
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov amah
Turun dari mobil aku langsung berjalan menuju rumah tanpa mempedulikan yang lain, masuk kamar dan duduk di sisi ranjang.
Bagaimana bisa warung itu jadi milik Novia. Padahal aku dulu membelinya dengan penuh perjuangan.
Ku beli dari gaji Diki yang kuminta tiap bulan di tambah dengan uang kontrakan rumah yang kupunya. Aku pun sempat menggunakannya dengan membuka warung nasi tapi gak bertahan lama.
Pembeli banyak yang complain katanya aku cerewet dan pelit sehingga mereka berpindah ke warung nasi di ujung jalan.
Enak saja bilang aku pelit dan cerewet, ya wajar lah bahan bahan untuk masak saja kan mahal. Tapi mereka sering minta nambah nambah porsi. Pake banding bandingin aku sama warung ujung jalan.
Belum lagi pegawai banyak yang minta berhenti. Paling lama sebulan kerja langsung minta keluar aku kan jadi kerepotan ngurusin warung sendiri.
Kalau pas Novia libur sih enak, aku selalu memaksa nya untuk membantuku di warung dari pagi sampai warung tutup.
Aku juga kasih dia tugas cuci piring dan peralatan bekas memasak setiap harinya sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja lumayan kan aku gak usah bayar pegawai.
Sebenarnya semenjak Diki menikah uang dapurku pun jadi irit banyak biaya rumah yang ditanggung Novia.
Dulu Novia nurut sekali gak pernah membantahku. Padahal gaji Diki sebagian besar masuk kantongku.
Cuma gara gara uang arisan saja dia marah dan gak mau ikut pulang. Huhh sok jual mahal.
Dengan diambilnya bangunan itu sudah pasti pemasukanku berkurang. Uang sewa yang kudapat setiap bulan akan lenyap.
Padahal uang sewa dari bangunan itu lumayan, setiap bulan bisa kupakai untuk biayaku berkumpul dengan temanku untuk arisan.
Bahkan kalau dikumpul dua atau 3 bulan aku bisa membeli perhiasan untuk menambah koleksiku.
Apa kata tetangga nanti kalau tahu warung itu bukan milikku lagi. Bisa diledek bahkan jadi bahan ghibah tetangga.
Kriieeet
__ADS_1
Suamiku masuk ke kamar dan duduk di sampingku. Aku palingkan muka tak mau melihatnya. Kesal aza ambil keputusan tanpa minta persetujuanku.
" Pokoknya aku gak terima Pak, uang bulanan dari bangunan itu kan lumayan. Bapa sih main kasih kasih aza sama novia.
Gimana omongan tetangga nanti. Belum mulut si Yati susah di rem, kalau dia tau sudah pasti amah bakal jadi bahan gosip satu RT. Bisa jatuh harga diri Amah " aku terus merajuk pada suamiku, gara gara dia aku kehilangan ladang uang.
" Udah lah mah ngapain di bahas terus, daripada kita gak bayar kasian Diki bisa bisa rumah tangga nya hancur. Bapak takut Novia nekad minta bercerai " ah Bapak gak ngerti urusan perempuan. Kalau Novia kan menantu kita, tekan sedikit pasti nurut dan gak akan banyak omong. Nah mulut tetangga gak mungkin ku tutup satu persatu.
" Halah Pak masa iya gara gara duit arisan minta cerai. Lagian kalaupun dia minta cerai ya kasih aza.
Diki kan masih muda, tampan, kerjaan jelas pasti masih banyak yang mau.
Tinggal telepon teman Amah minta dikenalin anak gadisnya pasti Diki dapat gantinya Novia bahkan lebih muda dan cantik. Tenang aza teman amah anak gadisnya cantik cantik " ya aku sudah memikirkan ini dari jauh jauh hari. Kalau Diki cerai justru aku senang, aku bisa mengenalkannya pada anak gadis teman teman arisanku.
" Astagfirullah mah, gak boleh ngomong gitu. Itu sama aza mendo'akan anak kita bercerai dosa mah " dia menegurku.
"ah peduli amat punya menantu susah diatur. Bapak kenapa sih bela terus Novia?" heran dari kemarin ngebela terus perempuan itu, bikin kesal saja.
Tok tok tok
" Apa Yu, udah mau pulang mana Robi nya? " tanyaku pada Ayu.
" Bukan mah aku mau bicara penting sama Amah, tapi jangan disini. Sini ikut Ayu dulu" Ayu berbicara padaku setengah berbisik bahkan dia menempelkan ibu jarinya di mulutnya sembari menarik tanganku menuju dapur.
Mau bicara apa sih si Ayu ini, emang penting ya sampe bisik bisik gitu. Pake narik narik tanganku lagi.
" Mau bicara apa sih kayaknya serius amat " aku kembali bertanya, gak tau apa lagi kesel bawaannya pengen makan orang.
" Ih Amah dari tadi bawaannya sensi mulu, jangan marah marah gitu dong. Sini Ayu kasih tau supaya Amah gak kesal lagi.
Ayu tuh punya cara biar Amah masih bisa ambil untung walaupun warung amah di pasar sudah jadi milik Novia? " maksudnya apa sih si Ayu ini bikin penasaran juga, tapi roman romannya ini ada bau bau uang nih.
" Bicara langsung aza gak usah berbelit belit udah tau Amah lagi kesel " rasanya tambah kesal saja sehingga aku bicara ketus padanya.
" Seingat aku bekas warung nasi itu disewain amah kan sama Bu Ningsih bahkan kulihat jadi toko kelontong, nah karena sekarang sudah jadi milik Novia pasti uang sewa juga bakal jadi milik Novia.
__ADS_1
Sebelum Bu Ningsih tau, mending Amah besok pagi datang ke tempat Bu Ningsih bilang minta uang sewa beberapa bulan atau jadi dikontrak aza satu tahun misalnya.
Uangnya kan lumayan besar, mumpung masih baru peralihan pasti Novia belum datang ke tempat Bu Ningsih buat ngasih tau kalau sekarang sudah jadi milik Novia " keningku langsung berkerut memikirkan apa yang di ucapan Ayu.
Bagus juga sih idenya, aku bisa ambil keuntungan dulu. Tapi kalau ketauan gimana ya.
" Bagus juga ide kamu Yu, tapi kalau ketauan gimana, amah takut Diki marah. Kira kira minta sewa buat berapa bulan ya? " sedikit tertarik juga dengan ide Ayu. Rasanya sah sah saja sebelum Novia datang ke Bu Ningsih.
" Gak akan mah, A'Diki itu nurut sama Amah dijamin gak akan marah. Asalkan amah buru buru datang ke Bu Ningsih tapi jangan bilang kalau sekarang bangunan itu milik Novia nanti Bu Ningsih nolak.
Lagipula Novia kan gak tau soal perjanjian dan lama waktu sewanya. Kalau ketauan bilang aza uang sewa ini udah di ambil sejak lama.
Jadi amah gak ngerasa rugi rugi amat walaupun bangunan itu sudah beralih kepemilikan iya kan? " ucap Ayu sambil mengangkat kedua alis matanya.
Si Ayu otak nya licik juga ya, tapi idenya lumayan juga sih. Apa salahnya ambil untung dulu.
" Ya sudah besok siang aAmah kesana, kalau pagi malu kan baru juga dibuka sudah nagih uang. Semoga aza si Ningsih ada uangnya jadi dia mau bayar sewa untuk beberapa bulan
Kalau hitungan tahun rasanya dia gak akan mau. Biar nanti Amah kasih dia diskon kalau misal dia bayar beberapa bulan pasti dia gak akan nolak " Aku pun mengiyakan ide Ayu ah pintar juga nih anak.
" Tapi amah jangan lupa nanti bagi bagi sama aku, kan idenya dari aku. Buat nambah nambah beli susu Chila hehee " Ayu merayuku sambil bergelendot manja di lenganku.
" Halah kamu tuh kalau urusannya duit paling semangat, ya udah gampang lah itu. Kalau sudah berhasil nanti Amah kasih kamu " gak apalah berbagi rezeki, bener juga apa yang Ayu bilang ini kan ide dia.
" Yu Ayu, ayo kita pulang udah malam kasian Chila di motor kedinginan " itu pasti Robi yang manggil Ayu.
" Tuh suami kamu udah manggil, cepetan pulang " aku mengulurkan tanganku untuk dicium.
" Iya, tapi Amah jangan lupa perjanjian kita ya " ucap Ayu sambil cengar cengir.
" Iya iya sudah sana pulang " kudorong Ayu agar segera pulang.
Semoga besok lancar, aku senyum senyum sendiri mengingat uang yang akan kuterima.
Sekilas kulihat Diki di ruang tamu. Lagi apa si Diki ya kayak orang patah hati gitu, mending aku hampiri saja mumpung belum ngantuk.
__ADS_1