lain, namun berbeda dengan dirinya. Dia bukan gila kerja, hanya saja, dia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya sehingga punya banyak waktu dengan keluarga kecilnya.
Begitupun dengan Bean yang tidak ada hari tanpa sibuk. Namun begitulah dirinya sebagai asisten dari seorang pemimpin besar, harus berani dan bertanggung jawab. Pria itu juga ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya, bukan untuk hari saja, tapi untuk hari berikutnya pula.
Sudah hampir enam tahun menjalin hubungan dengan sang kekasih, Bean berniat melamar kembali Vivi si pujaan hati. Usianya sudah tak lagi muda, dia juga ingin memiliki anak-anak yang lucu seperti yang lainnya.
Alex menutup kasar laptopnya setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya itu. Penampilan sudah tak lagi rapi, lengan kemeja sudah di gulung sebatas siku, dasi sudah melonggar di leher, serta rambut yang sedikit berantakan, begitupun dengan Bean.
Ceklek. Pintu terbuka, menampilkan tiga pria tampan yang seumuran. Penampilan mereka tak kalah berbeda dengan Alex, menandakan jika ketiganya sama sibuknya.
Kris, Leo, Mike menghempaskan kasar tubuh mereka di sofa. Para pria itu sama lelahnya ternyata, jadi membuat janji berkumpul bersama tanpa sepengetahuan Alex.
"Apa yang kalian lakukan?" ketus Alex.
"Kita harus melepas penat, jangan bekerja terus. Sesekali meluangkan waktu untuk bersenang-senang," ucap Leo.
"Bersenang-senang seperti apa maksudmu," tanya Kris.
Leo tersenyum menyeringai. "Ayo pergi minum. Sudah lama kita tidak melakukannya."
"GILA!" sahut mereka semua bersamaan.
"Aku tidak berani, Anna bisa mengamuk nanti." Kris menggeleng.
"Saya juga tak ingin acara lamaranku dengan Vivi batal." Santai Bean menolak.
Leo berdecak. "Bagaimana denganmu, Al?" Menatap Alex yang memejamkan mata di kursinya.
"Jika kau mau dibuat bangkrut oleh istriku, silahkan saja," datarnya malas.
"Oh come on ... kita tidak akan macam-macam, aku juga sudah punya kekasih, tidak mungkin aneh-aneh."
"Memangnya tahu apa kau jika sudah mabuk!" seru Mike kesal.
"Kita aman! Tidak perlu ke club, cukup disini saja. Bagaimana?" usul Leo, menaik turunkan alisnya.
"Cih!" Hanya decihan yang di dapat.
"Ck! Sok menolak kalian semua! Tunggu disini." Leo berlari keluar.
Empat pasang mata itu melirik malas, tidak peduli apa yang dilakukan Leo. Tak lama, pria itu kembali lagi dengan kantung plastik besar.
__ADS_1
"Kau serius!" Kris menegakkan tubuhnya, melihat Leo mulai menyusun botol-botol yang mengandung alkohol itu.
"Gila kau, Leo!"
"Wiskey?"
"Aku juga membawa Wine," tunjuk Leo.
"Gila, gila, gila! Aku jadi tergoda." Mike meneguk kasar salivanya.
"Kita hanya sekedar melepas penat, sungguh. Toh hanya ada kita, kan? Bean juga disini." Leo mencoba membujuk lagi.
"Aku hanya akan minum sedikit," sambar Kris, menuangkan isi botol pada gelas-gelas kosong sahabatnya.
"Ya ya, terserah kau," jengah Leo.
"Ayolah, Al, Bean. Mari bersulang." Mengangkat gelasnya.
"Kalian saja. Tuan muda tidak minum." Bean berusaha melindungi sang tuan dari amukan sang nona.
"Baiklah." Alex bangkit dari kursinya, Bean jadi panik.
"Tuan, bagaimana jika nona marah?"
"Sudahlah, Bean. Hanya minum sedikit, Bella tak akan marah," jawab Leo lagi.
Percuma saja, sekeras apapun Bean mencoba mencegah, hasilnya tetap sama. Sekarang, dia harus mendapat pekerjaan tambahan yaitu mengurus pria-pria ini jika sudah mabuk berat. Bodoh jika percaya kalau mereka hanya akan minum sedikit, nyatanya ini bukan kali pertamanya Bean menyaksikannya.
Bean hanya berharap para wanita dari para pria ini tidak akan menyalahkannya. Toh mereka keras kepala, sudah punya pasangan tapi masih berani minum diam-diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Komen nya cuss. Kita hujat si Leo, sahabat minim akhlak😆...
Tinggalkan :
Komen
Like
Rate
__ADS_1
Vote or Hadiahnya ya😉
@ftdwi04_