arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Ayu Jadi Sandera


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 126 ( Ayu Jadi Sandera )


Setelah dirasa urusan selesai semua pamit pulang, Diki bersama Cantika bergegas memasuki mobilnya. Sedangkan Robi langsung menaiki motornya.


Tanpa pamit pada kedua kakaknya dia langsung tancap gas. Setelah sebelumnya dia membuang wajah di hadapan kedua kakaknya.


" Dasar tak tahu malu " pekik Cantika tak peduli teriakannya di dengar Bu Isma yang masih melihat di teras rumahnya.


" A' ayo cepetan kita harus mengejarnya aku tak mau dia sampai rumah duluan nanti dia pasti kabur dan tak mau bertanggung jawab " ujar Cantika terlihat tak sabaran.


" Kamu itu aneh banget, si Ayu pasti di rumah dan si Robi pasti jemput istrinya. Lebih baik kamu hubungi orang rumah untuk menahan mereka berdua "


" Ah kok aku bisa lupa ya hadeuuuhh " Cantika geli sendiri saking paniknya dia lupa segala hal untung saja kakaknya memberinya saran.


Dia langsung mencari kontak ibunya, namun panggilannya tak di angkat.


" Kamu jangan hubungi Amah lebih baik kamu hubungi Ikbal atau Bapak. Kamu kan tahu sendiri Amah sayang banget sama Robi pasti dia banyak nanya ini itu " ucap Diki tanpa melihat ke arah Cantika karena fokus menyetir.


Dalam hati Diki juga khawatir Robi bakal kabur mengingat uang yang diambilnya cukup besar. Apalagi Robi dan Ayu orangnya tak mau rugi.


" Iya A' aku lupa, lagian ponsel Amah suka di pegang Chila dan Ayu nanti dia tahu pembicaraanku. Ini aku sedang hubungi Ikbal "


Tuuttt tuuttt


[ Hallo Teh ]


[ Bal di rumah ada siapa? ]


[ Biasa Teh cuma ada orang rumah di tambah Teh Ayu dan Chila ]


[ Bal teteh mau minta tolong, ini penting banget. Kamu ajak Teh Ayu buat beli apa sajalah terus agak jauh pakai motor. Usahakan dia gak bawa ponselnya dan bawa Chila juga. Pake uangmu dulu, tenang nanti Teteh ganti di lebihin malah ]


[ Emang ada apa sih Teh? ]


[ Udah gak usah banyak nanya, nanti saja Teteh ceritanya. Bilang sama Bapak angkat telepon dari Teteh. Kamu berangkat sekarang jangan pake lama ya. Ajak Teh Ayu jajan yang enak supaya gak nolak. Terus kalau A'Robi telepon nanyain kamu dimana jangan di angkat. Nanti kamu pulang tunggu instruksi Teteh ]


[ Iya iya aman lah, jangan lupa lebihin hehee ]


[ Iya sudah sana ]


Klik sambungan telepon di tutup Cantika kemudian dia menghubungi bapaknya.


" Tik kenapa Ayu malah di jajanin? " Diki keheranan dengan permintaan Cantika pada Ikbal.


" Aku gak yakin Bapak sama Amah bisa nahan Robi, jadi aku suruh Ikbal bawa Ayu keluar. Biar nanti pas Robi sampai dia gak bisa bawa Ayu pulang langsung " jawab Cantika sambil menaik turunkan kedua alisnya.


" Jadi si Ayu kamu jadikan tawanan? pintar juga kamu hehee. Jadi aku tak perlu ngebut ya, lagian aku cape "

__ADS_1


" Iyalah terserah "


Sebelum Cantika telepon ternyata Bapaknya sudah menghubunginya terlebih dahulu.


[ Hallo Pak? disitu ada siapa aku mau bicara tapi jangan sampai ada yang mendengar ]


Pak Imam merasa heran mendengar Cantika seperti terburu buru.


[ Disini cuma ada Amah itu juga lagi di dapur, barusan Ikbal dan Ayu keluar bawa Chila mau jajan katanya. Ada apa? kamu seperti panik gitu ]


[ Iya Pak maaf, aku mau minta tolong kalau Robi datang tolong tahan dulu. Aku sudah bertemu dengan pemilik toko yang kita sewa. Ternyata Robi menaikan harganya dua kali lipat. Dia pasti bakal jemput Ayu untuk pulang, aku takut dia gak mau bertanggung jawab. Makanya Ikbal aku suruh bawa Ayu keluar nunggu aku sampai di rumah ]


[ Ya ampun anak itu ]


[ Pak maafkan Tika ya, Tika janji bakal menyelesaikan semuanya ]


[ Bapak sudah tak bisa bicara lagi Tik ]


[ Maafkan Tika Pak ]


Klik


Sambungan telepon terputus, Cantika terdiam dengan posisi ponsel masih di telinganya.


" Gimana? " tanya Diki.


" Bapak sepertinya shock, maafkan aku ya A' harusnya aku minta pendapat kalian sebelum menggadaikan sertifikatnya. Aku gak nyangka Robi berbuat curang pada keluarganya sendiri hiks hiks " Cantika mulai menangis menyesali keputusannya.


Diki memberikan tisu pada Cantika, dia pun merasa kasihan pada adik perempuannya. Namun segala sesuatunya pasti ada konsekuensinya.


***


Robi sudah sampai di rumah orang tuanya tanpa mengucap salam atau sekedar mengetuk pintu dia langsung menerobos masuk.


Bu Murni yang sedang duduk sampai tersentak kaget " Kamu masuk main selonong aja bikin kaget orang tua "


Robi tak menjawab perkataan ibunya dia malah memindai seluruh ruangan lalu naik ke lantai dua.


Bu Murni sampai kebingungan melihat tingkah anaknya, berbeda dengan suaminya yang diam tak memberi komentar.


" Kenapa sih itu anak, punya masalah apa dia? " gumamnya namun masih terdengar suaminya.


" Mana Ayu?" tanya Robi seperti panik.


" Lagi keluar bareng Ikbal, tadi dia ngajak jajan Chila " jawab Bu Murni.


" Kamu kenapa sih kayak orang panik gitu? "


Bukannya menjawab Robi malah mengabaikan pertanyaan ibunya. Dia membuka ponselnya dan menghubungi istrinya.

__ADS_1


Drttt drrtt drrttt


Semua melihat ke arah tas Ayu yang bergetar.


" Aarrgghhh si*l dia gak bawa HP lagi "


Kemudian dia menghubungi Ikbal, namun nihil tak ada jawaban.


" Aarrghh brengs*k semuanya " teriak Robi.


" Robi kamu kenapa sih di tanya gak jawab, giliran ngomong cuma teriak gak jelas " bentak Bu Murni pada Robi.


" Mereka pasti kerjasama buat bawa Ayu dan Chila. Dasar bocah sudah berani dia sama aku " sepertinya kali ini dia memaki Ikbal adik bungsunya.


" Mah mereka jajan kemana? " Robi bertanya pada Ibunya sambil memegang kedua bahu ibunya.


" A-mah gak tahu, ini ada apa sih? " dengan wajah kebingungan Bu Murni malah balik bertanya.


Kini tatapan Robi beralih pada Bapaknya, tapi dia merasa tak punya harapan dengan melihat wajah datarnya. Apalagi selama ini mereka tak dekat karena sering berseberangan dan tak sejalan.


" Aku mau mencari mereka " ucap Robi sambil berdiri.


" Lebih baik kamu menunggu, mereka pun tak akan lama lagi bakal pulang " ucap Pak Imam


" Aku tak percaya " Robi langsung keluar dan menyalakan motornya dia memilih berkeliling mencari Ayu.


Bu Murni dan Pak imam hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Robi.


Tak lama dari kepergian Robi, Cantika dan Diki datang mereka pun sama langsung masuk.


" Mah mana si Robi? " tanya Cantika.


" Kalian kenapa sih masuk bukannya salam langsung nanyain orang. Tadi si Robi gitu datang datang gak salam gak ketuk pintu langsung masuk nanyain si Ayu " bentak Bu Murni pada Cantika.


Cantika tersenyum malu " Maaf Mah aku terburu buru heheeee. Assalammu alaikum "


" Sekarang Robi nya kemana Mah? " tanya Cantika lagi.


" Bilangnya mau nyari si Ayu "


Mereka berdua langsung berpandangan kemudian duduk bersisian " Tuh kan bener A' dia sampai duluan untung aku gercep "


" Iya, sekarang suruh Ikbal pulang. Bilang jangan sampai bertemu si Robi " titah Diki pada Cantika.


Cantika langsung mengirim pesan pada Ikbal agar segera pulang ke rumah. Pesan pun di terima Ikbal dan langsung mengajak Ayu pulang.


Ayu yang tak mengetahui ada rencana di balik kepergiannya merasa sangat senang mendapat traktiran dari adik iparnya. Perutnya terisi penuh bahkan dia membungkuskan makanan untuk suaminya.


Beruntung Ikbal tak berpapasan dengan Robi yang berkeliling mencari anak istrinya. Dia mencari ke tempat yang biasa mereka kunjungi tapi nihil dia tak menemukan mereka.

__ADS_1


Akhirnya Robi pulang menuju rumah Ibunya kembali dengan perasaan gelisah. Apalagi setelah menelepon Ayu tapi tak ada jawaban sama sekali. Dia sudah mengira Ayu pasti menjadi sandera saudara saudaranya. Mau tak mau dia harus kembali ke rumah dan menyelesaikan semuanya.


__ADS_2