
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 103 ( Kalung Ayu )
Saat ini Diki masih berada di kamarnya, dia merasa tak bergairah dan tak memiliki semangat untuk hidup.
Hari ini sidang terakhir perceraiannya dia sudah pasrah mau bagaimana pun menolak sudah dipastikan mereka pasti berpisah.
Salah mulutnya juga yang lantam mengucap kata talak hanya karena emosi. Hari ini sebenarnya dia sudah meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan mengikuti sidang.
Padahal dia berdiam diri di kamar untuk semedi menangisi nasibnya.
Tok tok tok
" Diki, lagi ngapain sih di kamar terus "
Bu Murni masuk ke kamar Diki dia khawatir melihat anak sulungnya berdiam diri di kamar.
" Kamu kenapa sih? " tanyanya lagi
" Amah gak tahu atau pura pura hak tahu sih? "
Bu Murni menautkan alisnya karena bingung " Kamu kenapa sih di tanya malah balik nanya dasar gak ada akhlak "
" Hari ini sidang putusan perceraian ku Mah. Aku malas kesana karena pasti aku berpisah dengan Novia "
" Oh ya baguslah kalau kamu gak kesana. Kamu tuh cengeng ngapain kamu sedih gitu, bolak balik Amah ngomong gak usah kamu nangisin Novia kan sudah ada gantinya si Nuri " ujar Bu Murni sambil menaik turunkan kedua alisnya.
" Ah dia lagi, malas ah Mah. Aku tuh ngerasa ada yang gak beres sama dia tapi gak tahu apa "
" Udah lah kamu banyak omong yang penting kamu sudah jadi duda. Mau ngapain juga bebas. Sekarang sana mandi bantuin adik adikmu buat beberes di toko kan mumpung kamu libur "
" Ya gak bisa gitu Mah "
" Ya bisa aza Ki, kamu laki laki lebay. Bikin malu saja masa gagal move on. Cepet bantuin Robi lagi beres beres di toko buat besok acara pembukaan "
Dengan langkah gontai Diki pergi ke kamar mandi dan bersiap pergi ke toko.
15 menit berlalu Diki sudah menyelesaikan ritual mandinya dia pun sudah terlihat rapih.
" Vi kenapa sih kamu tega minta pisah, padahal aku gak kalah tampan sama si Candra " selesai berpakaian dia mematut diri di depan cermin sambil memuji dirinya sendiri.
" Ah tapi aku gak tahu kamu sama si Candra atau sama si auditor itu sih? Gak jelas Vi mentang mentang mau menjanda kamu udah pilih pilih pengganti aku. sok laku Kamu Vi " lanjutnya.
Bughhh
__ADS_1
Sebuah bantal melayang dari arah belakang Diki " Heh kamu di tungguin dari tadi malah ngomong sendiri, gara gara di tinggal Novia kelakuanmu itu aneh gitu "
Ternyata Bu Murni melempar Diki dengan bantal karena kesal menunggu, setelah di intip dari balik pintu ternyata Diki sedang berbicara sendiri.
" Ih apaan sih Mah kebiasaan lempar lempar barang bikin kaget saja " sahut Diki tak terima dengan lemparan tersebut.
" Kamu juga di tungguin lama banget udah akaran nih kaki Amah nungguin kamu "
Diki melihat ke arah jam dinding di kamarnya " Lebay gak ada setengah jam juga "
" Buruan lah banyak omong kamu, Amah tunggu di teras sekarang "
Setelah itu Bu Murni keluar dan duduk di teras menunggu Diki.
" Eh Bu Murni mau kemana rapih amat? " Euis salah satu tetangganya menyapa.
" Ini Is saya mau ke toko besok kan mau pembukaan kamu kesana ya, di jamin deh kamu pasti puas sama barang barang di toko saya. Terus karena itu pembukaan hari pertama jadi bakalan banyak diskon "
Bu Murni langsung mempromosikan tokonya agar para tetangga tahu dan mau datang untuk berbelanja.
" Oh jadi bener ya Bu Murni mau buka toko, itu beneran punya Ibu? "
" Eh kamu gak percaya sama saya, ngapain saya bohong sama kamu. Nanti kamu tinggal kesana aza buat buktiin " jawab Bu Murni agak terdengar ketus karena kesal di kira bohong.
" Lagian kamu juga gak percaya sama saya, mantu saya kan banyak duit dia kerja di Bank. Soal modal mah gampang " ucap Bu Murni menyombongkan Keenan sambil menjentikan jarinya.
" Lah kalau di Bank berarti dapat minjam dong hahaa " mendengar tawa Euis yang menggelegar beberapa tetangga ikut nimbrung percakapan mereka.
Wajah Bu Murni yang semula tersenyum lebar berubah seketika menjadi pucat " Lah kok tebakannya bener ya " gumamnya dalam hati.
" Eh kenapa pucat gitu Bu Murni santai aza kali "
" Kamu kalau ngomong suka sembarangan jangan ngasal ya " dia tak terima dengan ucapan tetangganya itu.
" Ada apa sih Bu? " Diki sudah keluar menatap heran Ibunya yang terlihat emosi.
" Eehh Diki, gak tahu nih Ibumu nge gas terus mending bawa ke Rumah Sakit buat di cek tensinya habisnya emosian takutnya dia stroke hahaa " ucap Euis sambil tertawa seraya berlalu pergi.
" Sial*n dasar karung beras sembarangan ngomong " umpat Bu Murni sambil teriak ke arah Euis yang terlihat makin menjauh.
" Amah apa apaan sih kayaknya penasaran banget kalau sehari gak ribut sama tetangga "
" Dia yang mulai duluan Amah kan cuma promosi toko aza " belanya.
" Udah udah kalau Amah merepet terus aku batal nganter Amah ya "ancam Diki pada Ibunya.
__ADS_1
" Ya sudah cepat, punya tetangga pada gak jelas "
Bu Murni pergi di bonceng Diki tapi mulutnya tak berhenti mengoceh sepanjang jalan. Setelah Diki ancam di turunkan di jalan barulah dia diam. Diki memperhatikan Ibunya melalui spion dia ingin tertawa melihat wajah Ibunya yang ketat seperti selempak baru.
" Tuh tokonya Ki, cepatan kesana kita bantu bantu " titah Bu Murni pada anak sulungnya.
Diki memarkirkan motornya di trotoar karena posisi tokonya berada di pinggir jalan besar.
Ibunya sudah terlebih dulu masuk ke dalam. Dia berdiri memandangi bangunan tersebut. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu bagus karena merupakan bangunan lama malahan dia lihat di luar dan di dalam sedang ada pegawai yang merenovasi bangunan tersebut dan itu hampir selesai mungkin mengejar waktu.
Setelah berdiri cukup lama dia masuk ke dalam, disana ada adik dan adik iparnya. Ayu dan Robi yang sedang membereskan barang datang.
Namun ada yang menarik perhatian Diki ketika melihat Ayu. Dileher Ayu menggantung kalung yang cukup besar belum cincin yang ada di jarinya.
Cantika datang menghampirinya " Bantuin dong biar cepat beres nih, mana besok pembukaannya "
" Kamu sewa toko ini berapa? "
" 30 juta per tahun " jawab Cantika.
Diki menautkan kedua alisnya " Kamu sewa berapa lama? biaya renovasi dari siapa? "
" Aku sewa setahun dulu karena uangnya buat modal baju sebagian belum perlengkapan lain kayak manequin, hanger, komputer buat kasir, mejanya dan printilan lainnya. Belum lagi biaya renovasi "
" Jadi biaya renovasi kamu yang nanggung? " tanyanya sambil menatap keheranan pada Cantika.
" Iya awalnya aku minta yang punya buat renov tapi mereka ngasih biaya setengahnya. Jadi ya kita bagi dua saja, itu juga karena aku udah ancam Robi "
" Ngancam Robi, emang hubungannya apa sama dia? "
" Kamu banyak nanya mau bantu gak sih? " Cantika mulai kesal karena Diki terlalu banyak bertanya.
" Bukan gitu Tik, aku nanya karena peduli. Aku rasa harga 30 juta itu kemahalan " terangnya pada Cantika.
" Ya waktu itu Robi yang cariin ruko, aku bilang juga sama dia kalau ini kemahalan tapi dia bilang harga segitu udah cukup di kota. Pas Aku cek banyak kerusakan aku minta di renov dulu tapi dia kayak ogah ogahan.
Aku bilang minta nomor ponsel pemiliknya biar aku ngomong sendiri.barulah dia mau renov walaupun di bagi dua "
Mendengar penjelasan Cantika yang panjang lebar Diki manggut manggut sambil tersenyum.
" Ngapain senyum senyum? aneh banget jadi orang "
" Kamu curiga gak sih dengan tingkah si Robi dia kayak gak mau nemuin kamu sama pemilik ruko, terus lihat tuh kalung si Ayu yang gede gitu "
Mendengar ucapan Diki, mata Cantika langsung memicing dan melihat ke arah Ayu kemudian melihat ke arah Robi bergantian. Terakhir dia melihat ke arah Diki dan dadanya langsung terlihat naik turun.
__ADS_1