
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov Novia
[ Vi Teteh udah ke warung kelontong sepulang Amah dan Ayu, teteh pura pura mau beli. Pas Teteh korek korek katanya tadi Amah minta uang sewa untuk 6 bulan ke depan. Kalau misal mau nanti yang sewa bakal dikasih diskon. Kayaknya mereka udah mau main curang ]
deg
Baru baca pesan mukaku langsung berubah kecut, mereka cari masalah lagi.
------------------------------------------------
[ Ya sudah teh biar aku aza kesana sepulang kerja, nanti aku kasih tau ke Bu Ningsih sekarang warung punyaku. Makasih ya teh ] send
Kukirim segera balasan untuk Teh Manda.
" Kenapa Neng Via kok mukanya masam gitu " Adrian berkata sambil menggodaku.
Neng Via itulah panggilan khusus untukku dari Adrian semasa kami bersama.
" Isshh kamu tuh berani ya manggil aku gitu, mentang mentang gak ada orang " aku mengkerucutkan bibirku.
" Kamu tuh masih tetep kayak dulu, kalau lagi marah nambah keliatan manisnya " ucap Adrian membuat hatiku berbunga bunga.
" Duh kakang jangan terus menggodaku bisa khilaf aku nanti " aku membatin dalam hati.
" Ada masalah? kalau mau cerita aku mau kok dengerin " lanjut Adrian sambil menatapku.
" Ngapain cerita disini gak profesional banget sekarang kan jam kerja, nanti orang malah curiga " kujawab sambil celingak celinguk liat sekeliling.
" Jadi kamu maunya kita ketemu di luar gitu? ya aku sih ayo gak akan nolak. Justru kalau kamu celingak celinguk gitu orang malah curiga " ujarnya sambil tersenyum miring.
" Ih apaan sih, udah ah. Ada yang mau ditanya gak katanya tadi manggil aku? " ucapku salting.
Melihat itu adrian hanya tersenyum sambil memandangku " Gak ada masalah laporannya sudah ku cek. Atau mau kubikin seperti ada masalah biar kita terus ketemu ".
" Terus aza teruus goda aku, gak liat apa udah salting gini " gumamku dalam hati.
" Ya udah kalau gak ada masalah biar aku kembali ke ruangan, aku banyak kerjaan loh. Kasian temen aku ngerjain sendiri. Kemarin kemarin kan aku ambil cuti " ucapku pada Adrian.
" Iya bentar dong kan udah lama kita gak ngobrol, kemarin aku kan gak kesini karena harus bikin laporan ke pusat. Kemarinnya lagi kamu lagi cuti padahal aku udah berharap kamu yang dampingi aku " dia terlihat sangat berharap
" Iya 2 hari yang lalu aku izin cuti karena ada kepentingan mendadak " aku menjawab canggung, ah entahlah rasanya tak nyaman saja kalau harus duduk berdua seperti ini.
" Kupikir kamu sakit vi, padahal sorenya kan kita ketemu di indomei. Ya sudah lain kali aza kalau kamu ada waktu kita ketemu ya " Adrian menjawab dengan pandangan datar. Sepertinya dia tau kalau aku merasa tidak nyaman.
__ADS_1
" Ok, aku permisi ya balik ke ruanganku " adrian menjawab dengan menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Aku segera keluar menuju ruanganku, di sisi lain aku senang bertemu Adrian. Tapi hati ini berkata kalau ini salah.
Walau baru bertemu kembali, Bukan aku tak faham kalau Adrian mencari kesempatan untuk mendekatiku.
Kalau aku tegur takutnya aku dibilang GR, mungkin saja kan niatnya hanya untuk silaturahmi.
Sampai di ruanganku, aku segera melanjutkan pekerjaanku. Berharap segera bel pulang, sudah tak sabar ingin segera bertemu penyewa warung mertuaku.
Akhirnya bel pulang berbunyi, aku segera menyambar tasku. Tak lupa aku pamit pada Lori.
Tiiin Tiiin
Aku berdiri di pinggir jalan menunggu angkot menuju pasar. Terdengar suara klakson mobil yang kemudian menghampiriku, kutundukan wajahku melihat ke dalam mobil.
Pengendara tersebut membuka kaca mobilnya dan lagi lagi Adrian ada dihadapanku.
" Kemana Vi, mau aku antar? " ah godaan lagi yang datang.
" Ngga makasih " aku memalingkan wajahku melihat ke jalan.
" Mau hujan loh Vi, daripada kehujanan " kulihat kelangit memang sudah mendung. Apa aku ambil aza ya tawaran Adrian.
Seketika Adrian langsung tertawa, kemudian dia keluar dari mobilnya.
" Eh mau kemana katanya mau ngantar " ucapku dalam hati.
Dia berhenti di hadapanku dan membuka kan pintu mobil untukku.
" Silahkan Neng Via" ucapnya seraya membuka pintu mobil.
dug dug dug hatiku meleleh. Suamiku saja tak pernah memperlakukan aku seperti ini.
Aku langsung duduk dengan wajah memerah.
" Mau kemana sekarang Vi? " tanya Adrian.
" Pasar Meranti " jawabku singkat.
Kulirik dengan ujung mataku Adrian tersenyum, sepertinya dia tau kalau hatiku sedang berdendang hahaaa.
Di dalam mobil aku hanya terdiam dan memandang ke arah jalanan, Adrian pun faham dengan kekakuanku. Dan yang terjadi kemudian hanya keheningan.
15 menit perjalanan aku sudah sampai di pasar meranti, aku minta diturunkan di dekat gerbang pasar. Tak kuizinkan Adrian untuk ikut mengantarku.
__ADS_1
Padahal dia memaksa untuk mengantarku dengan alasan khawatir. Aku yakinkan dia kalau tak akan ada masalah karena hanya berniat untuk berkunjung akhirnya dia pun faham dan berlalu pulang.
Buru buru aku menuju warung, alhamdulillah belum tutup.
" Assalammu alaikum, Bu Ningsih " aku menyapa bBu Ningsih yang sedang berada di meja kasir.
" Eh Novia, ini istrinya Diki kan? ada apa Vi? " Bu Ningsih bertanya padaku.
" Iya bu saya istri Diki, gimana bu warungnya rame ?" aku pun sedikit berbasa basi.
" Ya lumayanlah Vi, namanya berdagang adakalanya rame adakalanya sepi. Rezeki sudah ada yang ngatur " ucap Bu Ningsih sambil mengambil bangku untuk aku duduk.
" Begini Bu Ningsih, maaf sebelumnya saya ingin menyampaikan kalau ke depannya uang sewa warung ini tolong diserahkan pada saya. Karena sekarang bangunan ini sudah jadi milik saya " paparku pada Bu Ningsih.
Bu Ningsih terlihat bingung dengan ucapanku " Lah kenapa ini kan milik Bu Murni?"
" Iya benar sebelumnya ini milik mertua saya tapi ada kesepakatan antara kami, sehingga bangunan ini jadi milik saya. Dan kalau Ibu gak percaya saya membawa bukti perjanjian jual belinya " aku kembali meyakinkan Bu Ningsih dengan memperlihatkan foto bukti bukti surat kemarin.
" Maaf bu saya hanya membawa fotonya, karena tidak mungkin saya bepergian membawa surat surat penting " lanjutku karena melihat Bu Ningsih yang kelihatan ragu.
" Duh gimana ya Vi, bukan Ibu gak percaya tapi tadi pagi Bu Murni kesini bareng Ayu menantunya.
Dia meminta sewa untuk 6 bulan ke depan, kalau saya bayar saya akan dapat diskon 20%.
Untuk bulan ini memang mau habis masa sewanya tinggal beberapa hari lagi.
Yang jadi masalah tadi Bu Murni kesini minta dp dulu karena memaksa jadi saya kasih dp 1 juta" ucap Bu Ningsih sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
Halaahh Amah Amah urusan duit emang paling jago, gercep amat.
" Ya sudah gini aza bu, intinya ini milik saya jadi hanya saya yang berhak menerima uang sewanya.
Saya hanya minta iIbu jangan menyerahkan uang lagi pada mertua saya karena itu diluar tanggung jawab saya " dengan tegas kusampaikan agar Bu Ningsih mengerti, karena aku tak mau rugi dua kali.
" Mmmhhh ya sudah kalau gitu, tapi gimana nasib uang saya yang 1 juta kalau diminta balik yang ada Bu Murni yang bakal balik marah pada saya " Bu Ningsih balik bertanya padaku
" Sudah terlanjur dikasih bu, biar saya saja yang ganti atau kalau Ibu masih mau menyewa kurangi saja dari uang sewa yang harus Ibu bayar sekarang " aku memberi solusi pada Bu Ningsih, karena tak tega saja melihatnya.
" Mau Vi, Ibu masih mau nyewa. Disini penghasilan Ibu lumayan. Makasih ya Vi " Bu Ningsih tersenyum sumringah mendengar jawabanku.
" Ya sudah bu kalau gitu saya permisi ya. Ingat pesan saya tadi jangan menyerahkan uang sewa selain pada saya. Sekalipun suami saya yang minta ya bu " aku kembali menegaskan pada Bu Ningsih untuk meyakinkan kalau dia faham.
" Ya Vi, ibu ngerti makasih loh udah mau ganti uang 1 juta nya " ucap Bu Ningsih sambil tersenyum.
Setelah selesai pembicaraan kami, aku langsung pamit pulang, karena sudah sore aku memilih untuk naik Ojol agar lebih cepat sampai.
__ADS_1