
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 98 ( Mencari Karyawan )
Pulang kerja Diki merasa heran karena rumahnya terasa ramai, bahkan teras rumahnya dipenuhi orang yang seperti sedang mengantri.
" Ini ada apa ya kok rame banget, emang ada pembagian sembako ya? " entah mengapa Diki berfikir seperti itu.
Di dekat pintu dia melihat Yati seperti mengatur antrian agar rapih dan tidak berebut. Yuyun bertindak seperti bagian keamanan.
" Punten, punten saya mau lewat ya " ucapnya sambil masuk mengurai antrian.
Dia pun masuk ke dalam rumahnya, dilihatnya Cantika dan Ayu seperti sedang interview karyawan.
" Tik ada apa sih? " tanya Diki keheranan.
Cantika hanya menoleh tak memberi jawaban, dia malah lanjut mengobrol bersama orang di sampingnya.
" Sudah kamu jangan ganggu mereka, kita ini lagi cari karyawan buat toko kita " Bu Murni menarik Diki menuju ruang makan kemudian mereka duduk berdampingan.
" Toko apa Mah? kok aku gak tahu " muka Diki terlihat kebingungan.
" Sudah kamu tahu beres saja lah, sekarang kamu hanya harus fokus sama Nuri. Kamu emang anak berbakti sudah mau ngikutin kemauan Amah.
Dijamin lah kamu gak akan nyesel kalau jalan sama Nuri. Lebih bagus lagi kalau kalian bisa menikah " ucap ibunya sambil menyodorkan sepiring pisang goreng yang terlihat masih mengepul panas.
" Entahlah Mah sebenarnya aku kurang suka sama dia, tapi aku lagi mencoba dekat dulu " tukas Diki.
" Tenang saja nanti dengan berjalannya waktu kalian pasti saling mencintai, sudah biasa itu. Makanya kalian harus sering jalan berduaan biar ada chemistry gitu hehee " Bu Murni berucap sambil terkekeh.
" Halahh Amah sok Inggris an kayak tahu aza artinya " Bu Murni hanya meringis mendengar ucapan Diki.
" Terus kalian dapat modal darimana bisa buka toko, karena modalnya pasti gak sedikit. Kapan tokonya buka Mah? " Diki membrondong ibunya dengan banyak pertanyaan sambil mengunyah pisang goreng.
" Soal modal kamu gak perlu tahu pokoknya ada lah. Nah kalau soal toko ini kita kan lagi persiapan cari karyawan kamu lihat kan banyak orang ngantri. Secara tidak langsung kita sudah membantu perekonomian warga sini " dengan bangga Bu Murni bercerita pada Diki.
" Baguslah kalau begitu, terus tokonya dimana Mah? "
" Itu di depan, sebelah toko kue Sari Enak "
__ADS_1
" Wah hebat ya kalian bisa sewa toko disana pasti duitnya banyak ya kan? " sambil makan pisang goreng buatan ibunya terus saja dia berbicara.
" Mmhhh ya lumayan lah, nanti pas gunting pita kamu bawa Nuri ya. Biar semua tetangga tahu kalau Amah punya calon menantu baru. Iya kan? " Bu Murni mencoba mengalihkan obrolan dia takut Diki mengetahui asal modal toko tersebut.
" Amah belum jawab loh duit modalnya darimana? " Diki mulai tak enak perasaan karena sedari tadi ibunya tak mau menjawab pertanyaannya.
" Kamu kepo banget sih? " Bu Murni mulai ketus menjawab pertanyaan Diki.
Mendengar jawaban Ibunya, Diki tambah curiga. Bukan karena jawabannya yang ketus namun dia merasa ketakutan Ibunya meminjam uang pada Bank atau pada rentenir lebih parahnya pada pinjol.
Diki menghentikan kunyahannya dia langsung menatap Ibunya penuh selidik " Amah gak pinjam uang kan buat modal toko ini? "
Bu Murni mulai salah tingkah " Eng-enggak kok " jawabnya terbata.
" Aku gak mau ya sampai ada masalah kedepannya. Jangan sampai Amah pinjam uang ke Bank, amit amit kalau sampai pinjam ke rentenir atau pinjol " Diki masih menatap tajam Ibunya dia menunggu jawaban yang jujur dari ibunya itu.
" Ngga kok, ini dari Cantika dikasih pinjam suaminya kan banyak duit "
Diki sedikit percaya namun masih ada hal yang mengganjal di hatinya, rasanya tidak mungkin Keenan memberi uang sebanyak itu.
Tidak mungkin juga Cantika menggadaikan rumah atau mobilnya karena masih dalam tahap mencicil.
Untuk saat ini hal itu tidak baik karena banyak orang yang sedang berkumpul, mungkin nanti saja dia akan bertanya kembali bila waktunya tepat.
" Aku hanya gak ingin Amah melakukan hal yang nantinya merugikan kita semua " pisang yang belum habis dimakannya langsung dibuang.
Diki sudah tak berselera, dia memutuskan masuk ke kamarnya untuk beristirahat apalagi malam ini dia sudah berjanji untuk jalan lagi bersama Nuri.
Mendengar perkataan anak sulungnya Bu Murni tertegun, ada rasa takut dan sedikit penyesalan. Dia mulai bingung apakah harus jujur atau tetap sesuai rencana untuk tetap merahasiakannya.
" Mah kenapa? " tiba tiba Cantika sudah ada disampingnya, dia mengambil segelas air minum sepertinya dia kehausan.
" Tik barusan Diki nanya soal uang modal kok ya Amah jadi takut ya " Bu Murni berbisik di telinga Cantika.
" Ah sudahlah gak usah Amah fikirin ini bukan serifikat rumahnya kok, kenapa dia harus marah sih " jawab Cantika sambil berbisik juga.
" Bener juga ya, gimana kamu udah dapat karyawannya? "
" Ih gak ada yang jelas orang yang dibawa sama Yuyun dan Yati. Mana udah tua tua gimana sih? " bisik Cantika di telinga ibunya.
__ADS_1
" Lah terus gimana dong, kalau sampe gak ada yang diambil bisa marah mereka? " Bu Murni mulai terlihat gelisah karena dia tak mau dibuat malu Yati dan Yuyun nantinya.
" Tika gimana ini udah ada yang diterima belum kasihan loh mereka udah pada ngantri mana lama lagi " tiba tiba Yuyun sudah ada dibelakang mereka.
Bu Murni dan Cantika saling berpandangan. Melihat gelagat seperti itu Yuyun mulai menatap tajam mereka.
" Awas ya kalau sampai kalian tak jadi ambil karyawan, saya bilangin sama semua warga kalau kalian PHP " ancam nya.
" Eh jangan dong, kita kan masih pilih pilih. Lagian kamu tuh bawa calon karyawan tuir tuir gimana sih. Kan udah dipesenin pengen yang muda muda " bela Bu Murni.
Yuyun melihat ke arah luar dia oun melihat yang sama ternyata orang yang melamar sudah tua tua.
" Ya sudah mau gimana lagi yang mau cuma mereka, pokoknya saya gak mau tahu dari semua yang datang harus ada yang dipilih jadi karyawan kalau tidak kalian harus nerima resikonya "
Glek
Cantika dan Bu Murni menelan ludah kasar " Ya sudah paling saya ambil 1 laki laki dan 2 perempuan. Daripada enggak sama sekali. Lagian kan salah Teh Yuyun bawa orang gak sesuai kriteria "
" Mmhhh ya sudahlah daripada ngga sama sekali buruan umumin siapa yang terpilih" setelah berfikir sejenak akhirnya Yuyun menerima keputusan Cantika.
Akhirnya mereka mengumumkan tiga orang terpilih walau harus ada sedikit keributan dan sorakan.
" Huhuuu gak jelas ini cuma butuh tiga orang saja sudah kayak mau buka satu pabrik besar "
" Mana antriannya kayak antrian bantuan sembako lagi "
" Iya sampe bela belain ninggalin anak nangis "
" Mending situ nangis lah anak saya lagi sakit "
" Sudah sudah kalian jangan berisik bubar ya " kata Yati berteriak di luar.
" Kamu Yat gak jelas ngasih loker kayak beginian "
" Huhuuu "
Gini giliran Yati yang disorakin.
Akhirnya mereka bisa dibubarkan setelah minta bantuan Pak RT dan Hansip. Bu Murni pun sampai mendapat teguran dari Ketua RT karena mereka membuat kumpulan orang tanpa izin dari RT dan warga.
__ADS_1